Edisi 26-03-2019
Impor Bawang Putih 100.000 Ton untuk Kendalikan Harga


JAKARTA – Pemerintah melalui Perum Bulog akan mengimpor bawang putih seberat 100.000 ton. Rencananya bawang putih tersebut akan didatangkan dari China bertahap mulai April 2019.

Direktur Pengadaan Perum Bulog Bachtiar menegaskan, impor bawang putih 100.000 ton tersebut merupakan penu - gasan dari pemerintah untuk stabilisasi harga. “Ini didasari pengalaman tahun lalu, di mana harga bawang putih mencapai 70.000 per kilogram (kg) pada diam semua, tidak ada solusi,” kata Bachtir dalam rilisnya di Jakarta, kemarin. Padahal konsumsi dalam negeri hampir seluruhnya dari impor. “Ini sekarang bagus, kita impor untuk stabilkan harga. Jadi jangan ada yang mainmain dengan bawang putih,” katanya. Bachtir mengingatkan pe - neliti Indef yang mengkritisi penugasan Bulog untuk impor bawang putih benar-benar memahami kondisi sebenarnya melalui kajian sangat men - dalam secara komprehensif dan integralistik sesuai dengan pe - ran serta tugasnya.

“Bulog ber - tugas menjaga stabilisasi harga, ketersediaan, dan ke terjang - kauan,” ujarnya. Dikatakan Bachtiar, kondisi riil saat ini adalah harga sudah melonjak Rp40.000 per kg. Kondisi tersebut tentu sangat memberatkan masyarakat se - hingga dengan adanya penu gas - an Bulog untuk impor ba wang putih adalah membantu masya - rakat. “Untuk meng hindari agar importir-importir bawang putih tidak seenaknya memainkan harga di pasar seperti kondisi sekarang ini,” ujarnya. Di tempat terpisah, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian Moh. Ismail Wahab mengatakan, bawang putih merupakan salah satu komoditas yang meme - ngaruhi laju inflasi. Oleh karena itu, harga bawang putih terus dipantau pemerintah agar stabil.

“Kita juga sedang menge - jar luas tanam melalui APBN, wajib tanam importir, investor, dan swadaya petani, guna me - wujudkan swasembada,” ujar Ismail. Guna mewujudkan swa - sembada bawang putih, Ismail menyebutkan, luas tanam sekitar 10.000 hektare (ha) pada 2018. Hasilnya diproses dijadikan benih untuk ditanam lagi pada 2019 dan selanjutnya hasil panen 2019 dijadikan benih serta ditanam lagi pada 2020 dengan luas tiga kali lipat setiap tahunnya. “Jadi kebutuhan konsumsi dalam negeri saat ini hingga 2021 masih diperoleh dari impor, kare - na produksi dalam negeri dijadi - kan benih untuk ditanam lagi pada arealyanglebihluas,” katanya.

Selanjutnya, kata Ismail, para importir diharuskan wajib tanam dan berproduksi 5% dari usulan volume impornya. Para importir patuh dengan wajib tanam. Buktinya sekarang real - isasi wajib tanam sudah di atas 5.000 ha. Bagi importir yang mangkir tidak tanam, pastinya di-blacklist terus dilaporkan ke Satgas Pangan Polri untuk di - proses lebih lanjut. Saat ini ter - dapat 25 importir yang wajib tanam bawang putih. “Saya juga minta Satgas KPK dan Satgas Pangan Polri agar menelusuri aksi pat gulipat para mafia importir bawang putih yang nakal beserta seluruh afiliasi, konco-konco dan jaringan nya,” ujar Ismail.

Sudarsono