Edisi 26-03-2019
Sumbang 80% Gaji, Guru dihadiahi Rp14 Miliar


NAIROBI –Niat tulus Peter Tabichi, seorang guru di Kenya, yang rutin menyumbangkan 80% gajinya untuk membantu siswa dari keluarga miskin berbuah manis.

Kedermawanannya menyebar luas mendapat ap resiasi berbagai pihak di penjuru dunia. Apresiasi antara lain dari Pemerintah Dubai. Minggu (24/3), Dubai memberikan peng har - gaan Global Teacher Prize kepada Tabichi. Dari peng hargaan ini, Tabichi mendapat hadiah USD1 juta (sekitar Rp14,2 miliar). Kisah Peter Tabichi pun meng - guncang dunia. Selama ini Ta - bichi hanyalah guru Ma te ma tika dan Fisika di sebuah se ko lah swasta. Dia men de di ka sikan kehi - dup annya di dunia pen di dik an di wilayah terpencil Pwa ni. Dia memiliki satu kom puter dengan koneksi internet sangat lambat. Jumlah rasio gu ru-mu rid pun tak imbang ka re na satu ber - banding 58 orang. Siswanya juga berasal dari berbagai latar be lakang, 1/3 dari mereka me ru pa - kan anak yatim.

Tabichi banyak menggali ilmu dari internet dan mengajar kannya kepada anak-anak di kelas. Atas kerja keras dan kesabarannya, kondisi pen di - dik an di Pwani telah mengalami perubahan. Anak-anak menjadi percaya diri. Tahun lalu seba - nyak 26 anak dari sekolahnya berhasil tembus ke perguruan tinggi terkemuka. “Mereka menjuarai Royal Society of Chemistry setelah ber hasil menggunakan tumbuh an lokal untuk meng ha silkan listrik. Tim ilmu ma te ma - tikanya juga lolos kualifikasi dalam kompetisi INTEL In ter - na tional Science and Engi neering Fair pada tahun ini di Arizona, Amerika Serikat (AS),” ung kap Varkey, dikutip cnn.com.

Tabichi menghadapi ba - nyak tantangan dalam me majukan pendidikan di Pwani. Selain me ngalami krisis ma kan - an, me re ka juga rentan ter - jebak pe nya lah gunaan nar - koba. Namun, ber sama Keriko Mixed Day Se condary School, dia berhasil me ningkatkan jumlah anak-anak yang ber - sekolah, bahkan angkanya naik dua kali lipat. Tahun sebelumnya peng har - gaan itu disabet Andria Zafi rakou dari Inggris. Andria me ru - pakan seorang guru di Al perton Community School, Brent. Tu - gasnya tidak mudah sebab Brent merupakan salah satu tempat dengan keber aga man etnis dan 130 bahasa.

Mu rid nya juga ber - asal dari keluarga miskin dan ter - libat geng ja lanan. Anak-anak yang bersekolah di Alperton juga memiliki ke - mam puan terbatas. Namun, An dria berhasil membebaskan mereka dari masa kelam. Be - kerja sebagai guru kesenian, dia menata ulang kurikulum di se - luruh mata pelajaran agar se - suai dengan kebutuhan. Dia juga menciptakan tim olahraga khusus perempuan. Hal itu dia lakukan agar per - aturan di sekolah tidak ber ben - turan dengan norma dan etika keluarga yang berasal dari ber - bagai latar belakang. Tim cricket perempuan bentukannya bah - kan menjuarai McKenzie Cup. Dia juga membantu guru seni musik untuk menjadwalkan se - kolah musik Somalia bagi anakanak dari Somalia.

Dengan berbekal kemam pu - an 35 bahasa, Andria mampu memperoleh kepercayaan sis - wa nya, juga orang tua. Atas de - di kasinya itu, Alperton menjadi kota dengan kualifikasi dan ak - reditasi bagus. Itu merupakan capaian besar mengingat se - mua nya berkembang begitu pesat, yakni sekitar lima hingga tujuh tahun. Pengajaran matematika yang menggunakan pe nd e kat - an dari kehidupan nyata juga membantu Alperton men jua - rai TES 2017. Di ruangan ke - lasnya sendiri, Andria juga me - nata ulang kurikulum secara kreatif. Dia bahkan meng un - dang artis lokal untuk mem - berikan mo ti vasi, inspirasi, dan pandangan ter kait isu yang lebih umum.

Andria mengaku men cu curan air mata ketika mendengar kabar anak didiknya sekolah hing ga perguruan tinggi, mem - per oleh pekerjaan, atau mem - buka lapangan usaha sendiri. Alperton memperoleh Institute of Education Professional De ve - lopment Platinum Mark, peng - hargaan yang diraih kurang dari 10 sekolah. Maggie MacDonnell dari Ka - nada juga pernah menerima penghargaan Global Teacher Prize pada 2017. Pengumuman itu dilontarkan astronot Tho - mas Pesquet. Setelah me n da - pat kan gelar master, dia mulai me rasakan negaranya telah buka mata terkait pengi so la - sian terhadap suku asli Kanada selama beberapa dekade.

Maggie kemudian mengajar suku asli Kanada di Inuit, sebuah wilayah di bagian Artik Ka - nada, sejak delapan tahun terakhir. Inuit merupakan tempat kedua paling utara di Kanada dengan jumlah populasi Inuit mencapai 1.300 orang. Wilayah itu tidak dapat diakses melalui jalur darat, tapi harus melalui jalur udara.

Muh shamil