Edisi 15-03-2019
Menjemput hingga Memandikan Anak Rimba agar Mau Sekolah


Siang itu Suroto baru saja tiba di Kantor Resort Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Jambi. Percikan lumpur di celana panjangnya tak sempat dibersihkan.

Sedikit bergegas, guru di Sekolah Rimbo Pintar, Air Hitam, ini langsung bergabung dengan sejumlah orang dari perwakilan perusahaan PT Sari Aditya Loka (SAL) 1 dan pihak TNBD serta sejumlah wartawan yang sudah menunggunya. Suroto tak sendiri.

Pria yang kesehariannya mengajar anakanak suku Anak Dalam (SAD) ini ditemani tiga guru lainnya, yakni Harum, Mantep, dan Wawan. Semuanya masih muda-muda, energik, dan terlihat begitu bersemangat. Bayangkan saja, setiap hari mereka harus bolak-balik keluar masuk hutan kawasan TNBD yang memiliki luas 54.000 ha demi untuk mengajar anak rimba.

Dengan mengendarai sepeda motor, para guru dari PT SAL ini menerobos hutan dan medan berbukit dengan waktu tempuh 1-2 jam perjalanan. Tak jarang mereka berjalan kaki jika sepeda motor mereka mogok atau mengalami kerusakan. Hal ini harus mereka lakoni karena mereka tak tega membiarkan siswa didik atau anak-anak SAD menunggu kehadiran mereka di sekolah.

“Mereka pasti menunggu dan menanyakan mengapa kami tak datang. Apalagi kalau kita sudah berjanji, itu pasti mereka tagih,” kata Suroto yang diamini ketiga rekannya. Suroto mengaku, awalnya untuk mengajak anak-anak SAD agar mau bersekolah bukan perkara mudah.

Mereka harus melakukan pendekatan intensif, berinteraksi langsung dengan anak-anak SAD hingga mengikuti aktivitasnya di dalam hutan. Aktivitas belajar-mengajar pun lebih banyak dilakukan seiring aktivitas keseharian anak-anak SAD, yakni lebih pada pendidikan karakter.

Mereka diajar tentang sopan santun, bagaimana menghormati orang lain, terutama orang yang lebih tua, tentang hak dan kewajiban hidup sampai pola hidup sehat dan lain-lain. “Setelah mereka merasa nyaman dan senang dengan kehadiran kita, barulah perlahan kita ajari mereka baca tulis.

Metode belajarnya juga bukan seperti di sekolahsekolah formal. Di sekolah rimba lebih banyak bermain sambil belajar, jadi menyenangkan,” tutur Suroto. Kendati tidak mudah dan butuh perjuangan berat dan kesabaran ekstra, para guru yang insentifnya tiap bulan dibayar PT SAL 1 setara upah minimum regional (UMR) ini mengaku sangat senang menjalaninya.

Bahkan mereka menganggap rintangan yang ada sebagai tantangan. “Ini juga sekaligus menjawab pandangan yang mengatakan suku Anak Dalam adalah orang-orang terbelakang, tak mau sekolah, maunya tinggal di hutan. Itu semua harus terbantahkan.

Suku Anak Dalam ini sama halnya dengan manusia lain pada umumnya yang butuh bersosialisasi serta penghidupan dan pendidikan yang layak,” timpal Wawan. Di tempat terpisah, Thresa Jurenzi, karyawan PT SAL yang juga guru di sekolah informal untuk anak-anak SAD, menceritakan selama 8 tahun mengajar anak-anak SAD, dia sepenuh hati menjalaninya kendati di awalawal mengajar dia sempat seorang diri.

“Tapi saya anggap itu bukan masalah, apalagi tak lama setelahnya ada beberapa orang bergabung. Mereka lalu saya usulkan dengan perusahaan (PT SAL) untuk menjadi guru. Untungnya pihak perusahaan juga setuju saja,” ucapnya.

Menurut wanita berkerudung itu, banyak cerita dan pengalaman seru sekaligus haru dan menyenangkan selama mengajar anak-anak SAD yang dikenal masyarakat sekitar sebagai anak rimba atau suku Kubu.

Bahkan mereka harus menjemput satu per satu anak-anak rimba di dalam hutan untuk diajak ke sekolah. “Mereka kan memang tak mengenal sama sekali apa itu sekolah. Jadinya menggugah kesadaran mereka itu tak mudah. Kita jemput mereka satu-satu di rumahnya.

Yang belum mandi kita mandikan, kita pakaikan seragam sekolah, sampai-sampai yang buang air besar pun kita bersihkan. Sebelum belajar mereka juga kita beri sarapan atau makanan ringan,” kata Thresa.

HENDRI IRAWAN




Berita Lainnya...