Edisi 22-02-2019
Bisa Rusak Skenario Juve


MADRID– Saat Juventus mendatangkan Cristiano Ronaldo (CR7), alasan terbaiknya adalah untuk mendapatkan gelar Liga Champions.

Juve masih dibalut penasaran karena dalam dua final terakhir La Vecchia Signora selalu gagal meraih gelar. Sepanjang kariernya, CR7 sudah mendapatkan lima gelar Liga Champions, sedangkan Juve baru dua trofi. Itu pun sudah berlangsung 23 tahun silam, tepatnya pada 1996.

Selebihnya, mereka lebih banyak mendapatkan predikat runner-up . Bahkan, dibandingkan tim lain, Juve menjadi tim yang paling banyak gagal di partai final. Nah , awalnya, langkah mendatangkan CR7 adalah untuk melepas kutukan sebagai spesialis runner-up .

Sayang, skenario tersebut terancam berantakan. Ambisi Juve mengawinkan gelar Seri A dan Liga Champions memberat seusai kalah 0-2 dari Atletico Madrid pada leg pertama babak 16 besar di Wanda Metropolitano, Kamis (21/2).

Pada leg kedua nanti, mereka harus menang 3-0 agar melaju ke perempat final Liga Champions. Kekalahan itu jelas membuat Juve di bayangi mimpi buruk. Jika gagal membalikkan situasi di leg kedua nanti, praktis satu-satunya harapan Juve meraih gelar hanyalah di Seri A.

Padahal, sebelum ada CR7, musim lalu, Juve berhasil meraih dua gelar Coppa Italia dan Seri A. Sebelumnya mereka sudah kehilangan Coppa Italia karena kalah di perempat final. “Menghadapi Atletico, Anda harus bermain sabar dan menekan mereka ketika ada kesempatan.

Pertandingan berjalan sulit. Kami sulit mengembangkan permainan. Kami bermain buruk di ba bak kedua. Kami seperti tertidur,” kata Pelatih Juve Massimiliano Allegri, dilansir Marca . CR7 yang biasanya menjadi musuh Los Rojiblancos ternyata tidak mampu berbuat banyak.

Pergerakan pemain yang telah mengoleksi lima gelar Liga Champions tersebut benar-benar dibatasi kedisiplinan pertahanan Atletico. Mati kutunya Juve tidak terlepas dari kecerdasan Diego Simeone dalam meracik strategi Atletico.

Dengan skema 4-4-2, Antoine Griezmann bermain lebih ke dalam dan bertugas mengawal Miralem Pjanic. Hasilnya, di babak pertama, Juve hanya mengancam melalui bola-bola mati. Di babak kedua, insting Simeone melakukan pergantian terbukti jitu.

Bersama Griezmann, masuknya Alvaro Morata, Thomas Lemar, dan Angel Correa membuat permainan Atletico semakin agresif. Morata bahkan sempat mencetak gol pada menit ke-69. Namun, gol penyerang asal Spanyol tersebut dianulir. Berdasarkan VAR, Morata dianggap melakukan pelanggaran karena mendorong Giorgio Chiellini.

Semakin lama pertahanan Juve kehilangan konsentrasi sehingga akhirnya kebobolan. Dua gol Atletico disumbangkan dua bek mereka, yakni Jose Gimenez pada menit ke-78 dan Diego Godin (83).

Situasi ini membuat Allegri mencoba meredam suasana. Dia berjanji akan memperbaiki kinerja timnya sehingga mampu menunjukkan performa terbaik di leg kedua. Juve tidak boleh larut karena harus segera mempersiapkan diri melakoni pertandingan Seri A melawan Bologna, Minggu (24/2).

“Atletico sangat kuat. Kami harus lebih cepat dan lebih akurat di leg kedua nanti. Kekalahan ini adalah tanggung jawab seluruh anggota tim. Ini pelajaran yang tidak boleh terulang,“ tandasnya. Di lain pihak, hasil positif di Wanda Metropolitano memperpanjang catatan bagus Atletico memenangkan sembilan laga kandang terakhir di Liga Champions dan hanya kemasukan satu gol.

Tim berjuluk Los Colchoneros tersebut belum terkalahkan dalam 13 laga kandang terakhir di fase knock-out Liga Champions. Hasil ini sekaligus menorehkan rekor spesial bagi Simeone.

Sejak menangani Atletico pada 2011, dia masih belum terkalahkan di per tandingan kompetisi Eropa melawan tim-tim asal Italia (lima menang, dua seri). “Saya sangat senang kepada para pemain.

Mereka mewakili karakter asli Atletico. Saya bahagia, terlepas menang atau kalah, per mainan kami tidak pernah berubah,” ungkap Simeone. Kemenangan leg pertama jelas menjadi modal penting jelang bertandang ke Allianz Stadium, markas Juve, pada leg kedua babak 16 besar, 13 Maret mendatang.

Kendati demikian, Simeone enggan jemawa dan mengindikasikan Atle tico harus terus berkembang agar dapat me langkah lebih jauh di Liga Champions musim ini. Atletico bisa mengalihkan fokus ke Primera Liga dengan tenang.

Los Colchoneros akan menjamu Villarreal, Minggu (24/2). “Kami akan terus membenahi diri dan meningkatkan performa. Tapi, inilah gaya permainan kami, baik dari bentuk dan cara kami,” sebutnya.

alimansyah

Berita Lainnya...