Edisi 16-03-2019
Prioritaskan Program Kemitraan untuk Masyarakat SAD


Ibarat memancing, tentu tak bijak juga jika masyarakat suku Anak Dalam (SAD) hanya disuapi ikan tanpa diberi kail dan diajari memancing.

Kesadaran ini pula yang men jadi tekad guru-guru dari PT Sari Adi tya Loka (SAL) 1 dan petugas Taman Nasional Bukit Dua (TNBD) Muaro Bungo, Jambi, untuk gigih mendidik masyarakat SAD Jambi, hingga mereka mampu meraih masa depan lebih baik.

Karyawan PT SAL 1 yang juga guru sekolah rimba Samiaji Sapto Wibowo mengakui, saat ini masih ada ratusan anak rimba yang belum tersentuh pendidikan, khususnya yang berada dalam kawasan hutan TNBD dan wilayah kerja PT SAL 1.

Kehidupan anak rimba yang tak lepas dari hutan menjadi penyebab masih banyaknya anak rimba yang belum tersentuh pendidikan. “Kebanyakan anak rimba masih ikut orang tuanya berladang dan berburu.

Tapi kita terus berusaha mem - berikan pemahaman kepada orang tua mereka tentang pentingnya pendidik an untuk masa depan. Kalau mereka benar-benar serius, kita akan bantu mereka sekolah hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

Target kita semua anak rimba bisa mendapatkan pendidikan yang layak,” ujarnya. Masih menurut Samiaji, anggapan keliru sebagian besar masyarakat luar bahwa SAD adalah orang yang semata hidup di hutan dan tidak bisa bersosialisasi juga menjadi penyebab terkendalanya program pendidikan bagi masyarakat SAD.

Bahkan tak jarang anak-anak SAD yang bersekolah di sekolah rimba mendapat perlakuan tak menyenangkan ketika mereka mengikuti aktivitas belajar mengajar di sekolah formal setingkat SMP dan SMA. “Kan anak rimba yang belajar di sekolah alam kita ikutkan juga atau sesekali kita gabung belajarnya di sekolah formal.

Nah, mereka ini seperti dimusuhi, di-bully, bahkan dikucilkan. Karena itulah akhirnya anak-anak rimba itu kita pindahkan atau sekolahkan di luar Jambi yang bisa menerima kehadiran mereka. Sudah ada tiga anak rimba yang kita sekolahkan di SMK di Yogyakarta.

Malah ada satu yang jadi TNI,” kata dia. Sejak pertama digagas sampai sekarang, menurut Samiaji, sudah ada 10 sekolah informal atau sekolah alam untuk anak-anak SAD yang dibangun PT SAL 1 plus satu sekolah rimba yang dibangun pihak TNBD.

Guru yang mengajar pun berjumlah 16 orang, ditambah tenaga medis plus karyawan PT SAL 1 lainnya hingga kesemuanya berjumlah 21 orang. Selain bidang pendidikan, PT SAL 1 juga terus melakukan program pemberdayaan masyarakat lainnya sekitar perusahaan, mulai bidang lingkungan, ekonomi atau wirausaha, kesehatan hingga bidang-bidang lainnya.

Tujuannya untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengolah potensi alam dan meningkatkan kesejahteraan. “Ada juga program ternak lele, penghijauan, pembangun - an infrastruktur berupa jalan dan jembatan, budi daya tanaman hutan, pengelolaan madu hutan, termasuk kegiatan keagamaan.

Pokoknya banyak sekali. Bahkan hampir 100% program kemitraan PT SAL terkonsentrasi untuk SAD. Apalagi mereka berada di ring satu perusahaan,” ujar Community and Development (Comdev) Manager Area Andalas 3, PT SAL, Suharto Sudarsono.

Sementara itu Kepala TNBD Chaidir mengakui, sejauh ini sinergi dengan PT SAL dan pihak lain dalam program pendidikan anak-anak SAD yang berdiam dalam kawasan berjalan baik.

Selaku otoritas dan pemegang mandat Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDE), tentu pihaknya bertanggung jawab penuh dengan segala bentuk aktivitas di dalam kawasan terutama kehidupan masyarakat SAD.

“Kita juga sudah bangun satu sekolah alam, namanya Sekolah Alam Rimbo Pintar. Anggota juga kita kerahkan untuk mendampingi aktivitas terkait program pendidikan bagi anak-anak SAD. Malah ada satu anak SAD yang kita rekomendasikan ke ditjen untuk mengikuti tes masuk SMK Kehutanan. Mudah-mudahan lulus dan diterima,” cetus Chaidir.

HENDRI IRAWAN

Muaro Bungo