Edisi 15-03-2019
Nestapa Jerman


MUNICH – Pamor Bundesliga bukan hanya masih kalah dari beberapa kompetisi besar di Eropa.

Prestasi wakilnya ketika bertarung di Liga Champions juga mengalami penu - runan. Terbukti, musim ini mereka dipastikan tanpa gelar.Ketika Liga Champions edisi 2018/2019 bergulir, penggemar sepak bola sempat memprediksi tim dari Jerman bakal mampu bersaing.

Hal itu karena ada tiga utusan yang lolos ke putaran utama. Tapi, sekarang situasinya malah bertolak belakang. Warga Jerman harus berduka lantaran tidak ada lagi yang bisa didukung. Pasalnya, seluruh jagoannya tersisih secara bersamaan di fase 16 besar.

Bayern Muenchen, Borussia Dortmund, dan Schalke 04 terpaksa angkat kaki setelah disingkirkan utusan Liga Primer. Petaka Jerman dimulai ketika Schalke dipermalukan Manchester City (Man City) dua kali beruntun.

Setelah tumbang 2-3 ketika menjadi tuan rumah di Arena AufSchalke, Die Knappen dihajar tujuh gol tanpa balas saat bertandang ke Etihad Stadium. Kesialan Schalke menular kepada Dortmund yang menjadi tumbal Tottenham Hotspur.

Setelah menyerah 0-3 di Wembley Stadium, Die Borussenmalah gagal memanfaatkan keuntungan kandang di Westfalen stadion lantaran tumbang 0-1. Kisah Muenchen lebih tragis.

Jawara Bundesliga itu semula punya kans lolos ke perempat final karena bisa menahan Liverpool 0-0 di Anfield. Sayang, ketika The Redsberkunjung ke Allianz Stadium, Kamis (14/3), FC Hollywoodmalah tidak bisa berbuat banyak.

Hanya perlu menang 1-0 untuk menjaga asa juara, Muenchen terjegal karena kalah 1-3. Meski menurun - kan skuad terbaik, terma - suk Robert Lewandowski yang menjadi top skor Liga Champions, armada Nico Kovac secara teknis tidak mampu merobek gawang Liverpool.

Muenchen sempat tertolong gol bunuh diri Joel Matip (39). Tapi, dua gol Sadio Mane (26, 84) serta tandukan Virgil van Dijk (69) mengubur harapan tuan rumah untuk bertahan. Alhasil, Jerman kalah total dari Inggris dengan agregat 3-17.

“Kami menghadapi lawan sangat tangguh. Liverpool mengurung kami dan menyerang di awal laga. Kami tidak bisa membebaskan diri ,” kata Kovac, dilansir Reuters. Ini menjadi sejarah buruk bagi Jerman.

Untuk pertama kalinya lagi sejak 2006 tidak ada klub Bundes - liga di perempat final Liga Champions. Mereka kalah dari Belanda (Ajax Amster dam) dan Portugal (Porto) yang masih punya satu wakil. Sementara Inggris mendominasi karena diperkuat empat tim.

Situasi ini di luar perkiraan. Karena, klub asal Jerman sejatinya punya cukup pengalaman di Liga Champions ketimbang negara lain. Schalke sempat melenggang ke perempat final (2007/2008) dan semifinal (2010/2011).

Muenchen sudah lima kali merajai Eropa (1973/1974, 1974/1975, 1975/1976, 2000/2001, dan 2012/2013), dan tiga kali menjadi runnerup. Mereka bahkan mampu lolos ke perempat final selama tujuh musim secara beruntun sejak 2011/2012.

Dortmund juga sempat berjaya pada 1996/1997 dengan menaklukkan Ju - ven tus 1-3 di final. Lalu, lolos ke partai puncak sembilan tahun silam yang sayangnya dikalahkan Muenchen. Ya, terjadinya Der Klassikerdi final 2012/ 2013 dianggap sebagai masa keemasan Bundesliga.

Tapi, sesudah itu prestasi Jerman di Liga Champions malah menurun. Dari sejumlah tim yang pernah terlibat, hanya Muenchen yang mampu bersaing. Itu juga selalu terhenti sebelum final. Sementara sisanya rata-rata kandas di fase 16 besar atau penyisihan grup.

Penurunan prestasi itu dapat memengaruhi peringkat koefisien Jerman. Walau saat ini masih berada di urutan keempat dengan 70.784 poin, selisihnya dengan Ligue 1 hanya 12.286 poin. Artinya, bila tidak ada perbaikan, jatah Bundesliga di Liga Champions bisa saja berkurang satu.

m mirza





Berita Lainnya...