Edisi 14-04-2019
30 Tahun Didi Budiardjo Berkarya


MELALUI peragaan busana bertajuk “Terlahir Kembali”, desainer Didi Budiardjo menghadirkan koleksi busana mewah nan elegan.

Peragaan busana ini juga menandai 30 tahun Didi Budiardjo berkarya di industri mode. Selama 30 tahun Didi berhasil membawa setiap lembar busana ciptaannya dikenang karena berkarakter kuat. Didi mengagumi banyak hal sehingga inspirasi bisa diraihnya dan olah dari mana saja di koleksi ini.

“Didi adalah satu-satunya desainer busana di Indonesia yang saya rancang show -nya,” kata Felix Tjahjadi, art director pergelaran busana di Opus Grand Ballroom, Jakarta Selatan, belum lama ini. Dalam pergelaran ini, Didi membuka cakrawala cintanya tentang cita rasa dan citra karyanya.

Dia ingin menyingkap rahasia hati yang dimilikinya, terutama tentang rasa sejak pertama kali jatuh cinta pada mode—tiga dekade lalu. “Sebelum peragaan busana ini, saya menghadirkan trilogi peragaan busana Curiosity Cabinet, Pilgrimage, dan Sawung Galing,” sebut Didi.

Peragaan busana malam itu disajikan di ruang panggung peragaan dengan permainan tata lampu serbamerah dan asap putih. Sebelum masuk pada koleksi utama, peragaan dibuka dengan penampilan tujuh rancangan busana perempuan serbaemas.

Ketujuh perempuan tersebut memperkenalkan serial terbaru tata rias wajah yang dikeluarkan oleh Lt Pro Professional Make-up. Rancangan Didi selalu memperlihatkan cita rasa puitis, sekaligus seksi yang bertutur dengan sentuhan penuh elegansi.

Inspirasi mode era 80-an sangat terlihat di koleksi ini. Siluet dan teknik jahit yang unik membuat sebagian besar gaun malam terlihat begitu melodramatis. Para model pun tampak anggun dalam balutan gaungaun dramatis, terusan panjang superlebar, tiered dress yang mewah, dan jaket over sized .

Aksesori berupa ornamen besar seperti simpul pita di bagian leher, hingga lengan bouffant aristokratis menambah kesan unik. “Seluruh koleksi busana dilengkapi dengan Rinaldy A Yunardi Accessories,” sebut Didi.

Didi menuturkan, skema warna di peragaan busana ini lahir dari ilham kehidupan Dewi Shinta yang penuh gejolak dalam kisah Ramayana . Penggunaan warna merah dan emas cukup mendominasi di peragaan ini. Material motif floral yang tabrak corak menjadi puncak koleksi yang memukau.

Sejumlah gaun menampilkan jacquard yang kokoh. Terlihat pula bahan filcoup e yang tipis halus bertekstur, serta tekstil mengkilat yang tampak mewah. Sekitar tiga puluh busana yang didominasi kilau keemasan dan merah yang semakin mengagungkan koleksi dan mengundang decak kagum.

dwi nur ratnaningsih


Berita Lainnya...