Edisi 12-02-2019
IPB Rebranding Sebutan Nama Kampus


BOGOR - Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Arif Satria menjelaskan, upaya rebranding lembaga pendidikan yang dipimpinnya didasari karena hampir semua organisasi di dunia selalu melakukan audit brand atau mengecek kesehatan sebuah brand.

”Brand itu masih oke, enggak. Jadi, kalau brand itu masih sehat akan dipertahan - kan, tapi kalau kurang sehat, itu tentu harus diubah,” kata Arif saat ditemui KORAN SINDOdi kantornya, kemarin. Dalam mengubah sebutan nama kampus agar lebih sehat, pihaknya bekerja sama dengan konsultan ahli brand profesio nal. Mereka melakukan rebranding itu tidak sembarangan. Ini baru sebatas mengubah nama sing kat an saja, belum logo. “Jadi, dalam per ubahan itu, kami melalukan riset yang membutuhkan waktu selama enam bulan dengan meminta tanggapan maha siswa, orang tua, anak SMA, mitra, dan pe merintah. IPB itu seperti apa? Jadi, kami me - nye rap apa pandangan mereka,” katanya.

Dia menambahkan, setelah itu ciricirinya sebenarnya yang diubah pertama kali itu adalah tagline IPB, yakni searching and serving the best atau mencari dan mem berikan yang terbaik. “Setelah 20 tahun, tepatnya sejak 1998, kami evaluasi tagline tersebut, ternyata tidak ada diferen siasinya dibandingkan organisasi lain,” ujarnya. Jadi memang, kata dia, tagline mencari dan memberikan yang terbaik itu sudah menjadi suatu keharusan semua orang sehingga terlalu generik, maka butuh tagline sesuai dengan identitas IPB itu sendiri.

“Nah, hasil survei itu ada suatu ciri yang semua menggam barkan realitas bahwa orang IPB itu, terma suk alum ninya punya dua ciri penting, yaitu pertama integritas di mana orang IPB itu jika mengajar serius dan beretika. Kemudian kedua adalah inovasi, sudah banyak penghargaan yang kami peroleh karena inovasi,” ungkapnya. Karena itu, wajar jika pihaknya kemudian mengubah tagline atau moto dari searching and serving the best menjadi inspiring innovation with integrity . Menurutnya, sejak lama IPB mengalami dualisme terjemahan nama kampus. Dia menyebut, pemilihan kata ‘university’ karena IPB menawarkan program studi lebih banyak dan luas, tidak sekadar aspek pertanian dan kelautan saja.

Arif juga mengatakan, hasil studi eksplo rasi pemangku kepentingan mem berikan masukan bahwa kata ‘pertanian’ di kampus itu telah diartikan sempit oleh calon mahasiswa dan orang tuanya. “Ada beberapa corporate brand yang menempuh strategi ini untuk memberi simplicity dalam pengucapan nya. Tetapi, lebih solid dalam exporsure -nya dan menjelaskan janji brand -nya. Untuk itulah IPB mengubah brand ,” ujarnya. Walaupun terjemahan yang lebih sesuai adalah “Bogor Agricultural Institute”, sudah lama IPB menggunakan terminologi “Bogor Agricultural University” dalam bahasa Inggrisnya.

Alasan mengapa dipilih kata University diawali dengan pemikiran bahwa telah lama IPB menawarkan program studi lebih banyak dan luas, lebih dari aspek pertanian dan kelautan saja. Namun yang berubah dari brand IPB ini adalah jika awalnya “Bogor Agricultural University” terasa lebih panjang dan jika disingkat kurang elok, maka disederhanakan menjadi “IPB University”. “Yang jelas, kegiatan rebranding ini juga melihat kebutuhan baru para future students dan stakeholder lainnya. Slogan lama ‘Searching and Serving the Best’ dirasakan sudah menjadi sebuah keharusan dan kekuatan Institusi,” katanya.

Hasil riset dan diskusi dengan para stakeholder kunci memperoleh sebuah rang kaian kata janji barunya, yaitu “Inspiring Innova tion with Integrity”. ‘Integrity’ merupakan kata sangat sering direkatkan stakeholder ter hadap IPB, baik itu meng gambarkan lulusann ya maupun pengajar dan maha sis wa nya serta seluruh sivitas akademinya. Kata berikutnya, ‘Innovation’ telah lama dibuktikan IPB dengan berbagai penghargaan yang diberikan oleh lembaga di dalam dan di luar negeri, tetapi masih kurang dikomunikasikan dengan baik. Sementara ‘Inspiring’ bermakna mencerahkan dan memberikan ide untuk berbuat sesuatu yang baik.

Menurutnya ada berbagai pen dek atan untuk mengevaluasi kesehatan brand . Ada cara ‘jalan pintas’ vs ‘penelusuran secara saksama’. Oleh karena layanan dalam pendidikan tinggi ini ber si fat jasa yang mempunyai multiple stake holder , maka jalan pintas tidak direko men da sikan. “Pendekatan Ethnography Marketing yang dipilih dalam riset ini me ru pa kan jalan panjang penelusuran untuk memahami konsumen secara holis - tik dari berbagai sudut dan perspektif,” ujarnya. Di tempat terpisah, terkait inovasi, IPB tahun ini melalui Direktorat Inovasi dan Kekayaan Intelektual IPB University menargetkan sekitar 60 inovasi yang didaftarkan ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Direktur Inovasi dan Kekayaan Intelektual IPB Syarifah Iis Aisyah dalam acara Pelatihan Penelusuran dan Penulisan Deskripsi Paten mengatakan, inovasi harus didorong untuk dapat memiliki hak paten. “Terlebih IPB saat ini sudah meng ubah tagline menjadi inspiring innovation with integrity sehingga inovasi harus betul-betul dikelola dengan baik dan fokus,” ucapnya. Menurutnya, melalui pelatihan ini para inventor bisa memiliki pemahaman tentang pelatihan dan kekayaan intelektual (KI), juga dapat deskripsi paten yang betul-betul sempurna.

“Diharapkan selesai pelatihan mereka mempunyai suatu draf proposal yang bisa didaftarkan terutama untuk program dalam waktu dekat, yaitu raih HAKI dan uber HAKI,” katanya.

Haryudi