Edisi 22-02-2019
Guru di Persimpangan Jalan


SEJATINYA siswa memuliakan peran guru. Sebab di samping sebagai pendidik atau pengajar, guru juga berperan penting sebagai pengganti orang tua di lingkungan sekolah.

Guru tak hanya penyampai ilmu pengetahuan, tetapi juga teladan yang dapat membantu dalam membentuk karakter anak didik. Segala sikap welas asih yang ditunjukkan guru kepada murid di sekolah untuk ke pen ti - ngan masa depan anak di diknya. Sayangnya di zaman kini guru kerap menghadapi situasi dan kondisi yang serba-di le matis. Bukan tanpa alasan, se bagian dari metode guru dalam mendidik murid-muridnya dibe lenggu oleh pasal dan undang-undang yang seketika bisa menjeratnya dengan aneka sanksi dan bahkan bisa berujung di jeruji besi. Hal yang demi kian seperti momok ter sendiri bagi banyak guru di zaman sekarang. Jika melihat pola tingkah laku peserta didik (murid/siswa) di masa kini, tidak jarang sebagian dari mereka terkesan menyepelekan status seorang guru, termasuk gurunya sendiri.

Mereka cenderung hanya melihat guru sebagai identitas dan formalitas semata. Tak he - ran, guru yang semestinya dihormati dan dihargai layaknya orang tua murid sendiri, justru kemudian dijadikan bahan olok-olokan, cemoohan, dan bah kan berujung sampai ke bentuk tindak penganiayaan kepada guru. Penyimpangan yang di lakukan siswa dan remaja be la ka - ngan ini sedikit banyak di penga ruhi oleh keadaan lingku ngan sosial, antara lain aneka ton - tonan yang tidak ber kua litas. Salah satu contoh adalah ta yangan sinetron ala anak-anak SMA yang sering men jejalkan adegan tidak layak, seperti aksi kekerasan (baik verbal maupun fisikal), serta beragam corak tayangan tidak bermanfaat lainnya.
Tontotan tidak layak ini jika dikonsumsi saban hari tentu secara lambat laun akan “merasuk” ke dalam alam ba - wah sadar remaja yang ke mudian membentuk aneka pe ri la - ku menyimpang tadi. Disamping itu, dengan sema kin mudahnya akses infor - ma si yang tidak mengenal batas an umur juga memengaruhi dan bahkan perlahan mem be n - tuk karakteristik pelajar ter sebut. Hal yang tidak patut dibaca maupun dilihat dengan tidak adanya filter diri dan pe na naman nilai-nilai normatif oleh orang tua kepada anaknya juga ambil bagian dalam perubahan tingkah laku siswa yang bersangkutan.

Oleh karena itu, orang tua murid dan guru perlu saling ber - sinergi untuk membentuk anak yang sadar akan tanggung ja - wab dan risiko terhadap per - buatan yang mereka lakukan. Siswa yang sedang menjalani masa tumbuh kembang ini per - lu arahan dan bimbingan oleh dua sosok penting tersebut. Se - hingga mereka tidak lagi me la - kukan kesalahan fatal yang dapat merusak masa depannya sebagai dampak dari apa yang telah dikerjakan. Selain itu, melalui kerja sa ma antara orang tua murid dan guru dengan adanya penanaman nilai- nilai sampai kepada hal yang paling mendasar dapat men jadikan pribadi mereka lebih baik dan sadar terhadap po sisi dan atur an yang berlaku.

Agar miskon sepsi yang selama ini terjadi bahwa guru hanya se bagai formalitas semata dalam mendidik tidak terulang kem bali. Hal yang demikian ten tu nya dapat dilakukan dengan adanya jalinan komunikasi yang lebih emosional antar ke dua belah pihak. Sehingga ke kerasan sis wa terhadap guru tidak terulang lagi.

Hafidh Akbar
Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah FIB. Universitas Andalas Padang

Berita Lainnya...