Edisi 15-03-2019
Tema Serius Dikemas Komedi


ADA banyak hal penting yang ingin disampaikan film besutan Azhar Kinoi Lubis (Belkibolang, Kafir: Bersekutu dengan Setan ) ini.

Tapi karena ingin menyajikan tontonan yang renyah, hal-hal penting nyaris tertutupi oleh unsur komedi, juga logika yang banyak hilang entah ke mana. Film yang skenarionya ditulis Arief Ash Shiddiq dan Rino Sardjono ini berfokus pada kisah ibu-anak, Widi (Cut Mini) dan Sinta (Lala Karmela).

Mereka tinggal di India karena Widi menikah dengan pengusaha negara itu. Sinta pun mengikuti jejak ibunya. Dia sebentar lagi akan menikah dengan Vikash (Sahil Shah). Namun, jelang acara se - serahan, Widi tiba-tiba pulang kampung ke Yogyakarta tanpa pamit kepada Sinta.

Sinta yang bingung dan khawatir lalu menyusul ke sana dengan hanya bermodal foto lawas yang ditinggalkan sang ibu di rumah. Di Yogya, dia pun bertemu ka - kak dan adik ibunya; Bude Dewi (Ria Ira - wan) dan Paklik Dimas (Dian Sidik).

Bersamaan dengan itu, rahasia keluarga yang dipendam lama pun perlahan mulai terkuak. Kuambil Lagi Hatiku jadi langkah pertama Produksi Film Negara (PFN) setelah 26 tahun mati suri. Koma puluhan tahun, PFN yang identik de ngan filmfilm propaganda, kini mencoba sedikit berganti wajah.

Masih membawa misi negara yang indah-indah, PFN di bawah Mohamad Abduh Aziz sebagai direktur utama mencoba mengemas film-filmnya menjadi lebih ko mersial. Dalam Kuambil Lagi Hatiku, definisi komersial lalu diter - jemahkan dengan menyajikan kisah drama dengan bumbu komedi melimpah.

Plus membawa atmosfer India yang filmfilmnya lekat dengan penonton di Indonesia. Komedi dan India mem - bungkus tema-tema konvensional misi negara serta tema-tema penting lain nya, seperti kecintaan pada budaya tradisional, keragaman etnis di Indonesia, percampuran budaya, arti keluarga, hubungan ibu-anak, hingga mengkritisi arti penting status bangsawan.

Nah yang paling kentara dari topik-topik itu adalah penggunaan empat bahasa yang diucapkan para pemainnya, mulai dari bahasa India Hindi, Indonesia, Inggris, hingga Jawa. Untuk urusan komedi, beberapa lelucon sebenarnya cukup berhasil dan membuat segar suasana.

Terutama jika melibatkan Bude Dewi yang jutes dan getir, Paklik Dimas yang bertubuh kekar tapi nyaris useless , serta para pe - meran antagonis yang digam - barkan secara komikal dan bodoh.

Hanya saja, kadang komedi datang pada saat yang kurang tepat, membuat emosi me non - ton menjadi agak kacau dan esensi cerita jadi kabur. Belum lagi logika dan motivasi para karakternya yang beberapa kali patut dipertanyakan.

Misalnya saat Sinta pertama kali sampai di Yogya, mengapa dia malah pergi ke Borobudur, bukan langsung mencari ibunya. Masih membawa koper pula dan menelepon entah siapa.

Motivasi apa pula yang membuat dia mau-maunya jadi pemandu wisata dadakan? Belum lagi romansa yang dipaksakan antara Sinta de - ngan peneliti yang tak jelas latar belakangnya, Panji (Di - mas Aditya). Padahal, bahan cerita yang dibuat Salman Aristo sangat potensial untuk men ja - di sebuah kisah drama ke luarga dan kisah ke-Indo nesia-an yang menarik untuk disimak.

Meski begitu, masih perlu dilihat, apakah jalan “komer - sial” yang dipilih PFN era baru ini benar-benar bisa menarik hati masyarakat untuk menonton di bioskop, atau PFN masih perlu melakukan langkah-langkah trial and error sebelum menjadi pemain yang patut diperhitungkan dalam industri perfilman Indonesia.

herita endriana