Edisi 15-03-2019
Peta Berubah


MUNICH– Peta persaingan Liga Champions musim ini mengalami pergeseran seusai babak 16 besar digelar.

Pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir, kompetisi paling elite di Benua Biru tersebut mengirimkan empat wakil dari satu negara di babak perempat final. Inggris menunjukkan dominasinya dengan meloloskan Manchester United (MU), Manchester City (Man City), Tottenham Hotspur, dan terakhir Liverpool.

Tim berjuluk The Redstersebut menumbangkan Bayern Muenchen 3-1 di legkedua yang berlangsung di Allianz Arena, Kamis (14/3). Gol-gol dari Sadio Mane (26, 84) dan Virgil van Dijk (69) membuat Liverpool secara keseluruhan unggul agregat 3-1.

Pelatih Liverpool Juergen Klopp langsung mengatakan keberhasilan tersebut memberi indikasi jika Liverpool kembali ke jajaran klub-klub elite Eropa. Mencetak tiga gol di Allianz Arena, menurut Klopp, merupakan langkah besar bagi The Reds.

“Kami akan melihat apa yang akan terjadi nanti. Tapi, ini sebuah pertanda positif. Kami telah menunjukkan kapasitas tim di Eropa. Kami senang meraih kemenangan dan lolos ke perempat final,” ungkap Klopp, dilansir The Guardian.

Meloloskan empat tim di perempat final mengulangi pencapaian Inggris di musim 2007/2008. Ketika itu, Inggris bahkan menciptakan duel sesama tim Inggris di perempat final, semifinal, dan final. Tren serupa sebenarnya berlanjut di musim 2008/2009.

Sayang, MU yang juara di musim sebelumnya ditumbangkan Barcelona 0-2 di final. Pada 2005, 2007, 2008, 2009, 2011, dan 2018, wakil Inggris melaju hingga final dan menghasilkan dua juara, yakni Liverpool (2005) dan MU (2008). Dominasi Inggris ini sekaligus mengakhiri hegemoni Spanyol.

Seperti diketahui, dalam enam musim sebelumnya, Spanyol selalu mengirimkan tiga perwakilan ke babak perempat final. Tujuh dari 10 finalis terakhir adalah wakil Spanyol.

Mereka bahkan sukses menjadi juara Liga Champions dalam lima musim terakhir, yakni Real Madrid (2014, 2016, 2017, 2018) dan Barcelona (2015). Tapi, setelah Madrid dan Atletico Madrid tersingkir, asa Spanyol hanya bertumpu kepada Barca.

Tim berjuluk Blaugrana tersebut menghancurkan Olympique Lyon 5-1 di legkedua babak 16 besar yang berlangsung di Camp Nou, Kamis (14/3). Sama seperti Spanyol, Italia juga mengirimkan satu jagoannya, Juventus.

Terakhir kali Italia meloloskan tiga perwakilannya ke perempat final pada musim 2002/2003. Beban La Vecchia Signora semakin berat karena belum ada wakil Italia yang menjadi juara sejak Inter Milan (2009/2010).

Namun, Juve tetap harus diperhitungkan. Keberhasilan mereka mencapai final (2014/2015, 2016/2017) menjadi bukti Juve adalah salah satu tim yang konsisten bermain di level tertinggi sepak bola Eropa. Nasib berbeda dialami Prancis dan Jerman.

Kedua negara tersebut tidak mengirimkan wakilnya di perempat final. Paris Saint-Germain (PSG) yang menjadi wakil Prancis dalam tiga musim terakhir selalu terhenti di babak 16 besar.

Lain lagi Muenchen, sukses melaju ke semifinal lima kali dalam tujuh musim sebelumnya, Die Roten justru tidak berdaya musim ini seusai dipermalukan Liverpool 1-3.

Ini menjadi kedua kali secara beruntun tim-tim asal Jerman rontok di babak 16 besar. Kegagalan Muenchen memunculkan protes dari internal tim. Penyerang Robert Lewandowski mengkritik strategi Pelatih Muenchen Niko Kovac yang dianggap tidak berani bermain menyerang.

Di dua legbabak 16 besar, Muenchen bermain terlalu bertahan dan tidak mencoba menekan lawan dan mengkreasikan peluang. “Kami bermain terlalu ke dalam. Kami tidak berani mengambil risiko untuk mencetak gol.

Kami takut bermain menyerang dan tidak banyak mendapatkan peluang. Itulah mengapa Liverpool mengalahkan kami,” tandas Lewandowski. Dua tempat tersisa menjadi milik Ajax Amsterdam (Belanda) dan FC Porto (Portugal). Kedua tim tersebut memiliki potensi besar mengejutkan lawanlawannya.

Ajax yang terakhir kali lolos ke perempat final musim 2002/2003 jelas termotivasi tinggi setelah menumbangkan salah satu favorit juara, Madrid, 5-3 di babak 16 besar. Porto berhasil menyingkirkan semifinalis musim lalu, AS Roma 4-3.

Ini merupakan perempat final pertama tim berjuluk Dragoestersebut sejak musim 2014/2015. Terlepas dari dominasi Inggris dan menurunnya Spanyol, kejutan diyakini terus terjadi di Liga Champions.

Persaingan bakal sengit setelah drawingperempat final berlangsung, dini hari nanti. Drawing akan dilakukan nanti malam WIB, di mana tidak ada lagi batasan negara dalam penentuan undian.

Jadi, tidak menutup kemungkinan akan terjadi pertemuan antartim Inggris di perempat final. Termasuk kemungkinan duel Man City vs Liverpool yang sekarang baru bersaing dalam perebutan gelar Liga Primer.

alimansyah