Edisi 14-03-2019
Lampaui Batas Kesulitan


PEBASKET James Harden jadi sosok yang kontroversial di dunia basket NBA. Banyak orang mengkritik keras gaya bermainnya yang tidak terlalu menghibur. Namun , James Harden sudah berhasil melewati perjalanan hidup yang keras , apalagi dunia NBA. Bagaimana ceritanya?

Nama Compton, California, Amerika Serikat, bukanlah tempat yang ideal untuk membesarkan keluarga. Tinggal di kota itu benar-benar seperti berada di neraka. Setiap harinya pencurian terjadi, narkoba dapat ditemukan di mana-mana dengan mudah, dan tindakan kekerasan sudah tersaji pagipagi bak sarapan. Monja Willis tidak pernah punya pilihan ketika suaminya, James Edward Harden, mengajaknya tinggal di Compton, setelah dia berhenti sebagai marinir. Namun, dia benar-benar merasa kecewa ketika sang suami justru malah terjerumus dalam dunia hitam Compton. Dia hanya terdiam ketika melihat suaminya dicokok oleh kepolisian dan harus mendekam lama di penjara karena jualan narkoba.

Dia hanya bisa menghela napas panjang karena James Edward Harden meninggalkan dirinya sendiri dengan dua anak kecil dan bayi yang tengah dia kandung. “Begitu James Harden lahir, saya memanggil dia nama Lucky (ke - ber untungan). Karena saya melihat dia hadir di tengah banyak kisah sedih yang kami alami,” kenang Monja Willis. Wanita yang sehari-hari bekerja sebagai tenaga lepas di perusahaan telekomunikasi AT&T itu sengaja menamai anak bungsunya dengan nama suaminya. Dia berharap ketidakhadiran sang suami justru akan hadir melalui anak ketiganya. “Seperti apa ayah saya? Saya tidak mengenalnya karena saat saya dilahirkan, dia berada dalam penjara. Sesudahnya dia juga tidak pernah kembali,” ucap James Harden.

Di lingkungan yang keras itulah, Monja Willis membesarkan ketiga anaknya sebaik mungkin. Tidak hanya cukup satu kerja, dia kerap melakukan pekerjaan lain guna memastikan ketiga anaknya cukup makan, cukup pendidikan, dan cukup kasih sayang. Sadar Compton bukanlah tempat yang bagus untuk membesarkan anak, Monja Willis berusaha memastikan ketiga anaknya tidak menghabiskan waktu di luar rumah dalam waktu yang lama. “Terkadang saya merasa bersyukur James mengidap asma sehingga tidak pernah betah berada di luar dalam waktu yang lama,” ucap Monja Willis. Namun, penyakit itu justru yang membuat pria yang lahir pada 26 Agustus 1989 itu kesulitan bermain basket. Sejak kecil, James Harden memang sudah jatuh hati pada basket.

Dari kecil, dia sudah bercita-cita menjadi pebasket NBA. Kecintaan itulah yang membuatnya masuk ke tim basket Artesia High School. Sayang penyakit asma membuatnya tampil biasa-biasa saja sehingga tidak pernah masuk pilihan utama tim basket sekolah itu. Namun, dia selalu percaya suatu saat dia akan mampu mewujudkan mimpinya menjadi pebasket NBA. Sampai suatu hari, begitu terbangun pada pagi hari James Harden langsung bergegas bangun. Dia kemudian menuliskan sebuah permintaan di atas kertas yang kemudian dia tempel di kulkas. “Bangunkan saya tiap hari jam tujuh pagi. Kalau bisa pinjamkan saya uang untuk berlatih. Saya akan jadi bintang.” Begitu tulisannya. Sejak tulisan itu dibuat, James Harden berlatih lebih keras lagi. Setiap bangun jam tujuh pagi, dia langsung bergegas berlari dan latihan basket hingga akhirnya waktu masuk sekolah tiba.

Begitu terus setiap hari tanpa henti. Hasil tidak akan mengkhianati kerja keras. Terbukti latihan tanpa henti yang dilakukan James Harden membuat kemampuannya meningkat tajam. Dia jadi sosok yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Kali ini dia juga memahami bagaimana cara bermain basket yang cocok buatnya. Dia memang tidak seeksplosif James LeBron atau segesit Stephen Curry. Dia tidak sering melakukan slam dunk , alihalih senang melakukan drive dan lay up ke ring basket. Dia juga lihai dalam menembak jarak jauh. Kemampuan inilah yang mengantarkan James Harden jadi sosok yang instrumental bagi Artesia High School. Tidak heran setelahnya berbagai universitas terkenal berlomba-lomba mengincarnya. Pada akhirnya James Harden berlabuh ke Arizona State University.

Bersama Arizona State University, James Harden lebih bersinar lagi. Wajah James Harden bahkan dijadikan sampul majalah Sports Illustrated , di mana ini jadi hal yang sangat jarang terjadi pada pebasket kuliahan. Pada 2009 James Harden akhirnya mampu mewujudkan cita-citanya masuk ke NBA. “Hingga kini, saya masih menyimpan tulisan di kertas itu. Saya tidak akan membuangnya karena dia harus tahu dari mana kerja keras itu berawal,” ucap Monja Willis. Begitu bergabung dengan Oklahoma City Thunder, James Harden langsung sadar bahwa NBA bukanlah tempat yang bersahabat. Dia harus bekerja keras agar bisa jadi pilihan utama. Meski berhasil menunjukkan kemampuan yang prima, James Harden hanya selalu ditempatkan sebagai orang keenam, atau cadangan utama di tim tersebut.

Dia tidak pernah mendapatkan posisi utama di tim yang memang diperkuat oleh nama-nama besar seperti Kevin Durrant dan Russel Westbrook. Meski berhasil membawa Oklahoma City Thunder ke Final NBA 2012, James Harden merasa kecewa dengan klub itu karena tidak memberikan kejelasan kariernya. Namun, kerasnya cobaan ini tidak menghentikan James Harden untuk terus berupaya menjadi yang terbaik. Akhirnya pada 2012 James Harden pindah ke Houston Rockets. Di klub inilah namanya kembali bersinar. Bersama Houston Rockets, James Harden menunjukkan kemampuannya yang luar biasa. Dia seperti senapan mesin yang terus menembakkan peluru dengan cepat.

Dia begitu mudah mencetak poin di atas 25 poin di setiap pertandingan. Baru-baru ini saat Houston Rockets berhasil mengalahkan Miami Heats, James Harden berhasil mencetak angka 50 poin. Atas penampilan impresifnya, Harden menyamai rekor para legendaris NBA seperti Kobe Bryant, Michael Jordan, Rick Barrym, dan Wilt Chamberlain dengan mencetak 50 poin sebanyak enam kali dalam satu musim. Bukan sekali ini James Harden meraih poin di atas rata-rata. Setiap musim dia selalu berhasil mencetak banyak angka dengan gayanya yang kolot. Tidak heran jika dia dikritik habishabisan. Sampai-sampai Kobe Bryant perlu membela James Harden agar tidak memikirkan kritikan tersebut. “Dia terlalu biasa setiap saat sehingga semua orang terlalu lelah membicarakan kelebihannya. Akhirnya mereka mencoba merendahkan apa yang bisa dia lakukan,” ujar Kobe Bryant.

Stephen A Smith, jurnalis olahraga dari ESPN , bahkan mengatakan kon - sistensi yang dilakukan James Harden sulit ditandingi. Sejak 2012 hingga sekarang, rata-rata per pertandingan James Harden mencetak 36 angka. “Persentase poinnya luar biasa. Dari 44% skor yang dia raih, dia cetak 39% dari garis 3 angka. Selain itu persentase free throw juga luar biasa, 85%. Dia bisa mengolah bola basket lewat tangannya dengan cara apa saja. Dia yang terbaik saat ini,” serunya. James Harden enggan menanggapi kritikan yang dialamatkan kepadanya. Bagi dia, cara paling mudah membungkam kritikan memang dengan bermain lebih baik lagi. “Saya ingin bilang ke mereka. Saat ini saya akan jadi Most Valuable Player (MVP) lagi musim ini,” pungkasnya.

Wahyu sibarani