Edisi 14-03-2019
Si Kutu Buku Pecinta Keluarga


Menduduki pucuk pimpinan di perusahaan besar bukan perkara mudah seperti membalikkan telapak tangan. Banyak suka dan duka telah dilalui Deputy CEO PT Vale Indonesia Tbk Febriany Eddy untuk bisa meraih semuanya.

Dia datang bukan dari keluarga berada. Masa kecilnya dilalui dengan perjuangan keras untuk bisa mengenyam bangku pendidikan. Jika kebanyakan anak kecil di rumah dilengkapi dengan segala fasilitas, hal ini tidak berlaku bagi Febri, sapaan akrabnya. Dia hanya memiliki buku sebagai teman. Apalagi kala itu dirinya dituntut selalu mendapatkan nilai terbaik agar bisa mengecap pendidikan dengan biaya lebih murah. “Saya adalah seorang kutu buku, karena dituntut untuk selalu mendapat nilai yang baik. Sehingga bisa masuk sekolah terbaik tanpa harus mengandalkan sumbangan atau dana besar karena saya datang dari keluarga yang tidak mampu,” ujarnya.

Diakuinya, masa kecil kebanyakan dihabiskan di rumah untuk belajar dan membantu ibu melakukan pekerjaan rumah tangga. Dia mengaku ikhlas menjalaninya mengingat orang tuanya harus bekerja siang dan malam. “Walaupun masa kecil terbilang susah, saya bersyukur, karena pengalamanpengalaman tersebut telah menempa semangat dan jiwa saya untuk selalu berusaha keras, tidak gampang menyerah,” tuturnya. Febri mengaku apa yang diraihnya hari ini adalah peran besar sosok ibu. Baginya, meski ibunya tidak berpendidikan tinggi namun mempunyai semangat untuk bekerja yang luar biasa.

“Ibu bekerja siang dan malam untuk menanggung sekolah ketiga anaknya. Ibu saya adalah contoh tidak pernah menyerah, selalu berupaya dan bersyukur dalam kondisi apapun. Salah satu trademark saya adalah high determination , hal ini saya dapati dari melihat kegigihan ibu saya,” kenangnya. Febri memiliki moto hidup yang terus dipegang teguh hingga saat ini, yaitu “Selalu melakukan yang terbaik dengan ikhlas dan tulus, dan mensyukuri apapun hasilnya”. “Titik balik saya adalah ketika saya ditugaskan untuk bekerja di Pricewaterhouse Coopers Amsterdam. Pengalaman di Amsterdam membuka wawasan. Saya melihat dan mempunyai pengalaman bekerja serta hidup dalam lingkungan multikultural. Saya diajarkan untuk selalu menghargai perbedaan, dan bagaimana bekerja dengan standar internasional,” ujarnya.

Dalam berkarier, diakuinya sangat menye - nang kan apalagi suami dan keluarga selalu men - dukung serta membuatnya bisa berhasil sampai saat ini. Meski kariernya saat ini sedang memuncak, Febri tak pernah lupa posisinya sebagai istri. Dia senantiasa berusaha menempatkan diri dengan baik dan selalu mengingat bahwa kepala rumah tangga adalah suami sehingga untuk urusan rumah tangga harus selalu menghormati kedudukannya. “Bagi saya membangun hubungan harmonis dalam berkeluarga bukan soal kuantitas, tapi kualitas yang terpenting. Waktu saya di rumah memang berkurang karena pekerjaan, tapi selama di rumah saya mendedikasikan sepenuhnya waktu dan perhatian saya untuk keluarga,” ujarnya.

Febri membagikan tips dalam membangun hubungan rumah tangga, karena dirinya selalu saling mendukung dan menghormati serta penuh pengertian. “Saya bersyukur bahwa saya mempunyai suami dan keluarga yang mendukung. Mereka juga bersyukur dengan pencapaian dalam karier saya. Rasa syukur ini selalu ada di benak kami, yang membuat kami selalu saling mendukung dan menghormati,” katanya.

Suwarny dammar