Edisi 15-03-2019
Dua Wajah Wartawan Perang


A PRIVATE War adalah kisah nyata tentang keberanian wartawan Marie Colvin di medan perang, juga kerapuhan mentalnya akibat peristiwa-peristiwa mengerikan yang dilihatnya di sana.

“Journalist! Journalist !” Begitu teriak Marie sambil berdiri tegak dan mengangkat tangan. Di sekelilingnya, asap bubuk mesiu akibat tembakan beruntun menutupi pandangan. Suasana hening sejenak. Tapi kemudian, sebuah tembakan besar mengincar Marie.

Dia roboh ke tanah. Mata kirinya terluka parah. Itulah terakhir kalinya mata itu bisa melihat. Saat itu,Marie baru saja masuk pelosok hutan demi mewawancarai pejabat tinggi Macan Tamil, organisasi militan yang ingin mendirikan negara baru di Sri Lanka.

Celakanya, saat keluar hutan, dia kepergok pasukan militer Sri Lanka. Meski ter lu ka parah dan segera dilarikan ke rumah sakit, Marie masih sempatsempatnya menulis berita untuk kantornya, The Sunday Times .

Kenyataan bahwa dia kehilangan mata akibat perang juga tak menyurutkannya untuk kembali ke neraka dunia itu. Hanya selang dua tahun dari peristiwa tersebut, atau pada 2003, Marie kembali turun meliput perang. Kali ini di Irak.

Padahal, Marie belum sem - buh benar dari trauma di Sri Lanka. Dia kerap bermimpi buruk. Ada bayangan gadis kecil terluka yang terus meng - ikutinya. Suara-suara tem - bakan dan suasana mencekam. Tapi Marie merasa kembali ke medan perang adalah satusatunya pilihan masuk akal baginya.

Di sana dia justru merasa nyaman dan hidup. Dalam dunia kewartawanan di medan perang, Marie Colvin adalah legenda. Wartawan Amerika Serikat yang bekerja di Inggris ini sudah menyak - sikan begitu banyak kengerian di Sri Lanka, Irak, Libya, hingga Suriah, termasuk Timor Timur.

Tulisan dan keberaniannya di lokasi perang pun sudah diganjar banyak penghargaan. Sebagai wartawan, fokus Marie adalah para korban, rakyat jelata yang paling menderita. Dia nyaris tak peduli tentang siapa yang berkonflik atau siapa yang melemparkan se rangan.

Dalam satu adegan, Marie bersama fotografer lepas Paul Conroy (Jamie Dornan) digambarkan nekat masuk ke wilayah yang sudah dilarang dimasuki wartawan oleh pasukan militer Amerika Serikat. Saat akhirnya dicegat ten - tara Irak, Marie dengan santai - nya mengelabui mereka.

Tujuannya saat itu cuma satu, ma - suk ke wilayah pelosok untuk mencari bukti tentang kuburan massal warga yang dibantai tentara Saddam Hussein. Kengerian sekaligus kepiluan di medan perang terpampang sangat jelas dalam A Private War. Ini berkat kepiawaian sutradara Matthew Heineman dalam mengambil sudut pandang gambar.

Latar belakangnya sebagai sutradara film dokumenter dengan banyak penghargaan (The Trade, City of Ghosts ), membuat Matthew bisa mentransfer kepedihan yang dialami para korban perang.

Bukan sekadar menam pil - kan adegan anak-anak yang terluka atau orang tua yang meratapi anaknya, Matthew berhasil memasuk kan cerita pada kisah-kisah memilukan itu. Gambar-gambar close-up juga makin meningkatkan tensi kepiluannya.

Adapun kisah pribadi Marie juga dengan baik ditangkap oleh penulis skenario Arash Amel, yang menulisnya dengan bahan artikel berjudul Marie Colvinís Private War karya Marie Brenner. Tulisan itu terbit di majalah Vanity Fair pada 2012.

Tiap kali pulang ke rumah - nya, penonton akan bisa meli - hat betapa kacaunya hidup Marie. Dia alkoholik, perni - kahan nya hancur, dan pikiran - nya belum lepas dari trauma akibat kejadian-kejadian yang dilihatnya di negara-negara konflik.

Satu adegan yang memperlihatkan dengan jelas begitu rapuhnya Marie terjadi saat dia berbincang dengan Paul Conroy, kala Marie men - jalani terapi kesehatan mental. Sosok Marie yang kontra - diktif ini pada akhirnya juga akan membuat penonton pa - ham, mengapa hidupnya tak bisa lepas dari perang.

Prinsip hidup, sifat keras kepalanya, termasuk juga garis takdir yang akhirnya membuatnya di - kenang sebagai “legenda wartawan perang” dibanding sebagai “perempuan biasa”. Akting kuat Rosamund Pike akhirnya membuat A Private War menjadi sebuah tontonan memilukan yang sempurna.

Ditambah lagu yang dinyanyi - kan dan diciptakan khusus oleh Annie Lennox untuk film ini, A Private War akan memaksa penonton untuk tepekur di kursi masing-masing, bahkan ketika film telah usai.

herita endriana