Edisi 14-03-2019
Tevar untuk Penanganan Kardiovaskular


PERKEMBANGAN di bidang medis menghadirkan teknologi canggih untuk menangani segenap penyakit. Penyakit yang sebelumnya memerlukan operasi besar, kini hanya cukup dengan melakukan tindakan minimal invasif dengan risiko yang lebih kecil serta masa pemulihan yang lebih singkat.

Seperti metode yang dilakukan dalam bedah kardiovaskular dengan minimal sayatan yang ditawarkan Tevar (Thoracic Endovascular Aortic Repair ). Tevar dilakukan untuk menangani pasien dengan kondisi aneurisma aorta torakal karena adanya pembesaran atau pelemahan pada aorta bagian atas. Aneurisma aorta ada dua jenis, yaitu aneurisma aorta torakal yang ada di rongga dada dan aneurisma aorta abdomen yang ada di perut. “Kalau aneu - risma aorta torakal, tindakannya disebut Tevar, sedangkan aneurisma aorta abdomen disebut Evar (Endovascular Aneurysm Repair ),” ujar dr Rony M Santoso SpJP, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Rumah Sakit Awal Bros Tangerang.

Dia menambahkan, faktor risiko seseorang dapat terkena aneurisma aorta adalah hipertensi yang tidak terkontrol (punya riwayat hipertensi), nyeri punggung yang luar biasa, kalau jalan atau beraktivitas sering terasa sesak di dada, mudah lelah, dan pada abdomen terkadang perut suka terasa berdenyut. Tindakan TEVAR dinilai sebagai terapi yang cukup bagus. Pasien tidak perlu dioperasi bedah (open repair ), cukup dipasang stent graft ke pembuluh darah jantung (aorta). Stent graft adalah alat penyangga aorta yang melebar, yang dimasukkan menggunakan kateter. Tingkat keberhasilan Tevar mendekati 100% karena sebelum tindakan selalu direcheck dengan MSCT sehingga ukurannya tidak akan meleset. Tindakan Tevar berkisar 1-2 jam, tergantung kasusnya.

Karena Tevar merupakan tindakan minimal invasif, pasien hanya dilakukan sedasi atau bius ringan. Waktu penanganan pun lebih singkat karena tindakan operasi konvensional bisa memakan waktu lebih dari tiga jam. Waktu pemulihan juga lebih cepat. Pascatindakan, pasien sebenarnya cukup minum obat secara teratur dan menjaga pola makan. “Justru tadinya pasien yang tidak bisa olahraga jadi bisa berolahraga ringan dan beraktivitas normal,” kata dr Rony. Penyakit aneurisma aorta ini perlu diwaspadai bila terjadi perdarahan karena bisa mengakibatkan kematian. Metode Tevar sebenarnya sudah ada sejak lama, tetapi tidak banyak rumah sakit di Indonesia yang melakukannya karena fak tor biaya dan sumber daya ma nusia (para dokter) yang belum banyak mengerjakannya.

Jadi, sejauh ini hanya bisa dilakukan rumah sakit yang memiliki pusat layanan jantung terpadu (heart center ) yang besar, seperti di Ru mah Sakit Awal Bros Tangerang.

Sri noviarni