Edisi 22-02-2019
Pencemaran Tinggi,Ikan Teluk Jakarta Tak Sehat


BOGOR–Pencemaran dan jumlah toksik di Teluk Jakarta sebagai tempat bermuaranya 13 sungai setiap tahun meningkat tajam.

Hal ini membuat ikan hasil tangkapan di perairan tersebut tidak sehat untuk dikonsumsi. Hal itu diungkapkan Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor Etty Riani dalam konferensi pers pra-orasi ilmiah di IPB Baranangsiang, Jalan Pajajaran, Kota Bogor, kemarin. Me nurutnya, Teluk Jakarta bukan hanya mendapat bahan pen cemar dari darat yang ma - suk melalui sungai, tetapi juga dari kegiatan di perairan berkontribusi atas tingginya ting - kat pencemaran. “Sebagai contoh, kegiatan pelabuhan menyumbang bahan pencemar toksik (zat yang bisa menyebabkan fungsi tubuh menjadi tidak normal) dan non-toksik yang jumlahnya sa - ngat banyak. Bahkan, ak u mulasi logam berat dalam sedimen dan biota khususnya kerang hijau, meningkat sangat tajam,” ka tanya.

Menurutnya, logam berat bisa masuk ke dalam ikan melalui permukaan tubuhnya. Ke - mudian sel chlorid pada insang atau melalui proses makan mema kan (biomagnifikasi) yang se lanjutnya terakumulasi da - lam organ tubuh dan bersifat irreversible atau tak bisa dilepas. “Akumulasi logam berat dan kerusakan organ yang lebih pa - rah terjadi pada ikan barakuda, pepetek, sokang, beloso, dan kerang hijau di Teluk Jakarta. Bahan-bahan toksik itu juga telah mengakibatkan ter ja dinya kecacatan pada sironomid di Waduk Saguling dan kerang hijau Teluk Jakarta,” ujarnya. Kandungan bahan tersebut, kata dia, mengakibatkan ikan tak aman lagi dikonsumsi bebas.

“Mengonsumsi daging ikan dari Teluk Jakarta berpotensi terkena penyakit kanker dan penyakit degeneratif non-kanker,” ungkapnya. Menurut dia, perilaku ma - nu sia sering mengakibatkan per ubahan dramatis pada lingku ngan apalagi di wilayah DKI Ja karta dan Daerah Aliran Su - ngai (DAS) Citarum. “Perlu pengelolaan lin g kungan agar bisa memaksimalkan dampak positif dan mem i ni - mal kan dampak negatif. Terkait hal tersebut, maka opsi perlu pe - ngelolaan terpadu antara su ngai, pesisir, dan laut sebagai kesatuan atau dikenal Integrated River Basin, Coastal and Ocean Management,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Ikan Muara Angke, Diding Setiawan mengakui, kondisi laut Jakarta dipenuhi pencemaran. Hal ini me nye - babkan banyak ikan di Teluk Ja - karta beracun. “Memang benar. Faktanya begitu, banyak limbah nya, banyak sampahnya,” ka tanya. Diding melihat pencemaran yang terjadi di Teluk Jakarta tidak lepas dari limbah pabrik di darat. Limbah itu mengalir dari kali-kali di Jakarta hingga ke arah Teluk Jakarta. Terkait ma - salah ini, dia mengaku tidak bisa berbuat banyak. Sebab banyak nelayan enggan beralih profesi. Alhasil, ikan-ikan yang sudah terkontaminasi limbah tetap dijual nelayan. Kasudin Ketahanan Pangan, Ke lautan, dan Perikanan Ja - karta Utara Rita Nirmala me ng - akui sudah sejak lama kawasan Teluk Jakarta tercemar.

Meski demikian, Rita membantah kon disi itu membuat ikan ter - cemar. Tidak semua ikan di Teluk Jakarta tercemar. Sifat ikan yang mobile membuatnya rentan dari pencemaran ling ku - ngan. “Kecuali kerang hijau ya. Saya nggak memungkiri, ke - rang hijau di sana berbahaya,” ucapnya. Rita mengaku tidak bisa ber - buat banyak. Profesi yang sudah dijalani nelayan selama ber ta - hun-tahun membuat mereka enggan berpindah profesi. “Aneh nya, seusai mencari me - reka enggan memakan sendiri, tapi menjual kepada warga. Karena sifat pencemarannya di atas ambang batas,” tuturnya. Untuk mengatasi pen cemar an ini, kata dia, tindakan te - gas diberikan pada pabrik yang membuang limbah dan sampah di Teluk Jakarta.

Selain itu, pi - haknya juga bertahap me nyosialisasikan pengalihan profesi bagi nelayan. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti me ngatakan saat ini belum ada laporan penyakit kanker yang dise babkan mengonsumsi ikan dari Teluk Jakarta. Kepala Dinas Ketahanan Pa - ng an Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Darjamuni mengaku akan mencari info ter - kait adanya isu penyakit kanker yang disebabkan meng onsumsi ikan di Teluk Jakarta. “Karena yang saya tahu ikan itu dinamis, jadi tidak teraku mu la si polutan kecuali kekerangan karena dia statis dan filter feeder,” tegasnya.

Haryudi/ yan yusuf/ bima setiyadi