Edisi 22-02-2019
Memahami Tren Kreativitas Komunikasi Pemasaran


Di saat media se ma kin clutter dengan berbagai iklan yang di tampil kan, bagian pemasaran suatu perusahaan pastinya berusaha keras memanfaatkan media ruang luar, atau alternatif lain dengan cara seunik mungkin, dan ber lomba membuat iklan yang le bih kreatif dari para pesaing.

Tujuannya jelas, agar masyarakat yang kebe tul an melihatnya, lang - sung mem be ri kan per ha ti an dan ingat akan pesan yang di sam pai - kan oleh iklan ter sebut. Kemudian diharapkan men jadi viral, dan word of mouth karena dianggap berani berpikir secara out of the box atau di luar ke biasaan dari orang lain. Pertanyaannya, sampai se jauh mana kreativitas suatu kam panye pemasaran itu bisa diciptakan dan diterapkan agar perusahaan dapat menjadi out standing – paling mu - dah dilihat dan paling dibicarakan?

Selanjutnya apabila krea tivitas tersebut nantinya di ang gap meleceh kan atau me lang gar etika, se - hingga menyebabkan krisis humas yang mengancam, bahkan mencoreng citra perusahaan ataupun individu, bagaimana agar per usa haan yang bersangkutan maupun perusahaan lain mau belajar dari pe ngalaman, lebih berhati-hati, dan lebih peka terhadap masalah sensitif dikemudian hari. Atau bisa saja dengan mengevaluasi pan - duan (gui de lines) dan etika pe ri - laku (codes of conduct) untuk mence gah krisis serupa terjadi lagi dimasa mendatang. Beberapa waktu lalu, publik diramaikan dengan konten Go-Jek di media sosial yang di in dikasikan men dukung LGBT.

Da lam pos tingan tersebut Go-Jek menerima beragam latar belakang karyawan, termasuk LGBT. Tertulis Go-Jek memiliki sekitar 30 lebih karyawan LGBT. Postingan tersebut ke mudian menuai respons negatif dari masyarakat Indonesia. Go-Jek menyatakan sangat meng hargai keberagaman dan percaya bahwa ide serta krea tivitas yang menjadi kunci un tuk me lahirkan inovasi ber man faat bagi ma sya rakat. Sejum lah netizen ke - mu dian me ng u tarakan keke ce - waan me reka pada Go-Jek dengan mem pos ting tulisan bertajuk #uninstallgojek. Namun hal ini belum mem buat Go-Jek lebih peka terhadap kon disi dan situasi di Indonesia.

Baru saja mereka memulai kampa nye diskon be sar, yang de ngan bangga meng klaim te - lah mem ba jak poster pe milu di selu ruh ko ta, de ngan menam pil kan visual seru pa dengan ben tuk seolah-olah kamp anye politik sejum lah tokoh yang sedang ber lomba me raih dukungan ma sya ra kat agar ter pilih men jadi anggota legis latif. Saya tidak bertujuan men je lek - kan salah satu unicorn kebang gaan nasional ini. Namun, di tengah kondisi bangsa Indonesia yang se dang dalam perjalanan menghadapi pesta demokrasi pada April men datang, ma syarakat masih butuh edu kasi lebih lanjut akan pen ting nya de mokrasi, pentingnya me milih ca lon yang tepat dan tidak menjadi golput.

Di tengah upa ya sejumlah tokoh menjaga ke utuhan bangsa menjelang pe milu, berusaha agar di - namika geopolitik tidak sampai menimbulkan perpecahan di antara sesama anak bangsa, Go-Jek justru seolah menganggap re meh pesta demokrasi dengan me nambah ga duh poster-pos ter iklan bertema po litik. Mung kin saya akan diang gap berlebihan, terlalu membe sar kan masalah, tapi saya merasa perlu mengingatkan, hal tersebut bisa saja membuat pre sepsi pes ta de mo krasi yang me nentukan arah masa depan bangsa men jadi seolah tidak penting dan olok-olokan semata. Bahkan bisa meningkatkan sikap apatis masyarakat dalam menyam but momen penting ini.

Sebagian masyarakat Ja karta yang sudah cerdas mung kin tidak akan berpikir kam panye pe - ma sar an tersebut akan berpotensi mem ba wa dampak negatif secara luas, hanya krea - tivitas tim pe masaran saja da lam mencari per ha tian. Na mun ja ngan sampai melupakan go lo ngan masyarakat yang bisa saja terpengaruh oleh iklan ter se but, menyamakan materi kam panye politik dengan ko mersial misalnya. Riding the moment adalah salah satu strategi jitu pema sar an, namun tidak semua momen bisa ditung gangi, dan setiap negara punya kondisi yang ber beda sehingga ja ngan sampai hal ini menjadi blun der karena menyentuh hal sensitif.

Saya sempat berpikir apa mungkin tim kreatifnya terin sp irasi dari kon ten viral di media sosial ya? Di mana sejumlah anak muda mengam pa nyekan pasa ng - an imajiner Nur ha di-Aldo, dising - kat DILDO, dan sempat menjadi perhatian utama. Prinsipnya yang penting viral. Kasus dari salah perkiraan ri - ding the moment yang baru terjadi lainnya adalah tagar #uninstall - bukalapak dan menjadi trending topic atau pem bi caraan nomor satu di Indonesia. Ini di sebabkan oleh salah satu cuitan bos Bukalapak yang menyinggung “presiden baru”.

Meskipun akhirnya pihak Bu kalapak minta maaf kepada pen dukung Presiden Joko Widodo, namun hal ini pastinya sudah mem berikan citra buruk dan kerugian tidak sedikit bagi Bukalapak. Seperti peribahasa di mana bumi dipijak di situ langit di jun jung, suatu organisasi atau per usa - haan harus sensitif terhadap situasi dan kondisi bangsa tempat mereka beroperasi. Ten tunya, tanpa harus mengor ban kan kreati vitas itu sendiri, ataupun berlindung atas nama kreativitas dan bisa berbuat semaunya. Kreativitas lain yang tidak peka terhadap isu sensitif mi sal nya pada iklan Shopee de ngan menggu na kan tokoh pu blik dari negara lain “Blackpink” un tuk menarik perha tian.

Produk e-commerce terse but di boi kot oleh beberapa pihak karena dianggap sebagai tayangan yang kurang mendidik, khu sus nya anak-anak, karena mem per tontonkan sekelompok pe rem puan menge na kan pakaian pas-pasan, dianggap seronok dan jauh dari cerminan nilai Pan casila. Kasus Shopee ke mu dian menjadi viral, bah kan ma salah ini membuat Komisi Pe nyiar an Indonesia (KPI) mengambil keputusan dengan mela yangkan peringatan keras ke - pada 11 stasiun televisi yang menayangkan iklan tersebut. Berbeda dengan kondisi di In - do nesia dengan di luar negeri, misal nya di Amerika, isu ras masih men jadi masalah besar di negara ter sebut. Perusahaan besar seperti Star bucks pernah ter sandung kasus dengan kam panye #RaceTogether.

Niat Star bucks sejatinya baik, ingin perusahaannya me mi - liki tang gung jawab untuk me na - ngani hubungan antarras Amerika dengan cara meng gugah perca kap - an, kasih sayang dan tin da kan di sekitar ras, se men tara mereka me - nunggu kopi di siap kan. Namun apa yang terjadi malah disambut de ngan reaksi negatif, cemoohan dari para wartawan dan para pengguna media sosial. Manajemen atas peru s a haan boleh saja diisi oleh orang asing, yang memang semakin umum kita lihat, mereka mung kin saja mem - ba wa ilmu baru namun kurang mema hami kon disi nasional dan kearif an lokal.

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kita yang me rupak an figur pendukung dalam perusah a an harus mengingatkan atasan kita, menjadi penjaga akhir dari apa yang akan kita kreasikan, pa ling tidak sudah berusaha me ng ingatkan. Ka re na selain dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif, kita juga wajib mencerdaskan se sa ma anak bang sa, bukan hanya me ng ikuti orien tasi dari sebuah bisnis yang sekadar mencari ke untungan sebanyak-banyaknya melalui kampanye pe ma saran yang sukses dan menjadi pembicaraan, atau bahkan hanya prinsip “yang penting viral”.

Romano Bhaktinegara
Jurnalis, PR & Marketing Expert















Berita Lainnya...