Edisi 15-04-2019
Ciptakan Dispenser dan Timbangan bagi Disabilitas


BANDUNG –Kekurangan fisik yang dimiliki penyandang di sabilitas terkadang membuat mereka sulit melakukan aktivitas harian. Misalnya dalam menyeduh kopi, mereka membutuh kan orang lain untuk memasak air dan menakarnya.

Begitu pun aktivitas lainnya yang ter ka dang hanya bisa dibaca seperti timbangan. Latar belakangan itulah yang merangsang mahasiswa Universitas Pendidikan In donesia (UPI) Bandung yang tergabung dalam Komunitas Ma hasiswa Penggemar Otomasi dan Robotika (Kompor) men cip takan dispenser dan tim ba ngan bagi penyandang di sa bi litas, terutama tunagrahita. “Selama ini mereka ke sulitan dalam menakar air ketika membuat minuman seperti teh atau kopi. Terkadang, mereka harus mencelupkan tangannya ke gelas air panas. Pertimbangan itu yang melatarbelakangi kami membuat alat khusus un - tuk disabilitas,” kata Anggota Kompor Wahyudin di Kampus UPI, Kota Bandung.

Pada alat yang dinamakan Dis penser Berbicara itu mahasiswa UPI membuat takaran khu sus yang disesuaikan volume ge las. Penyandang disa bilitas ting gal memilih volume air un tuk air panas atau dingin yang terhubung dengan tombol huruf Braille. Setelah ditekan, Dispenser Bicara akan mengalirkan air se - suai permintaan. Di saat ber sa - maan, juga muncul suara yang memberitahukan besaran volume air. “Dispenser ini akan me - mi sahkan mereka me nuang - kan air sesuai takaran,” ka ta - nya. Sistem dispenser juga tidak berbeda jauh dengan Tim ba - ngan Berbicara. Tunagrahita akan mengetahui volume ba - rang yang ditimbang dari suara yang muncul dari timbangan tersebut. Kendati bentuknya mini, timbangan tersebut akan sangat membantu penya n - dang disabilitas yang ber da - gang. Bahha Hamzah, ketua UKM Kompor, mengatakan, proses ide hingga menjadi temuan da - lam bentuk produk jadi me me - r lukan waktu sekitar 1,5 bu lan.

Di mulai dari riset langsung ke be berapa sekolah luar biasa (SLB), kemudian dilanjutkan proses pembuatan dan revisi produk. “Proses perencanaan hing - ga pembuatan tidak terlalu la - ma, hanya butuh waktu sekitar 1,5 bulan. Saat ini dispenser dan timbangan ini sudah men - jadi pro duk jadi yang siap di gu - nakan dan dibuat dalam jumlah banyak,” jelasnya. Dalam proses pembuatannya, tidak ada kendala berarti. UKM Kompor, kata dia, terdiri atas gabungan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu seperti elektro sehingga dalam proses pem buatan tidak ada kendala berarti. Kendala yang ditemui, kata dia, hanya soal pembiayaan. Wa laupun dana yang di bu - tuhkan untuk membuat satu dis penser sekitar Rp700.000, na mun uang itu didapat dari pa tungan. Tidak ada sum ba - ngan dana dari Ke men ristek Dikti atau instalasi lain nya.

“Kami berencana akan mem - buat pilihan dispenser dan tim - ba ngan ini untuk dihibahkan ke SLB di Jabar walaupun kami terkendala pembiayaan. Kami berharap ada lembaga atau ins - tansi yang mau mendanai atau bekerja sama untuk hibah alat ini,” bebernya. Dosen Pembimbing UKM Kompor Wawan Purnama ber - ha rap, penemuan mahasiswa UPI ini bisa memberi manfaat bagi pe nyandang disabilitas, ter uta ma bagi sekolah luar biasa (SLB). Produk ini di ha - rap kan ke depan bisa di man - faatkan ma syarakat luas.

“Kami berharap temuan ini bisa merangsang ma hasiswa lain untuk menemukan hasil riset, produk, atau pe ne litian lain nya. Budaya itu yang terus kami digalakkan di UPI,” im - buhnya. Dalam waktu dekat, te mu - an tersebut akan didaft ar kan un tuk mendapatkan hak pa - ten se hingga kekayaan inte - lek tual ini bisa dijaga.

Arif budianto