Edisi 16-03-2019
Punya Dompet Digital Bikin Hemat Atau Boros?


DALAM dunia serbadigital, punya aplikasi pembayaran memang bikin hidup lebih praktis dan menyenangkan.

Tapi siapa yang tahan godaan promo, diskon, dan tawaran cash back dari banyak merchant ? Hari gini , hidup tanpa punya aplikasi pembayaran memang nyaris mustahil. Soalnya, hampir semua aktivitas kita sehari-hari membutuhkan transaksi jual beli.

Mulai dari naik ojol , beli makanan di kantin atau mal, sampai beli tiket nonton di bioskop. Repot kalau enggak punya recehan. Karena itulah, aplikasi pembayaran makin dibutuhkan pada masa sekarang. Soalnya tinggal pencat-pencet sebentar, transaksi bisa berlangsung lancar dan aman.

Lupa bawa dompet pun enggak masalah selama ada saldo di dompet digital. Tak heran kalau aplikasi jenis ini makin menjamur. Dilansir dari situs resmi Bank Indonesia, sejak Februari 2019, ada 36 penyelenggara uang digital yang telah memperoleh izin dari Bank Indonesia.

Bahkan, penyelenggara uang digital sudah masuk ke sekolah dan kampuskampus di kota besar. Rizal Fahrudin, pelajar di Kota Bandung, sudah biasa menggunakan uang digital untuk membeli makanan dan minuman di kantin sekolahnya yang berafiliasi dengan salah satu penyedia aplikasi pembayaran.

"Cukup pindai kode batang. Fleksibel kapan dan di mana saja, serta lebih hemat karena enggak perlu repot dengan uang kembalian," kata pelajar kelas XII ini. Namun, di tengah kepraktisan dan keamanan dalam bertransaksi, pemilik dompet digital juga dihantui sifat konsumtif.

Misalnya yang dialami Frisca Anggraini Agustien, mahasiswa Universitas Siliwangi Jurusan Akuntansi. Dia biasa menggunakan uang digital untuk keperluan makan dan belanja keperluan sehari-hari.

"Biasanya isi lima puluh sampai seratus ribu. Habisnya sekitar dua atau tiga minggu," kata Frisca yang merasa menggunakan dompet digital membuat dia punya catatan keuangan yang lebih terperinci. Namun, Frisca kadang enggak tahan juga dengan godaan merchant yang memberi promo cash back .

"Akhirnya jadi lebih konsumtif, kadang-kadang jadi bikin boros juga," katanya. Lemah iman karena diskon juga dirasakan Nur Kamilah, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ). "Promopromo yang disediakan sering banget bikin iman lemah.

Seminggu bisa habis seratus ribu," kata cewek yang biasa dipanggil Mila. "Sering banget akhirnya menyesal, tapi sayang banget kalau tidak memanfaatkan cash back yang bisa mencapai 50% sampai 60% itu," kata dia yang menggunakan dompet digitalnya untuk hampir semua keperluan, mulai dari transportasi, makan, membeli buku, tiket nonton, sampai beli pulsa.

Memang, memiliki dompet digital bisa melahirkan efek psikologis tertentu. Menurut Budi Raharjo, perencana keuangan dari OneShildt, berbelanja dengan uang digital tidak akan terasa sisi emosinya.

"Menganggarkan belanja seharihari akan lebih mudah dengan menggunakan uang fisik karena setiap saat kita ingin monitor berapa uang yang ada di dompet, cukup atau enggak. Tapi kalau transaksinya nontunai, tidak terasa emosional saat mengeluarkan uang.

Kendali kita saat melakukan transaksi nontunai agak sulit. (Jadi) boros karena jarang dimonitor dan kehilangan kendali keuangan," sebutnya. Budi meng ingat - kan, jangan tergerak mem biasakan budaya konsumtif. Oleh karena itu, bijaklah dalam membuat anggaran keuangan.

MASRIAH

GEN SINDO

Universitas Negeri Jakarta