Edisi 18-02-2019
Sentimen Positif Perang Dagang AS-China Dorong IHSG


JAKARTA– Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan memiliki modal yang cukup untuk mengalami penguatan dalam satu pekan.

Analis BNI Sekuritas Dessy Lapagu mengatakan, market pada pekan ini kemungkinan besar akan didorong akumulasi para investor untuk sektor-sektor yang melemah cukup dalam hingga- 2,05% pada pekan lalu. Namun, be berapa sektor, seperti infrastruktur, per dagangan, dan properti, tercatat cukup bertahan di tengah tren pe le mah an IHSG pada pekan lalu. “Kami melihat investor cenderung akan melakukan akumulasi di sektorsektor yang melemah cukup dalam namun masih memiliki fundamental kuat. IHSG sepekan diprediksi mengala mi penguatan pada rentang 6.330- 6.593,” ujar Dessy di Jakarta, kemarin.

Dia juga melihat sektor konsumsi dan pertambangan dasar berpotensi menguat karena didukung juga nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) ter ha dap rupiah yang diperkirakan kembali menguat. Ini juga menjadi faktor penanda meredanya sentimen negatif dari pasar saham pada pekan ini. Associate Director Research and Investment Pilarmas Investindo Se ku ritas Maximilianus Nico Demus juga mengatakan, IHSG mungkin akan ber po tensi menguat pada pekan ini. Pe nguatan cenderung didukung kabar pembicaraan mengenai perang dagang yang kian kondusif.

Pada pertemuan terakhir di akhir pekan lalu antara de le gasi AS dengan Presiden China Xi Jin ping, kedua pihak sudah m enyam pai kan bahwa ada kemajuan yang baik. “Tentu dukungan Pre sidenAS Do naldTrumpterhadapproses ini akan menambah gairah per da maian per da gangan. Indeks diprediksi berge rak di kisaran 6.380-6.500 yang ber potensi me nguat,” ujar Nico, kemarin. Presiden AS Donald Trump telah me - nyampaikan bahwa akan ada per pan jangan hingga 60 hari terkait ke ma juan yang dialami China dan Amerika Serikat da lam diskusi perang dagang. Terang saja, hal itu mendorong per ge rak an bur - sa Amerika Serikat yang di tu tup dengan warna hijau.

“Tentu hal ini merupakan po tensi yang bisa membalikkan situasi dan kon disi setelah hampir satu minggu indeks kita berwarna merah,” ujarnya. Beberapa sentimen yang akan turut diperhatikan market adalah keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) minutes meeting yang akan dilakukan pekan ini. Kemudian di da - lam negeri juga akan merespons per te - muan bank sentral atau Bank Indonesia (BI). Tentu hal ini akan menjadi tolok ukur yang berpengaruh, khususnya ha - sil FOMC minutes meeting nanti. “Apabila FOMC minutes meeting bersikap dovish, ditambah Bank Indonesia mu lai melunak atas kebijakan mone ternya, tentu pasar saham akan bergejolak untuk naik ke atas. Ini akan menjadi bekal yang baik bagi pekan depan,” ujar nya.

Analisis berbeda datang dari Analis OCBC Sekuritas Liga Maradona yang melihat IHSG akan bergerak turun di kisaran 6.350-6.430. Sentimen negatif menurutnya datang karena market yang masih menanti kejelasan perang dagang AS dan China. “Untuk dari da - lam negeri sepertinya BI rate diprediksi masih tidak berubah,” ujarnya. Sebelumnya, Head of Research Ins ti tusi MNC Sekuritas Thendra Cris nan da dalam Market Outlook 2019 menilai, per gerakan IHSG bakal mencapai level te rendah nya pada November 2019 yang akan tertekan oleh sejumlah sen timen eksternal. Pasalnya, IHSG pada awal ta hun ini telah mencatatkan return agresif.

“Return IHSG pada paruh kedua 2019 akan ne ga - tif, karena return pada awal tahun sudah terlalu agresif, naik 5,4%. Reli kinerja market Indonesiadi perkirakan mencapai puncak pada Juni 2019. Setelah itu, per ge - rakan IHSG cen derung akan tertekan pada sepanjang semester II/2019 nanti,” ujar Thendra be berapa waktu lalu. Thendra juga menilai, koreksi yang terjadi dalam pergerakan IHSG be la ka - ngan ini masih wajar. Pasalnya, ke kuatan IHSG cenderung dibayangi aksi am - bil untung (profit taking ).

Selanjutnya IHSG akan ditopang oleh sentimen politik karena secara historis pergerakan IHSG akan menguat menjelang pe mi - lihan presiden (pilpres). Dia lantas memilih saham-saham di sek tor konsumer(ICBP, GGRM, SIDO, dan HOKI), sektortelekomunikasi(TLKMdan EXCL), dan sektor tambang (INCO dan HBCA) yang bisa dicermati ta hun ini. Sebagai catatan, pada pekan ketiga Februari 2019, data perdagangan ha ri an Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup po - sitif dengan rata-rata frekuensi transaksi harian BEI mengalami pe ning katan sebesar 5,53% menjadi 464.930 kali transaksi dari 440.560 kali transaksi dari penutupan pekan lalu.

Sedangkan un tuk rata-rata nilai transaksi harian BEI juga mengalami peningkatan se be - sar 3,07% menjadi Rp9,16 triliun dari Rp8,88 triliun pada penutupan pekan se belumnya dan untuk rata-rata vo lu me transaksi harian BEI mengalami pe - ningkatan sebesar 3,02% menjadi 14,21 miliar unit saham dari 13,79 mi liar unit saham dari penutupan pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan pada penutupan perdagangan pekan ini mengalami perubahan sebesar 2,03% ke level 6.389,08 dari 6.521,66 pada pe - nutupan pekan sebelumnya.

Pada pe kan ini periode 11-15 Februari 2019 ni lai kapitalisasi bursa juga mengalami perubahan sebesar 1,97% men jadi se be sar Rp7.264,29 triliun dari Rp7.409,89 triliun pada penutupan pekan sebe lum nya.

Hafid fuad