Edisi 16-03-2019
Ribuan Bangunan SD di Kabupaten Bogor Rusak


BOGOR – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor TB Luthfie Syam menyebut, sebagian besar sekolah dasar negeri (SDN) di wilayahnya dalam kondisi rusak.

Masih banyaknya sekolah rusak, kata dia, lantaran sebagian gedung sekolah tersebut dibangun pada era 1970-1980. “Untuk SDN saja kita ada 1.543 sekolah dengan ruang kelas sekitar 12.000. Nah itu, hampir semuanya rusak karena dibangun pada masa inpres dulu,” katanya kemarin.

Pihaknya meng khawatirkan, sekolah yang saat ini da - lam kondisi rusak ringan dan sedang menjadi rusak berat, jika kemudian hari tak segera diatasi. Terlebih, kondisi alam dan cuaca di Bogor tak menentu. “Namun kita prediksi bangunan sekolah itu bisa bertahan hingga 10 tahun sebelum rusak kembali.

Maka dari itu, da lam waktu dekat sekolah yang sekarang rusak ringan atau sedang akan diperbaiki se - cara bertahap juga,” jelasnya. Hingga 2020 pihaknya me - nargetkan perbaikan 900 ru - ang kelas yang kondisinya ru - sak berat.

Dengan asumsi, pi - haknya merehabilitasi setiap tahunnya 300-400 ruang kelas. “Untuk membenahi satu unit yang berisikan 3 ruang kelas ru - sak berat, membutuhkan biaya sekitar Rp600 juta. Kalau pakai APBD saja kita bisa mere ha bi li - tasi 300-400 ruang kelas yang ru sak berat itu.

Tapi jika di tambah dana alokasi khusus (DAK) bisa sampai 500-an,” tandasnya. Sebelumnya, pada awal 2019 ini bangunan SDN Neglasari V di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, atapnya ambruk.

Meski tak ada korban ji - wa, akibat kejadian itu puluhan siswa SDN V Neglasari sempat diliburkan selama dua hari. Plt Kepala SDN V Neglasari Mirta menuturkan, kegiatan be lajar mengajar sempat diliburkan sebagai upaya antisipasi terjadinya peristiwa serupa yang bisa menimbulkan korban.

“Sebab, bagian atap bangunan lainnya juga rawan ambruk. Dari tujuh ruang kelas yang dimiliki sekolah, tiga di antaranya ambruk,” katanya. Menurut dia, ruangan yang ambruk itu biasa digunakan siswa kelas I A/B dan kelas III A, Kelas II A/B sekaligus kelas IIIB, serta kelas V A/B.

Tak hanya itu, satu ruang guru juga mengalami kejadian serupa. Agar tidak menghambat kegiatan belajar mengajar siswa, pihak sekolah menyiasatinya dengan menggunakan sistem belajar double shift.

“Bahkan kita sempat menyiasati jika empat ruang kelas masih tidak memungkinkan un tuk kegiatan belajar mengajar bagi 12 rombongan belajar, sementara akan mengungsi di Kantor Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pendidikan Dramaga yang letaknya tak jauh dari sekolah,” tandasnya.

Sebelum kejadian, sekolah yang berlokasi di Kampung Ka - um, Desa Neglasari, Kecamatan Dramaga ini, menurut dia, me mang sudah kekurangan ru ang kelas karena hanya memiliki tujuh ruang kelas. Tujuh ruangan digunakan untuk menampung 12 rombongan belajar (rombel) atau sebanyak 418 murid.

Jadi, siswa-siswi terpaksa belajar berimpitan. “Karena kekurangan ruangan, satu ruang kelas dipakai untuk dua rombel. Setelah kejadian, makin kekurangan ruang ke las. Semoga tahun ini Pemkab Bogor bisa memperbaiki atau membangun ruang kelas yang atapnya ambruk kemarin,” harapnya.

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor Wasto Sumarno mengatakan, untuk mengatasi agar jumlah ruang ke las rusak yang harus diper baiki tidak bertambah, Pemkab Bogor harus memasukkan perbaikan ruang kelas dalam Rencana Pembangunan Jangka Me nengah Daerah (RPJMD).

“Se hingga upaya tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam menyelesaikan permasalahan infrastruktur sekolah,” tandasnya. Di bagian lain, berdasarkan data Komite Pemantau Legislatif (Kopel) Indonesia yang bermarkas di Bogor melansir pada 2017, jumlah ruang kelas SD yang rusak di seluruh wilayah Kabupaten Bogor mencapai 2.369 unit dari total ruang kelas yang ada sebanyak 5.005 unit.

haryudi