Edisi 26-03-2019
Kemitraan Industri dan Petani Ditingkatkan


JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong para pelaku industri makanan dan minuman (mamin) berbasis agro untuk bersama-sama mengembangkan rantai pasok melalui pola kemitraan dengan petani dan kelompok usaha tani, termasuk dalam penerapan teknologi revolusi industri 4.0.

Konsep yang disebut Corporate Shared Value (CSV) ini diha rapkan bisa ikut menyejahterakan para petani serta memacu peningkatan daya saing global sek tor industri mamin. “Dibandingkan dengan nega ra lain, sektor makanan dan mi numan Indonesia memiliki potensi pertumbuhan besar ka rena didukung sumber daya per tanian yang melimpah dan per mintaan domestik yang besar,” kata Menteri Perin dustri an (Menperin) Airlangga Har tarto saat Peluncuran Ka - was an Industri Hortikultura Didukung Aplikasi Industri 4.0 dan Pelepasan Ekspor di Tanggamus, Lampung, kemarin. Kabupaten Tanggamus kini menjadi salah satu kawasan penghasil produk hortikultura ter utama pisang mas, jambu, pe paya, dan nanas.

PT Great Giant Pineapple (GGP) sebagai perusahaan swasta terbesar penghasil produk hortikultura di Indonesia melakukan eks - pan si bisnis di Kabupaten Tang ga mus dengan konsep CSV. Konsep kolaborasi ini dijalankan bersama petani dan kelompok usaha tani setempat melalui koperasi usaha tani. “Kawasan industri hor ti - kul tura di Tanggamus ini me - ru pakan sebuah kawasan te ro - bosan yang menjadi proyek per con tohan untuk pengem - bangan kawasan lainnya di Indonesia. Apalagi adanya ko - la borasi antara masyarakat pe - tani dengan perusahaan PT GGP yang memang sudah ung - gul di sektor hortikultura,” ujar Menperin.

Menurut Airlangga, kon - sep CSV memberikan ruang bagi para petani untuk me - ngem bangkan hasil pertanian dari kebun sendiri. “Kebetulan tanamannya cocok untuk wi la - yah Indonesia, seperti nanas dan pisang. Melalui CSV atau jenis usaha berbagai ini, kor po - ra si akan menyediakan bibit, melakukan pendampingan, dan membantu ekspor, yang harapannya petani menda pat - kan untung,” katanya. Oleh karena itu, konsep ter - sebut akan terus diupayakan Kemenperin untuk diting kat - kan. “Apalagi rencananya ada ekspor pisang satu kontainer setiap bulan,” ujarnya.

Konsep CSV di Kawasan Berikat ini didukung Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan sehingga pupuk dan pestisida berasal dari PT GGP dapat digunakan petani bina an tanpa subsidi apapun dari pe merintah namun dengan sya rat tidak adanya inventory pada petani. Langkah strategis tersebut untuk bisa mem ban tu petani dalam memantau ke giatan onfarm, termasuk pe ma kaian pupuk dan pestisida yang telah dikembangkan me la lui apli - kasi berbasis Internet of Things (IOT) dinamakan e-Grower.

Melalui aplikasi tersebut, kegiatan on-farm seluas 337 hektare dengan jumlah petani 423 orang di empat kabupaten Provinsi Lampung yang men - jadi mitra PT GGP bisa di pan - tau real time hingga jumlah pa - nen yang dapat diekspor. Plt Direktur Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Ngakan Timur Antara menambahkan, program kawasan industri hor tikultura yang berko la bo - ra si dengan petani dan kelom - pok usaha tani melalui ko pe ra - si usaha tani atau disebut Cor - po rate Shared Value (CSV) se - per ti yang diterapkan di Ka - bupaten Tanggamus bisa men - jadi role model bagi wilayah lainnya.

“Sebagai percontohan yang baik, maka konsep kemitraan ini diharapkan dapat diikuti wilayah provinsi lainnya, seperti Bali dan Bengkulu. Ke berhasilan konsep ini bisa dilihat dari ekspor produk hor ti kultura yang hari ini dilepas dengan tujuan ke Singapura dan China,” ungkapnya.

Sudarsono