Edisi 15-04-2019
Pentha Helix


Tantangan pembangunan yang kian kompleks dan rumit membuat pemerin tah tidak bisa bekerja sendirian untuk menyelesaikan semuanya.

Kolaborasi anta relemen masya ra kat sering menjadi se buah so lusi mengingat kompleksitas ma salah juga menuntut keahlian yang spesifik untuk meng atasi nya. Karena itu, pe nye lenggaraan pemba ngun an me merlukan pi - hak lain un tuk ter li bat aktif da - lam men desain ke bi jak an dan ikut meng awasi proses pe lak sa - na an. Di era terkini, pemerintah ti - dak lagi sungkan-sungkan meng - ajak sektor swasta dan akademisi un t uk duduk bersama mem bin - cangkan isu-isu terkini agar mem perluas referensi kebijakan. Kon sepsi ini yang kemudian di - per ke nal kan sebagai sinergi triple helix. Pemerintah mulai menyadari bahwa kebijakan yang paling efek tif adalah kebijakan yang pa - ling sesuai dinamika pasar.

Na mun, dalam per ja lan an - nya, se iring kian ber kem bang - nya prak tik demokrasi, ke ter bu - kaan, dan tuntutan untuk mem - buka ruang partisipasi yang lebih luas lagi, konsepsi ini kemudian diper luas cakup an nya dengan me ma sukkan un sur media dan ko mu ni tas/or ga nisasi masya ra - kat (ormas) da lam ring utama pem ba ngun an. Konsep ini ke - mu dian di isti lahkan sebagai sinergi pentha helix. Dalam elemen pentha helix, di situ ada berbagai sumber ke - kuatan yang bisa diarahkan un - tuk meningkatkan efektivitas pembangunan. Pemerintah de - ngan kekuasaan politiknya da - pat diolah sebagai political power. Komunitas yang mema - yungi unsur-unsur masyarakat baik yang bersifat homogen maupun heterogen memiliki ke kuatan berupa social power.

Akademisi yang secara reguler terus mengembangkan teoriteori pembangunan memiliki kekuatan dari sisi knowledge power. Para pengusaha selaku pelaku bisnis secara langsung memiliki kekuatan dari sisi en - trepreneurship power. Dan un sur pentha helix yang terakhir, yakni media sebagai corong in formasi bagi masyarakat, me mi liki ke - kuatan dari sisi opinion power. Kita bisa memba yang kan beta - pa dahsyatnya sumber ke kuat - an ini jika dapat diper satukan dalam arah yang sama. Tentu ela borasi kelimanya per lu di de - sain agar tepat pada po tensi dan wewenangnya ma sing-masing. Menurut pandangan penu - lis, ibarat sebuah formasi da lam olah raga futsal, kelima un sur pen tha helix memiliki posisi masing-masing yang dise suai - kan dengan karakteristik dan kapasitas potensinya.

Di posisi striker, penulis menempatkan dua karakter, yakni komunitas masyarakat dan pebisnis seba gai ujung tombaknya. Karena pa da hakikatnya, kedua karak ter ter - sebut yang paling dekat dengan dampak langsung atas hasil pem bangunan di suatu dae rah/ negara. Jika merujuk pada struk - tur ekonomi Indo ne sia, ke dua - nya juga menjadi yang paling ting gi peranannya dalam akse le - rasi pertum buh an eko nomi. Pe - bisnis men du kung per tum buh - an ekonomi melalui ke kuatan pro duksi dan inves tasi nya, se - dangkan ma sya rakat men jadi tu lang pung gung per eko no mi - an dengan ke kuatan konsum si - nya. Pada saat kedua nya mena - han keku at annya, per tum buh - an eko no mi Indo nesia biasanya lang sung lunglai seketika. Ka rena i tu, kedua ka rakter perlu dira - wat eksistensi nya dengan men - ciptakan sup port ing sys tems dari unsur-un sur lain da lam sinergi pentha helix.

Pada formasi selanjutnya, ka rakter akademisi dan media pe nulis tempatkan sebagai pi lar pertahanan dan peng um pan serangan. Keduanya layak me - nempati posisi tersebut ka re na core business -nya memang ti dak didesain sebagai penye rang, te - tapi sebagai penyeim bang. Aka - de misi bisa berperan mem beri - kan umpan serangan be rupa ino vasi dan pembaruan se bagai prasyarat untuk men cip takan daya saing dan meng gen jot laju pertumbuhan eko no mi. Ada - pun peran media ter le tak pa da spesialisasinya seba gai pem - ben tuk opini dan pe nye bar luas - an informasi yang ber gu na da - lam proses pemba ngun an.

Akademisi dan media bisa menjadi jembatan pengeta hu - an dan daya saing. Adapun po - sisi yang paling tepat bagi pe - merintah adalah sebagai keeper dalam struktur pembangunan. Indonesia sebagai negara peng - anut paham Keynesian memi - liki karakter bahwa peran pe - merintah baru dibutuhkan pa - da saat kondisi pasar sedang mengalami “defisit”. Akan teta pi, tidak tertutup kemung kin an bahwa pe me - rintah juga bisa membantu se - rangan, karena pada kondisi yang lain pe me rintah kadang menjadi langkah awal dari se - buah struk tur pem bangunan. Posisi kiper dalam permainan futsal atau sepak bola modern me mi liki karakter yang lebih dinamis dalam per mainan.

Pe - ran vital se orang ki per tidak ha - nya dispe sialkan se bagai ben - teng terakhir per ta hanan, te - tapi ki per juga mu lai dituntut me mi liki fleksi bi li tas yang ting - gi bisa sebagai pen jaga gawang, peng um pan jitu me la lui shortpass atau long-pass, dan menjadi pe nye mangat bagi tim nya. Na - mun, core utamanya te tap se ba - gai buf fer dan pe nye im bang. Praktik pentha helix Jika me - lihat perkembangan terkini da - lam lingkup Indonesia, defi sit pembangunan yang paling me - non jol tampak dari sisi pem bia - ya an, inovasi, daya sa ing, regu - lasi, dan inklusivitas ekonomi. Ka rena itu, kita perlu meng hi - dupkan sinergi pentha helix se - ba gai salah satu media gotongro yong pembangunan.

Misal - nya di bidang pembiaya an, sangatlah tidak cukup dana yang dimiliki pemerintah un tuk me - nye lesaikan seluruh ma sa lah pem bangunan. Un tuk itu, pe - me rintah perlu me li bat kan swas ta dan masyarakat untuk ter libat dalam pem bia ya an pem bangunan. Namun, un tuk da pat meng ikut ser ta kan sek - tor swasta dan ma sya ra kat da - lam pembiayaan, pe me rintah perlu memikirkan ba gaimana me kanisme kelem ba gaannya. Se lain dengan men ciptakan per aturan yang stabil, trans pa - ransi anggaran dan ke ter bu ka - an informasi juga dibutuhkan un tuk meya kin kan publik bah - wa pem bia ya an pembangunan akan di ke lola secara kredibel, pro fesio nal, dan menghasilkan ke un tung an bersama.

Kondisi yang sama juga di - butuhkan di tingkat daerah. Pem bangunan daerah jika ha - nya dilakukan oleh pemerintah sendiri, bisa dipastikan kiner ja - nya akan lebih lambat dalam pelaksanaan. Karena itu, peran sektor swasta dan masyarakat di daerah sangat diperlukan un tuk menginisiasi dan meng im ple - mentasikan gotong-ro yong eko nomi. Pemerintah ber peran se bagai desainer ke rang ka kebi - jak an dan menyi ap kan rule of the game, se dang kan sektor swas ta dan ma sya ra kat tetap menjadi ujung tom bak melalui investasi, pro duk si, dan kon sumsi. Bagaimana dengan peran aka demisi dan media? Ya se perti yang penulis utarakan ta di.

Keduanya akan menjadi penyempurna kebijakan jika core business-nya dapat dioptimal - kan. Akademisi dapat menjadi advisor bagi pemerintah, pe bisnis, dan masyarakat untuk melahirkan konsep-konsep ino vasi. Peran media menjadi pen jaga gawang penye bar luas an infor - ma si dan transparansi k a r ena pa da hakikatnya infor masi yang transparan akan me mi - nimalkan biaya transaksi ekonomi.

CANDRA FAJRI ANANDA
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya