Edisi 15-03-2019
Debat Capres dan Plus-Minusnya


Tak dapat disangkal bahwa kita sudah mampu mengimplementasikan prosedur demokrasi yang benar.

Bila partisipasi dan kon - testasi dijadikan rujukannya, kita sudah sangat layak untuk disebut sebagai negara de - mo krasi terbesar ketiga di dunia, setelah India dan Amerika Serikat. Proses transformasi po - litik tersebut sekaligus me - nolak anggapan Indonesianis yang meragukan suk sesi ke pe mim pin an Indo ne sia dapat dilakukan secara gradual dan damai.

Ha nya dalam waktu yang re latif cepat sejak awal re formasi politik dilakukan pada 1998, arah de mo kratisasi kita makin jelas dan terlembagakan. Salah satu landmark dari proses transformasi politik itu adalah pemilihan pre si - den dan pemilihan wakil presiden (selanjutnya disebut pilpres) se cara lang sung.

Di dalamnya, terkait pula prosesi yang se be lumnya tak pernah dilakukan di sini, yakni debat capres. Bila prak tik debat capres di Ame rika Serikat menjadi ukuran nya, apalagi yang belum di te rapkan di sini. Walau sua sa nanya tidak persis seperti di negara asalnya, na - mun kita sudah berhasil “me - ngadu” ga gas an antara calon pemimpin di depan publik dan disiarkan secara langsung oleh media massa nasional ke se - luruh pen juru Tanah Air.

Hasilnya, memang belum optimal. Namun, jika debat ter - sebut dijadikan ukuran un tuk memperkenalkan capres dan cawapres pada calon pemi lih - nya, tak dapat dipungkiri bah - wa tujuan itu sudah tercapai. Sadar akan ke le mahan di satu pihak dan harapan per baikan, di pi hak lain, Ko misi Pemilihan Umum (KPU) senantiasa membuka diri terhadap usul per - baik annya.

Mulai dari format, konten, waktu, moderator dan panelis debat sampai evalua si - nya, semuanya dinilai secara kri tis bersama tim sukses pa - sangan calon presiden. Di era pilpres yang dilaksanakan se - ca ra serempak dengan pemilu DPD, DPR dan DPRD se karang, debat tersrbut di lak sa - nakan sebanyak lima kali.

Dimulai pada 17 Fe bruari dan ter akhir pada 13 April 2019 alias empat hari se - belum hari H pencoblosan pemilu yang di gelar pa da 17 April. Jika tujuan debat ada - lah untuk mendekatkan hu bungan emosional dan pro fe sional antara calon pemimpin dengan yang akan dipimpinnya, mestinya soal waktu harus di - pan dang penting.

Jangan sampai hanya demi me - me nuhi prosedur, acara itu harus disusun sedemikian rupa, meng abai kan aspek fungsi dan efek - tivitasnya. Apalagi bila di - kaitkan dengan sistem pemilu serempak sekarang, di mana na sib calon anggota legislatif (caleg)seolah ditentukan oleh ke menangan capres yg diusung nya.

Hanya berharap dari efek ekor jas (coattail effect) caleg kelihatanya kurang di be - bas kan untuk berkampanye. Pa da hal, merekapun perlu men du lang suara sebanyak banyak nya di dapil masing-ma - sing. Untuk itu, dalam waktu yang tak ter lalu lama ini, KPU mesti me revisi jadwal debat capres bila ingin menyelengga - ra kan nya sebanyak lima.

Jadwal debat terakhir, sebaiknya dima ju kan sebelum 13 April. Ma - sing-ma sing caleg berharap agar me reka dapat secara all out mengampanyekan dirinya sebe lum masa minggu tenang tiba. Setelah sekian bulan ber - kampanye secara kolektif ber - sama capresnya, kini tinggal memberi kesempatan kepada mereka untuk berkampanye secara individual.

Jangan lupa, dalam sistem pileg ter bu - ka, mereka bukan hanya ber - saing dengan caleg dari parpol lain, tapi dengan sesama caleg dari partai yang sama. Sistem peng hitungan hasil pemilu baru, Saint Lague juga sangat mempersyaratkan selisih suara kemenangan dalam pileg.

Menang pilpres, menang parpol dan menang pen ca legan, men jadi harga mati mereka dalam sistem pemilu yang ambang batas parpolnya makin berat. Akhirnya, kita berharap agar transformasi sistem pemilu menjadi medium bagi perbaikan proses dan hasil pemilu. Ibarat pepetah, sekali mendayung, dua atau tiga pulau terlampaui. Semoga.

INDRIA SAMEGO

Pengamat Politik