Edisi 15-03-2019
Merdi Sihombing Pukau Pencinta Fashion


FASHION yang ramah lingkungan (ecofashion ) dan fashion terbarukan (sustainable fashion ) beberapa tahun belakangan menjadi perhatian dunia, termasuk Indonesia.

Terlebih ketika Ellen MacArthur Foundation melansir data yang menyatakan polusi yang dihasilkan dari industri mode sama dengan polusi yang dihasilkan oleh batu bara, migas, bahkan petrokimia. Bahkan, pada tahun 2050 industri fashion diperkirakan menggunakan 25% dari bujet karbon dunia apabila tidak ada seorang pun yang melakukan aksi perubahan.

Desainer Merdi Sihombing menyikapi isu ini dengan melakukan berbagai aksi nyata untuk melakukan re-thinking fashion , sebuah gerakan yang sejak 2018 lalu marak dilakukan pegiat mode dunia.

Sepanjang 2018 Merdi melakukan community development di Alor, Rote Ndao, Banyuwangi, dan Lombok untuk mengajarkan berbagai teknik yang menerapkan konsep sustainable fashion , seperti penggunaan pewarna alam, benang organik, maupun pengelolaan limbah tekstil.

Merdi juga menggagas Eco-Fashion Week Indonesia 2018 yang digelar di Gedung STOVIA, Jakarta, dan menjadi pembicara di berbagai event yang mengusung prinsip sustainable lifestyle .

Mengawali 2019, tepatnya pada pertengahan Februari, Merdi diundang untuk membawakan karya sustainable fashion -nya di London yang diprakarsai oleh Independent London Fashion Week Designer’s Association (ILFWDA).

Lima belas koleksi AW 2019 terbarunya dipergelarkan bersama karya-karya Jeff Garner dan tujuh desainer sustainable fashion independen dari mancanegara. Jeff Garner adalah desainer dari Amerika Serikat yang memenangi penghargaan 2018 Eluxe Award .

“Keikut sertaan saya di ILFWDA ini direkomendasikan oleh Jeff Garner yang karya-karya sustainable fashion - nya sudah dikenal dunia melalui brand Prophetik,” katanya.

Koleksinya kali ini juga mendapatkan dukungan dari Lenzing Indonesia-PT South Pacific Viscose, produsen benang ramah lingkungan, yakni Lyocell A 100 yang kemudian diberi pewarna alam sebelum ditenun menjadi kain-kain indah oleh para perempuan penenun di berbagai pelosok terpencil di Indonesia.

Tema “Sirat” diangkat Merdi Sihombing sebagai sajian utamanya. Sirat adalah produk anyaman benang yang dikerjakan dengan teknik table weaving . Helai demi helai sirat yang berbentuk seperti pita itu dijahit menjadi satu, hingga membentuk gaun panjang, jumpsuit maupun longcoat yang diberi aksentuasi manik metal spike .

“Sirat biasanya digunakan sebagai hiasan kepala saat ritual adat. Bentuknya menyerupai pita sepanjang 1 meter dengan lebar 5-7 cm. Sirat biasanya terdiri atas tiga warna yang melambangkan dunia dengan komposisi warna putih di atas, merah di tengah, dan hitam di bawah.

Motif ini disebut dengan istilah sacred geometry ,” kata Merdi. Merdi juga menyuguhkan koleksi klasik tenun ikat Hitam Putih, dan sejumlah koleksi dari kain yang diproduksi di Umapura Alor, sebuah atol kecil di Pulau Ternate.

anton c