Edisi 16-03-2019
Teror Selandia Baru Tewaskan 49 Orang


JAKARTA - Aksi teror mengguncang Selandia Baru. Sebanyak 49 orang tewas dan 48 lainnya luka-luka akibat penembakan massal di Masjid Al- Noor dan Masjid Linwood di Kota Christchurch, Canterbury, kemarin.

Aksi brutal tersebut merupakan yang terburuk terjadi di negara tetangga Australia itu. Berdasarkan informasi yang dihimpun otoritas set empat, 41 korban tewas di Masjid Al Noor, tujuh meninggal di Masjid Linwood, dan satu korban meninggal di rumah sakit .

Aksi teror itu dengan cepat tersebar karena pelaku merekam dan menyiarkannya secara live di akun media sosial Facebook. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Wellington menyatakan, saat peristiwa itu terjadi terdapat enam warga negara Indonesia (WNI) berada di Masjid Al Noor.

Lima orang di antaranya telah melaporkan ke KBRI dalam keadaan sehat dan selamat. Sementara satu orang atas nama Muhammad Abdul Hamid masih belum diketahui keberadaannya. Dari Masjid Linwood, KBRI Wellington menerima laporan bahwa terdapat dua WNI–seorang ayah dan anaknya, yang tertembak.

Kondisi sang ayah yang bernama Zulfirmansyah masih kritis dan dirawat di ICU RS Christchurch Public Hospital. Sementara anaknya dalam keadaan yang lebih stabil. “Kondisi keduanya saat ini kritis karena terkena tembakan berkali-kali.

Saat ini sedang dirawat di ICU rumah sakit,” kata Duta Besar RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya. Serangan mematikan itu memantik reaksi keras dari berbagai belahan dunia. Sejumlah pemimpin negara mengucapkan belasungkawa. Pemerintah Selandia Baru menyebut aksi tersebut dipastikan sebagai serangan teror.

Menurut otoritas keamanan di kota itu, penembakan kepada jamaah yang sedang melaksanakan salat Jumat itu dilakukan oleh seorang pria bersama tiga orang lainnya. Komisaris polisi lokal, Mike Bush, mengatakan tragedi tersebut sangat mencengangkan karena Christchurch sangat damai.

Untuk mengendalikan situasi, polisi mengerahkan 1.000 personel untuk menjaga keamanan. “Seorang tersangka berusia 28 tahun telah dituntut dengan dakwaan pembunuhan dan akan menjalani sidang di Pengadilan Distrik Christchurch besok pagi (hari ini).

Dua tersangka lainnya akan mendekam di tahanan,” kata Bush, dikutip nzherald.co.nz . Perdana Menteri (PM) Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan, sekitar 20 orang mengalami luka serius dan perlu menjalani lebih dari satu kali operasi. RS Christchurch mengonfirmasi telah menangani 48 pasien dengan luka tembakan di tubuh.

RS Christchurch bahkan sampai kekurangan tenaga medis. “Semuanya jelas, aksi ini merupakan serangan teroris. Orang seperti itu memiliki pandangan ekstrem dan tidak pantas berada di Selandia Baru, juga dunia,” ujar Ardern. Menurut Ardern, dari laporan awal aksi ini dieksekusi ber dasarkan perencanaan matang.

Pihak berwenang juga menemukan dua alat peledak di dalam mobil tersangka. Ardern menambahkan, empat orang ditahan, satu diantaranya perempuan. Namun, hanya tiga orang yang diduga terlibat dalam serangan itu. Seorang tersangka dilaporkan ber kebangsaan Australia.

Meski sudah diinterogasi, sejauh ini tidak diketahui bagaimana para pelaku dapat mengakses senjata api. “Selandia Baru dikenal sebagai tempat yang aman untuk membangun rumah tangga. Nilai itu tidak akan dan tidak bisa dirusak,” kata Ardern.

PM Australia Scott Morrison mengonfirmasi salah satu tersangka merupakan warga Australia yang tinggal di Selandia Baru. Dia mengaku terkejut dan geram dengan tragedi ini. Sebelum Morrison menyam paikan pernyataan tersebut, seorang pria yang menyebut dirinya bernama Brenton Tarrant melalui Twitter mengklaim terlibat dalam penembakan itu.

Dia juga menyebarkan rekaman “bodycam” saat penembakan terjadi ke media sosial. Namun, Twitter memblokir akun milik pria itu. Sebuah manifesto setebal 37 halaman juga ditemukan di internet, dan dikabarkan ditulis oleh Brenton Tarrant.

“Kami berdiri di sini dan mengutuk serangan yang terjadi hari ini (kemarin) oleh seorang ekstremis, sayap kanan, teroris barbar. Pelaku telah melakukan pembunuhan dengan cara yang kejam,” kata Morrison. Komisaris Bush mengatakan bahwa timnya sedang berupaya menghapus video pembantaian yang tersebar di media sosial.

Direktur Kebijakan Facebook Selandia Baru Mia Garlick juga mencoba bersikap kooperatif dengan pihak berwenang dengan menghapus video penembakan massal di Masjid Al- Noor dan Linwood. “Polisi memberi tahu kami tentang video itu di Facebook tidak lama setelah livestream.

Kami secepat mungkin menghapus akun Instagram dan Facebook pelaku, juga video yang diunggahnya,” ujar Garlick. “Kami sedang menghadapi situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Peristiwa ini sangat serius,” tambahnya.

Lari lewat Jendela

Korban yang selamat, Nour Tavis, mengaku duduk di baris depan selama salat Jumat di Masjid Al Noor ketika tragedi itu dimulai. Awalnya tak ada yang menyadari telah terjadi penembakan di pelataran masjid. “Kemudian kami men dengar teriakan.

Semuanya panik, berlari, dan akhirnya tumbang satu per satu,” terangnya. Tavis mengaku melihat seorang jamaah memecahkan kaca jendela masjid dan melompat mengingat lorong pintu depan diblokade pelaku. “Jendela itu menjadi satu-satunya jalan untuk melarikan diri.

Saya meng ikutinya,” katanya. Saat dia berlari, rentetan senjata api dan teriakan dapat terdengar di dalam masjid. Tavis kemudian melompati pagar setinggi 1,5 meter dan me ngetuk pintu rumah terdekat. Dia berharap pemilik rumah dapat menyela matkannya. “Kami dipersilakan masuk.

Saya melihat seorang lelaki ditembak dan berdarah-darah,” ujarnya. Tavis lalu kembali ke masjid untuk membantu mengevakuasi korban. Korban selamat lainnya, Mohan Ibrahim, mengatakan ada sekitar 200 orang yang menunaikan salat Jumat di Masjid Al Noor.

Warga lokal Robert Weatherhead menggambarkan pelaku sebagai orang kulit putih berusia 30-an atau 40-an dan mengenakan seragam. Kakinya dipenuhi dengan banyak tempelan majalah. Sementara itu, di Masjid Linwood penembakan terjadi sekitar pukul 13.45 waktu setempat.

Warga lokal mencoba me nyerang balik dengan balik melepaskan tembakan. “Saya melihat pelaku melewati toko saya. Orang-orang di masjid ditembaki, begitu juga dengan polisi,” kata pemilik toko Premiun Tyres and Auto, Mark Nichols.

Ratu Inggris Elizabeth II menyampaikan belasungkawa terhadap keluarga korban atas kejadian itu. “Saya dan Pangeran Philip turut berdukacita. Saya juga memuji petugas dan sukarelawan yang ikut membantu korban,” ujar Ratu Elizabeth II. Dari

Tanah Air, Presiden Joko Widodo mengecam aksi kekerasan yang terjadi di Selandia Baru. Menurut Presiden, Indonesia sangat mengecam kekerasan seperti ini. “Saya juga menyampaikan duka yang mendalam kepada para korban yang ada dari aksi tersebut,” ujar Presiden saat kunjungan kerja di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, kemarin.

Jokowi mengaku telah mendapatkan laporan terkait kejadian tersebut dari Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Menurutnya, jajaran terkait masih terus mengumpulkan informasi terkait kejadian tersebut. Dia mengimbau agar warga negara Indonesia di Selandia Baru tetap meningkatkan kewaspadaan.

“Semuanya hati-hati dan waspada,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Pengurus Harian Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Robikin Emhas menilai aksi penembakan di masjid Kota Christchurch, Selandia Baru merupakan tindakan tidak berperikemanusiaan.

Pengurus Pusat Muham madiyah mengecam aksi penembakan brutal di dua masjid Selandia Baru. Muham madiyah menyebut pelaku penembakan masjid itu sebagai musuh agama dan kemanusiaan.

m shamil/ dita angga/ abdul rochim/ agung b sarasa