Edisi 15-03-2019
Jaga Keamanan Penumpang Bus Transjakarta


JAKARTA – Kasus penyerangan penumpang di Halte Transjakarta BKN, Cawang, Jakarta Timur, kemarin menimbulkan ketakutan.

Pengguna Transjakarta harus me - ning katkan kewaspadaan saat berada di halte maupun di da - lam bus. Yang perlu didorong, PT Transportasi Jakarta me - nam bah petugas jaga guna me - ningkatkan keamanan dan ke - nyamanan penumpang.

“Tempatkan petugas ke - amanan di lingkungan publik, khususnya di fasilitas Bus Trans jakarta,” ujar pengamat perkotaan Universitas Tri sak - ti Nirwono Joga kemarin. Menurut dia, semestinya penusukan penumpang di hal - te bus tidak terjadi jika petugas siaga.

Jaminan rasa aman perlu dilakukan kepada masyarakat, salah satunya menempatkan petugas dan menyediakan metal detector. Tak hanya fasilitas Trans - jakarta, kondisi Jakarta juga ke rap tidak aman di beberapa ti tik. Banyak lokasi kurang pe - nerangan jalan.

Nirwono kemudian mempertanyakan pemasangan 3.000 kamera pengawas/ CCTV saat masa kepe - mim pinan Gubernur DKI Ja - karta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). “Kasus ini menunjukkan CCTV belum berfungsi mak - simal, perlu dievaluasi,” ucap - nya.

Kasus penyerangan dengan pisau di halte Transjakarta di la - kukan Sudirman, 51, ter ha dap Erick Marbun. Kapolsek Kramat Jati Kom - pol Nurdin Ar Rahman me - nga takan, pelaku nekat me - nusuk Erick karena tidak suka dengan korban yang saat me - nunggu bus menyilangkan ka - ki nya se akan-akan me ng ejek pelaku.

Menurut dia, pelaku memiliki trauma dengan orangorang yang duduk sambil mengangkat atau menyilangkan kaki. “Seakan-akan merasa terhina seketika timbul perasaan seperti itu,” katanya.

Polisi masih memeriksa pe - laku untuk mendalami pe ris - tiwa penusukan. Untuk kor ban saat ini masih menjalani pe ra - watan di Rumah Sakit Su kam - to, Kramat Jati, Jakarta Timur karena mengalami luka tusuk. Menurut Santi, saksi di lo - kasi, saat itu korban tidak se - dang melakukan apa-apa.

Korban sedang duduk kemudian langsung didatangi pelaku. “Jadi orang itu enggak pakai nanya, langsung main tusuk,” ka ta petugas Transjakarta ter - sebut. Aksi penusukan pengguna Transjakarta juga pernah me - nimpa seorang karyawan PT Bo ka Inti yang tengah me nung - gu di Halte Pintu I, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat.

Korban ditikam penja hat. Ponselnya raib dibawa ban dit ja lan - an itu. Korban ber nama Su nar - yo, 26, yang ngekos di kawasan Blok M, Jakarta Se latan, men - derita luka tikam di perut dan langsung dilarikan ke RSAL Mintoharjo. Rentetan teror terhadap Bus Transjakarta sudah terjadi sejak 2011.

Sekitar 20 insiden perusakan terjadi di halte hingga bus. Kejadian yang pa - ling membahayakan adalah pe - nembakan ke arah Trans ja - karta Koridor IX Pluit-Pinang Ranti. Bus berpenumpang itu ditembak orang tak dikenal di Halte Pancoran Barat, Gatot Subroto, Jakarta.

Meski tak ada korban, pe ris - tiwa ini membuat penumpangnya trauma. Polisi harus lebih intensifmenjagafasilitasTrans - jakarta. Selain itu CCTV di lo - kasi-lokasi sasaran juga ha rus ditambah. Kemudian pada 5 Agustus 2012 pelaku menyasar empat halte sekaligus, yakni Halte Tebet BKPM, Halte Cawang Ci - li wung, halte di sekitar Stasiun Cawang, serta Halte Cawang Otista.

Pelaku beraksi tengah malam hingga dini hari dan pada hari libur. Diduga kuat pe - laku menggunakan senapan angin karena saat peristiwa ber langsung, saksi mata tidak men dengar suara letusan la - yak nya senjata api.

Selanjutnya, 16 Agustus 2012, dua halte di Jakarta Selatan rusak akibat lemparan ben - da keras.Halte tersebut adalah Halte Jamsostek, Jalan Gatot Su broto dan Halte Tebet BKPM, Jalan MT Haryono. Kaca de pan loket dan kaca pintu te ngah rusak. Setelah penembakan di hal - te, teror mengarah ke Bus Trans - jakarta.

Bus berisi pe num pang yang sedang ber henti di Halte Pancoran Barat ditembak hingga kacanya retak. Pada 8 Februari 2014 penumpang dan sopir Trans jakarta mendadak mendengar sua ra tembakan tiga kali. Posisi titik tembakan berada di kaca jendela sebelah kiri dan dua lagi di kaca pintu.

yan yusuf/ helmi syarif