Edisi 18-02-2019
Kenaikan Utang Diprediksi Berlanjut


JAKARTA–Tren kenaikan utang luar negeri (ULN) Indonesia diprediksi akan terus berlanjut sepanjang tahun 2019.

Hal itu karena adanya preferensi investor dan kreditur glo bal masuk ke pasar negara berkembang di te ngah ekonomi negara maju sedang lesu dan The Fed menahan sinyal kenaikan bunga acuan. “Imbal hasil utang luar ne - geri Indonesia khususnya kor - porasi relatif tinggi dalam de - nominasi rupiah berkisar 9- 10%,” kata Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira saat dihubungi di Ja karta, kemarin. Adapun sampai akhir tahun penerbitan ULN swasta dan pe - merintah masih diminati asing.

Menurut dia, momentum ini dimanfaatkan untuk menerbitkan utang secara te - rus menerus oleh pemerintah. Adapun soal kesehatan utang salah satunya bisa dilihat dari rasio debt to services (DSR) yang rata-rata masih berada di atas 24% menunjukkan kinerja utang luar negeri belum ber - kore lasi signifikan terhadap pe nerimaan valuta asing (valas) terutama dari ekspor. Bhima mengungkapkan, efek perang dagang, rebalanc - ing di China, dan rendahnya har ga komoditas perkebunan, menjadi kendala ekspor tahun ini. Jika kinerja ekspor sulit diandalkan, dikhawatirkan DSR akan membengkak dan me nunjukkan tanda-tanda utang kurang produktif.

Hingga Desember 2018 posisi utang luar negeri Indonesia mencapai USD376,8 miliar setara dengan Rp5.329 triliun (asumsi kurs Rp14.143 per dolar AS) atau meningkat sebe - sar USD24,4 miliar diban ding - kan pada Desember 2017. ULN Indo nesia ini terdiri dari ULN swas ta sebesar USD190,6 mi li - ar (50,6% dari total) dan ULN pe merintah dan Bank Indo ne - sia sebesar USD186,2 miliar. Dilihat dari sisi pertum buh - annya, ULN swasta tercatat me - ningkat 10,9% diban ding kan periode sama tahun lalu atau year on year (yoy) cen de rung lebih cepat dibandingkan ULN pemerintah tercatat 3,3% yoy. Ekonom Bank Permata Josua Pardede menuturkan, hal itu didorong oleh pening - katan ekonomi domestik se - hingga mendorong kebutuhan pembiayaan investasi dan eks - pansi bisnis di beberapa sektor ekonomi domestik yang pada akhirnya mendorong pening - kat an pertumbuhan ULN swas ta khususnya korporasi non lembaga keuangan.

Secara umum, kondisi pe - ngelolaan ULN swasta pun relatif prudent, mengingat Bank Indonesia juga sudah me wajib - kan korporasi melakukan tran - saksi hedging dalam memi ti - gasi currency risk dari kenaikan ULN. Tingkat rasio ULN ter ha - dap produk domestik bruto (PDB) juga relatif prudent, yak - ni sekitar 36,2%, cenderung hampir sama dengan rasio ULN ne gara lain di kawasan. Sementara itu, debt service ratio (DSR) tier 1 juga cende - rung menurun trennya dari akhir tahun 2017 tercatat 25,5% menjadi 24,1% pada akhir tahun 2018. Hal tersebut mengindikasikan bahwa rasio pembayaran pokok dan bunga utang jangka panjang serta pem bayaran bunga utang jang - ka pendek terhadap ekspor cen derung menurun.

Josua memaparkan, mes ki - pun tren menurun dan masih da lam range terkendali 20-40%, produktivitas penarikan ULN juga perlu ditingkatkan khu sus - nya dalam mendorong kinerja ekspor sedemikian se hingga rasio DSR tier1 terus pada tren menurun. Namun, kata dia, hal perlu diwaspadai adalah ULN swasta yang ber po tensi jatuh tempo pada tahun ini mencapai sekitar USD59,4 miliar karena di - dominasi swas ta, yakni se besar USD46,3 mi liar. Dari total USD46,3 miliar ULN swasta yang jatuh tempo ta hun ini, korporasi non ke - uang an mencapai USD21,2 miliar dan perbankan mencapai USD20,6 miliar.

“Kondisi likuiditas perbankan perlu di - ke lola dengan baik sedemikian se hingga tidak terjadi crowding out effect dari investasi pada ta - hun ini,” ungkapnya. Dilihat dari sisi produk ti vi - tasnya, mengingat seba gi an be - sar penarikan ULN swasta di tu - jukan untuk ekspansi bis nis dan kegiatan investasi, ma ka ting - kat produktivitas cen de rung op timal sehingga dapat men do - rong pertumbuhan eko nomi. Bank Indonesia (BI) men ca - tat, posisi ULN pemerintah pa - da akhir kuartal IV/2018 ter ca - tat USD183,2 miliar. Di rek tur Ek sekutif Departemen Ko mu - ni kasi BI Agusman me nu tur - kan, peningkatan itu ter uta ma ka rena kenaikan arus ma suk da - na investor asing di pasar Su rat Ber harga Negara (SBN) do mes - tik sejalan dengan per eko no mi - an domestik yang kon du sif dan imbal hasil tetap menarik serta ketidakpastian pasar ke uang an global yang se dikit me re da. Selain itu, peningkatan ter - se but juga dipengaruhi pener - bitan SBN valuta asing dalam pre-funding fiskal tahun 2019.

“Secara tahunan, ULN peme - rin tah pada akhir kuartal IV/ 2018 tumbuh 3,3% (yoy),” ung - kap Agusman. Ke depan, BI dan peme rin - tah terus berkoordinasi me - man tau perkembangan ULN dan mengoptimalkan peran - nya dalam mendukung pem - bia yaan pembangunan dengan meminimalisasi risiko yang bisa mempengaruhi stabilitas per ekonomian.

Kunthi fahmar sandy