Edisi 14-03-2019
Maju dan Menang lewat Pembangunan Pendidikan


Saat ini kita masuk dalam era yang menuntut bang sabangsa di dunia bersaing secara global.

Disertai perkembangan teknologi yang semakin canggih, dunia kini ma suk ke era revolusi industri, tidak lagi 4.0 sejumlah negara maju bahkan sudah bicara 5.0. Demikian pula Indonesia, terus berusaha menemukan jati dirinya sebagai bangsa yang bebas, cerdas, maju, dan man diri sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Cita-cita kemerdekaan itu adalah tanggung jawab ber sama, dan hanya dapat ter wu jud jika Indonesia menjadi bang sa yang sa - dar potensi dan memiliki manusia yang ung gul, dan pendi dik an harus men jadi modal uta ma. Di tengah ingar-bingar percaturan politik jelang Pemilu 2019 pada 17 April, sedikit sekali terdengar politisi bicara soal pendidikan.

Memberikan perhatian pada pendidikan sekali pun penting, namun tidak “seksi” secara politik elektoral. Pembangunan pendidikan ada lah investasi jangka panjang yang hasilnya tidak dapat terlihat dalam waktu dekat.

Berbeda dengan membangun infrastruktur, yang dalam satu atau dua tahun dapat dilihat wujudnya, sementara pen di - dik an butuh waktu puluhan ta - hun untuk melihat hasilnya. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk membentuk manusia yang me - miliki kecakapan praktis dan dapat memecahkan masalah sehari-hari dengan baik, de - ngan kekuatan spiritual keaga - ma an, pengendalian diri, ke - pri badian, kecerdasan, dan akh lak mulia.

Pendidikan ada - lah fondasi yang berfungsi un - tuk meningkatkan kualitas hi - dup manusia, serta memasti - kan berjalannya roda ekonomi dan sosial. Dengan pendidikan yang baik, ekonomi masyarakat akan meningkat, kesadaran masyarakat terhadap kesehatan juga membaik.

Negara-negara maju memi - liki perhatian terhadap pem - bangunan sektor pendidikan yang sangat besar misalnya soal komitmen politik ang gar an sek - tor pendidikan. Kalau pun ada yang mengatakan APBN ki ta sudah meng alo kasi kan 20% un - tuk pendidikan, fak tanya masih habis untuk membayar gaji dan perbaikan sarana yang rusak, be lum meng arah pada pe ning - katan kualitas.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah angka pengangguran di Indonesia per Agustus 2018 yang men capai 7 juta orang. Ang ka tersebut se tara dengan 5,34% dari jumlah angkatan kerja di Indonesia yang tercatat sebesar 131,01 juta orang.

Ironisnya, penyumbang angka pengang guran pa ling banyak adalah lulusan sekolah mene ngah kejuruan (SMK), atau da lam arti lain ada lah para lulusan yang sudah menyelesaikan jen jang pen didikan menengah atas, 12 ta hun bersekolah. Di luar angka itu, jumlah pengangguran je bol an kampus juga masih tinggi.

Peringkat pendidik an Indonesia harus diakui masih kalah dibanding kan negara-negara di ASEAN, sebut saja Vietnam. Dengan ang garan yang cukup besar Rp416 triliun atau sebesar 20% APBN, ter nya ta be lum mem buat pendi dik an Indo nesia naik peringkat.

Visi - Misi Capres-Cawapres

Jika mengintip visi-misi pasangan calon presiden dan wakil presiden yang berkontestasi di Pilpres 2019, keduanya punya perhatian pada pendidikan. Masalahnya, visi dan misi milik siapa yang lebih implementatif serta di nilai akan membawa perubahan besar.

Dari uraian misi yang disam pai kan pasangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin, pada urutan pertama pa - sangan ini menu lis kan tentang peningkatan kua litas manusia Indonesia, yang salah satunya adalah me ngem bangkan refor - masi sistem pen didikan.

Pasangan nomor urut 01 ini dalam banyak kesem pat an mengata - kan akan mela ku kan pem ba - ngun an sumber daya manusia besar-besaran. Terdengar me - narik, namun bu tuh penja - baran yang konk ret. Sementara pasangan Pra bowo Subianto dan Sandiaga Uno menem pat - kan misi mem b angun masya ra - kat Indo nesia yang cerdas di poin kedua.

Di mana dari puluhan program aksi, beberapa di antaranya membahas masalah pen didik an. Sayangnya, sejumlah misi yang dijabarkan itu terdengar “usang” atau programpro gram yang sudah lama menjadi bagian dari pembangunan pen didikan nasional selama ini misalnya saja soal Wajib Belajar 12 Tahun.

Pembangunan Berbasis Pengetahuan

Jepang adalah negara Asia pertama yang menjadi pelopor pembangunan perekonomian berbasis ilmu pengetahuan, menyusul setelah Jepang ada lah negara-negara Asia Timur seperti Singapura, China, Hong Kong, dan Korea Selatan.

Mereka meng alokasikan ang garan lebih besar untuk pen di dikan da sar dibandingkan level mene - ngah dan tinggi. Setiap negara punya faktor-faktor per be da an budaya, struktur ma sya ra kat, dan sebagainya, ter masuk Indo - nesia, sehingga ti dak sertamer ta semua yang di te rap kan di negara-negara lain itu bisa dicopy paste untuk dite rapkan di Tanah Air, negara ini harus men - transformasi diri nya sendiri.

Strategi Pembangunan Pendidikan

Dibutuhkan strategi yang utuh menuju Indonesia Maju dan Menang dalam persaingan global. Tentu ini bisa dicapai melalui pembangunan pendidikan di antaranya dalam peningkatan pemerataan kesempatan pendidikan. Semua warga negara diberikan akses pendidikan yang sama.

Meski sudah ada KIP, tapi masih ada anak warga marginal yang kesulitan mendapatkan layan an pendidikan karena urusan ad ministrasi kependudukan seperti tidak punya KTP domisili dan akta kelahiran. Layanan pendidikan ju ga termasuk me nye dia kan guru berkualitas un tuk semua sekolah di ma na pun berada sehingga guru-guru berkualitas ti dak hanya bisa ditemu kan di sekolah-sekolah yang berada di kota besar.

Selanjutnya tentang pening kat an relevansi pendidikan dengan pembangunan. Salah satu konsep yang digunakan ada lah link and match antara materi ajar dengan kebutuhan di lapangan. Hal ini un tuk men jawab tingginya angka peng angguran lulusan sekolah.

Salah satu yang men desak ada lah implementasi ke wira - usa ha an pada tingkat pen - didik an menengah dan atas, hingga de ngan sendirinya akan mendo rong para lulusan untuk tidak bersikap pasif dan putus asa saat tidak mampu melan - jut kan pendidikan, tetapi akan terangsang untuk mencari ber - bagai alternatif yang bisa me - reka lakukan.

Strategi berikutnya adalah fokus pada peningkatan kualitas pendidikan. Penerapan strategi ini harus dimulai pada jenjang PAUD, TK, SD, hingga SMA/SMK. Pengelolaan pendidikan sudah tidak berfokus pada aspek kuantitas, namun berfokus pada aspek kualitas.

Profesionalisme Guru

Dalam manajemen pendidikan, guru memiliki peran pen ting dalam menentukan out put pendidikan. Peran sentral itu berkaitan dengan tugas guru mentransfer ilmu pengetahuan, yang memberikan pengaruh pada cara berpikir, bersikap, dan berprilaku peserta didik.

Dengan perkembangan global sekarang ini, tugas dan pekerjaan guru pun semakin berat. Masih banyak guru yang menunjukkan tidak mau mengembangkan diri. Misalnya kurang memahami administrasi sekolah, guru belum memahami bagaimana mengelola kelas dengan baik, guru kurang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran, dan jiwa kewirausahaan guru juga rendah.

Selain soal prilaku guru, hal lain yang juga mendera guru saat ini adalah tentang kesejahteraan mereka. Hal yang mendesak bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah melakukan langkah konk ret dalam meningkatkan kualitas dan kompetensi guru dengan membuat pemetaan standar guru di Indonesia.

Banyak kebijakan dan pro - gram strategis yang dapat di - kembangkan pemerintah un - tuk menjawab tantangan yang berkembang sekarang. Masa - lah pendidikan ini tentu bukan hanya ditujukan kepada ca - pres, cawapres, menteri, tapi ju ga para anggota DPR, caleg, dan stakeholder.

Jangan sampai, semua seolah tertelan masalah politik kekuasaan semata. Mengingatkan kembali bahwa salah satu cita-cita bang sa Indonesia adalah memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, bidang pendidikan memegang peranan penting. Siapa pun capres-cawapres yang terpilih nanti harus mempunyai komitmen yang besar memajukan pendidikan Indonesia.

ADJAT WIRATMA

Jurnalis dan Preaktisi Pendidikan

Berita Lainnya...