Edisi 15-03-2019
KEK Tanjung Kelayang Resmi Dibuka


JAKARTA –Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Tanjung Kelayang resmi dibuka oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kawasan ini disiapkan untuk menjadi destinasi kelas dunia dan diharapkan berkontribusi meningkatkan devisa pariwisata Indonesia. KEK pariwisata yang berlokasi di Pulau Belitung, Provinsi Bangka Belitung (Babel), itu dibangun di area seluas 324 hektare dengan target investasi Rp10,3 triliun.

Peresmian KEK ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Presiden Jokowi. ”Tadi Pak Gubernur menyampaikan, sejak ada Tanjung Kelayang itu pendapatan asli daerah (PAD) naik 300%. Ini dampak dari pariwisata itu kelihatan sekali,” kata Presiden melalui siaran persnya, kemarin.

Jokowi mengatakan, keberadaan KEK memberikan sumbangsih pada pertumbuhan ekonomi. Dia pun berencana membuka KEK baru lainnya. ”Karena di sini ada KEK Tanjung Gunung, KEK Tanjung Kelayang, dan akan dibuka lagi KEK lainnya. Kita harapkan betul-betul ekonomi bisa tumbuh,” ujarnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, KEK Tanjung Kelayang dikembangkan sebagai instrumen transformasi ekonomi masyarakat Babel dari sebelumnya pertambangan timah menjadi kepariwisataan. KEK Tanjung Kelayang diproyeksikan menyerap tenaga kerja sebanyak 23.645 orang.

Ke depan, KEK di Bumi Laskar Pelangi ini bersiap menjadi destinasi wisata kelas dunia. ”Lokasi KEK Tanjung Kelayang sangat strategis karena terletak di Pulau Belitung yang secara geografis berada di antara Jakarta dan Singapura, yang diincar sebagai target captive market ,” ujarnya.

Sejauh ini KEK Tanjung Kelayang berhasil menarik investasi dengan menghadirkan jaringan hotel internasional, seperti Starwood Asia Pacific dan Accor Asia Pacific.

Darmin berharap KEK Tanjung Kelayang bisa meningkatkan devisa dari sektor kepariwisataan. ”KEK ini diharapkan mampu menarik investasi sebesar Rp20 triliun hingga 2025, serta men - datangkan 59.000 wisatawan per tahun dengan nilai ekonomi Rp751,4 miliar per tahun pada saat KEK ini sudah beroperasi penuh,” tuturnya.

Darmin mengatakan, saat ini sudah ada 12 KEK yang ditetapkan, yakni delapan KEK untuk manufaktur dan empat KEK untuk kepariwisataan. Adapun yang resmi beroperasi enam KEK, seperti KEK Sei Mangkei, KEK Tanjung Lesung, KEK Palu, KEK Mandalika, KEK Galang Batang, dan KEK Arun Lhok-seumawe.

”KEK Tanjung Kelayang bersama dengan KEK Bitung, Morotai, dan Maloy Batuta Trans Kalimantan, Insha Allah sudah bisa diresmikan pengoperasiannya,” ungkapnya. Sekretaris Dewan Nasional KEK Enoh Suharto Pranoto menjelaskan, KEK Tanjung Kelayang ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6/2016.

Saat ini Dewan Nasional tengah mengkaji dua usulan KEK lainnya di Babel, yaitu Sungailiat di Kabupaten Bangka dan Tanjung Gunung di Kabupaten Bangka Tengah, yang diharapkan bisa ditetapkan dalam waktu dekat.

”Untuk memberikan kemudahan bagi investor yang ingin menanamkan modal di KEK, pemerintah telah menerbitkan kebijakan Sistem Perizinan Berusaha Terintegrasi secara Elektronik atau Online Single Submission( OSS) yang juga diterapkan di KEK,” katanya.

KEK Tanjung Batu Rampung Agustus 2019

Sementara itu, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya memastikan Tanjung Gunung di Kabupaten Bangka Tengah telah siap dikembangkan menjadi KEK pariwisata. Hal itu dikemukakan Menpar seusai meninjau kawasan tersebut kemarin.

”Sejauh ini rata-rata investasi yang telah dilakukan mencapai 76%, yakni Rp5 triliun. Investor yang sudah masuk, seperti Sheraton, Sofitel, dan MGallery. Diharapkan pembangunan sudah selesai pada Agustus 2019,” ujarnya. Menurutnya, kawasan Tanjung Gunung sudah siap dikembangkan sebagai KEK dan bisa mulai dioperasikan.

Hal ini bisa dilihat dari kesiapan infrastrukturnya. ”Hari ini, tepat 3 tahun kurang 1 hari setelah kita mendapatkan area ini. Berdasarkan aturan resmi, KEK harus sudah dioperasikan,” katanya.

Menpar menambahkan, dalam pengembangan kawasan Tanjung Gunung sebaiknya dilakukan perjanjian kerja sama dengan pihak terkait untuk menghindari terjadinya aktivitas yang merugikan kawasan tersebut, misalnya aktivitas penambangan liar. Mengenai potensi wisata, Menpar menyatakan, rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Bangka sebesar USD2000.

oktiani endarwati/ dita angga