Edisi 16-03-2019
Februari, KinerjaEkspor-Impor Turun


JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2019 surplus USD0,33 miliar.

Kendati demikian, kinerja ekspor-impor pada bulan kedua 2019 menurun signifikan. Bulan lalu nilai ekspor Indonesia mencapai USD12,53 miliar atau menurun 10,03% dibanding ekspor Januari 2019, se dangkan dibanding Februari 2018 menurun 11,33%.

Sementara itu, nilai impor pada Feb - ruari 2019 mencapai USD12,20 miliar atau turun 18,61% diban - ding Januari 2019. Demikian juga diban ding kan Februari 2018 turun sebesar 13,98%. Kepala BPS Suhariyanto me - nga takan, surplus perdagangan pada Februari berasal dari sek - tor nonmigas yakni sebesar USD0,79 miliar, sedangkan sek tor migas mengalami defisit USD0,46 miliar.

“Setelah sebelumnya empat bulan defisit, bulan ini mengalami surplus meski impor turun tajam dan ekspor juga turun. Ini berita yang baik karena kinerja ekspor akan berpengaruh pada angka pertumbuhan eko nomi 2019,” ujarnya di Jakarta kemarin.

Berdasarkan data BPS, ekspor nonmigas Februari 2019 mencapai USD11,44 miliar, turun 9,85% dibanding Januari 2019. Demikian juga dibanding eks por nonmigas Februari 2018, turun 10,19%. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-Februari 2019 mencapai USD26,46 miliar atau menurun 7,76% di banding periode yang sama tahun 2018.

Demikian juga ekspor nonmigas mencapai USD24,14 miliar atau menurun 7,07%. Suhariyanto melanjutkan, faktor hari di bulan Februari yang lebih pendek dibandingkan Januari memengaruhi kinerja ekspor dan impor.

Selain itu, harga komoditas yang turun juga memengaruhi kinerja ekspor. Penurunan terbesar ekspor nonmigas Februari 2019 terhadap Januari 2019 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar USD282,1 juta atau sekitar 14,54%, sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada per - hias an/permata sebesar USD227,5 juta atau 53,03%.

Secara kumulatif, neraca per dagangan Indonesia selama Januari-Februari 2019 masih meng alami defisit sebesar USD0,73 miliar. “Masih banyak yang perlu kita pikirkan untuk bagaimana memacu ekspor,” kata Suhariyanto.

Menteri Koordinator Bi dang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pemerintah harus bekerja lebih keras lagi agar neraca perdagangan dan neraca berjalan bisa kon sis ten lebih baik. Hal tersebut ti dak mudah karena tiga negara tujuan ekspor Indonesia, yakni Amerika Serikat (AS), China, dan Jepang mengalami penu runan.

“Neraca perdagangannya positif walaupun kalau melihat impornya turun agak banyak karena komposisinya juga sudah banyak berubah. Jadi situasi ini bukan hanya bagaimana me naikkan ekspor, tapi juga harus bisa menjaga pertumbuhan sehingga mestinya impor tidak merosot secara banyak,” jelasnya.

Menurut Darmin, permintaan impor akan tetap tinggi mengingat pembangunan infra struktur masih terus berjalan. Sementara pada Februari 2019, penurunan impor terjadi pada golongan mesin dan peralatan listrik. “Artinya, kita perlu segera membenahi manu fakturnya,” ungkapnya.

Darmin menambahkan, dam pak dari impor barang modal tidak dirasakan tahun ini. Untuk itu, Indonesia masih memiliki waktu untuk memperbaiki pertumbuhan ekonomi. “Itu pengaruhnya bisa 1-2 tahun. Artinya, tidak berarti kita kehilangan kesempatan mempertahankan dan memperbaiki per tumbuhan karena masih banyak hal yang bisa dilakukan,” tandasnya.

Sementara itu, Ekonom Insti tute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai surplusnya neraca perdagangan pada periode Februari bersifat semu. Pasalnya, ekspor bulan tersebut turun hingga 10%.

“Melihat kinerja ekspor yang turun 10% dibanding Januari, sebenarnya surplus ini bisa dikatakan surplus semu. Jadi perlu banyak perbaikan, khususnya ekspor nonmigas,” ujar Bhima. Dia menilai produk olahan yang potensial seperti sawit dan alas kaki perlu dicarikan pasar baru untuk memperbaiki ekspor.

Hal itu karena Indonesia saat ini tidak bisa mengandalkan ekspor dari sektor tersebut ke pasar AS dan China yang sedang terlibat perang dagang. “Pemerintah juga perlu melakukan pengendalian impor, khususnya gula yang tercatat naik signifikan 216% bulan Februari dibanding Januari,” tambahnya.

oktiani endarwati/ sindonews