Edisi 15-03-2019
Pemilih Harapkan Debat Berkualitas


JAKARTA – Kandidat calon presiden (Capres) dan calon wakil presiden (Cawapres) harus bisa memaksimalkan performa mereka dalam debat pemilihan presiden (Pilpres).

Penampilan yang optimal dipastikan bakal mempengaruhi para pemilih mengambang (undecided voters). Sayangnya dari dua kali debat Pilpres yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), para kandidat masih belum mampu memberikan penampilan meyakinkan.

Padahal ekspektasi publik tergolong tinggi jika dilihat dari antusiasme mereka saat me - nyaksikan debat dari layar kaca. “Tentu ada catatan penting yang kita bisa buat dalam debat pertama maupun kedua. Salah satunya ekspektasi publik ter - hadap debat itu tinggi sekali jika dilihat dari jumlah penonton debat.

Dari berbagai survei me - nunjukkan sekitar 50%-55 % penduduk menonton debat dan hampir semuanya menyaksi - kan sampai terakhir,” ujar Pe - neliti Politik Centre for Stra - tegic and International Studies (CSIS) Arya Fernandez dalam diskusi yang bertajuk “Menakar Efektivitas Debat Capres Dalam Meraih Suara” di Media Center DPR, Kompleks Parlemen Sena - yan, Jakarta, kemarin.

Arya menjelaskan tingginya jumlah pemirsa debat Pilpres ha rusnya berdampak pada pre - ferensi mereka terhadap pa - sang an capres-cawapres. Na - mun pada kenyataannya tidak banyak perubahan pilihan ca - lon pemilih sebelum dan sesu - dah pelaksanaan debat.

Artinya, debat itu tidak mam - pu untuk mempengaruhi pi - lihan masyarakat khususnya, orang-orang yang belum me nen - tukan pilihan, atau orang-orang yang masih ragu-ragu atau bim - bang. “Harusnya, ide al nya tentu bisa menjadi refe ren si utama bagi publik untuk menentukan pilihan sehingga dia betul-betul mantap untuk memilih, apalagi pemilu kita hanya tinggal 30 hari lagi,” jelas nya.

Karena itu, lanjut Arya, dirinya sebagai pemilih dan juga seluruh pemilih Indonesia sangat berharap betul pada kandidat dan tim pemenangan dapat memahami bahwa para pemilih juga punya perhatian dan harapan yang sama pada kualitas debat.

Pemilih juga sudah jenuh dengan waktu kampanye yang panjang, sementara tidak ada inovasi yang kuat dari kedua kubu paslon. Sehingga, debat ini menjadi penting dan kualitas para kandidat sangat ditunggu.

“Orang menunggu se - kali debat ini, kalau debat tidak mampu untuk menghadirkan sesuatu yang baru, orang tentu akan menjadi kecewa dan akan berdampak kepada partisipasi pemilih kita,” ujarnya. Kemudian, lanjut dia, kedua paslon ini masih belum mendapatkan ketidakpastian dalam perolehan suara. Yakni, apa kah paslon 01 masih akan tembus ke angka 60% atau tidak.

Begitu juga paslon 02, apakah dia akan mampu mendekati perolehan suara 01. Untuk itu, di tengah kepastian ini para pemilih menunggu momen debat dan debat ini harus dimanfaatkan oleh kedua kandidat untuk benar-benar mencuri pemilih.

“Kalau kita lihat di debat per - tama dan kedua harusnya itu pe - nantang itu harusnya lebih agre - sif, karena mereka punya banyak peluru untuk menye rang peta - hana. Tetapi, mereka kehilangan momentum untuk meng guna - kan peluru-peluru itu dengan baik, saya tidak tahu apakah pe - luru itu akan disiap kan pada last minute pada de bat keempat dan kelima,” pa par nya.

“Kita tak melihat dengan baik, bagaimana terjadi peng hi - langan gagasan di debat itu, ka - rena orang berdebat tentu ada perdebatan, kita tak melihat ada perdebatan itu. Saya tak tahu apakah karena sungkansung kan itu atau ada faktor lain,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR Koordinator Kesejahtera - an Rakyat (Korkesra) Fahri Ham zah berharap bahwa debat ini berlangsung secara intens dan alamiah. Karena, debat ini pada dasarnya melebihi kewe - nangan DPR dalam hak berta - nya, yang harus memenuhi ba - nyak variabel untuk men d a - tang kan presiden ke DPR.

Tapi da lam debat, pertanyaan apa - pun bisa dilontarkan kelada pre siden yang merupakan kan - di dat capres, dan sebagai kan - didat tentu saja harus men ja - wab. “Karenanya dari berbagai latar itu, begitu dia berdebat, kita ingin perdebatannya itu ter jadi secara natural dan secara intens,” kata Fahri di kesem pat - an sama.

Karena itu, Fahri meminta agar Komisi Pemilihan Umum (KPU) ini jangan meng asum si - kan debat seperti lomba cerdas cermat di mana pertanyaannya sudah disiapkan. Jadi di situ, ada reduksi terhadap keinginan rakyat untuk mengetahui apa yang ada di dalam kepalanya kandidat bukan kepalanya KPU atau panelis-panelisnya atau juga di dalam kepalanya para te - naga ahli dan staf staf yang di - angkat oleh calon.

“Seharusnya Debat ini adalah ajang bagi rak - yat untuk mengetahui apa yang ada di dalam pikiran kandidat, itu menurut saya agak direduksi oleh KPU. Lalu kita kritik sete - lah debat pertama dikurangi, akhirnya tidak di bocorkan soal tetap dibuat oleh panelis tapi tidak dibocorkan.

Saya nggak akan mempersoalkan bahwa kita juga bisa ragu, apakah betul itu tidak bocor,” ujar Fahri. Dengan demikian, Fahri meng usulkan agar tidak perlu lagi ada pembuatan soal. Sehingga, pada debat ketiga nanti, biarlah kandidat itu bertanya dari hulu sampai hilir persoalan terkait tema debat.

kiswondari







Berita Lainnya...