Edisi 15-04-2019
Saatnya Menetapkan Arah Masa Depan Bangsa


Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden (caprescawapres) su dah memaparkan visi dan misi masing-masing di ha dapan berbagai elemen masyarakat di semua pelosok Tanah Air.

Visi-misi itu memberi gam baran tentang arah masa de pan bangsa. Kini pilihan dan ke putusan ada di tangan rak yat yang dieks pre sikan melalui hak memilih pada Rabu, 17 April 2019. Debat kelima dalam agenda Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 sudah terlaksana pada Sabtu, 13 April. Debat kelima itu menandai berakhirnya masa kampanye pilpres mau pun kam - panye pemilihan ang gota legislatif (pileg). Maka, tahun politik sekarang ini me masuki masa tenang, ter hi tung sejak Minggu, 14 April 2019. Se mes tinya, berakhir su dah hiruk-pikuk per siapan pa ra kontestan pilpres dan pileg serta tim pe me nangan masing-masing. Masa tenang itu menjadi ke sem patan ter akhir bagi semua warga negara yang berhak me milih untuk mene tapkan pilihannya se be lum me masuki bilik atau tem pat pe mu ngutan suara (TPS).

Kesadaran menggunakan hak pilih bukan hanya penting, melainkan juga sangat di ha rapkan. Kesadaran meng gu na kan hak pilih itu, mau tak mau, harus dikaitkan dengan tantangan riil yang sedang di hadapi bangsa dan negara de wa sa ini. Maka, pemahaman ma sya - rakat tentang tan tang an riil itu pun sangat diha rap kan. Demi masa depan bangsa dan negara, masyarakat diha rap kan peduli. Dan, kepe du li an itu cukup direfleksikan de ngan meng gu na - kan hak pilih, sejalan dengan pertimbangan dan kehendak masing-masing. Kiranya, sebagian masya rakat sudah cukup memahami apa saja tantangan strategis yang sedang menyelimuti bang sa Indonesia.

Tentunya ada tantangan dari luar dan juga tantangan dari dalam. Apa saja masalah atau tan tangan itu sudah sering dan banyak dipub li ka sikan, di dis ku sikan, bahkan tak jarang jadi materi perdebatan. Namun, salah satu contoh tantangan yang sudah direspons dengan sangat tegas oleh negara ada lah ketika pemerintah, dengan segala risiko yang harus diha dapi, membubarkan sebuah orga nisasi yang diketahui hen dak mengadopsi ideologi atau fal safah lain, sekaligus me no lak NKRI. Setelah tragedi 1965, Pancasila kembali menghadapi coba an, setidaknya sepanjang dasa warsa ini. Tak hanya Pan casila, rongrongan juga harus dihadapi UUD 1945 serta lambang negara lainnya. Go reng an isu seputar SARA yang nya ris tak berkesudahan pun ha rus disikapi karena dam pak nya sudah nyata, yakni dalam bentuk terkotak-kotaknya ma sya rakat.

Sekelompok ma sya rakat, ka rena keterbatasan penge tahu an dan ke awa man nya, ditung gangi dan dicekoki dengan cara pikir dan cara pan dang yang tidak lazim; mem benci atau menista orang lain ka rena alasan perbedaan telah di te rima sebagai sebuah ke be naran. Rongrongan terhadap Panca sila dan UUD 1945 secara ti - dak langsung menjadi an cam an pula bagi demokrasi. Sebab, Indonesia yang demokratis seturut nilai-nilai luhur Pan ca - sila sudah konstitusional. Kendati baru berusia sekitar dua dekade, demokrasi Indo ne sia terus bertumbuh-kem bang. Rak yat berdaulat, dan semua hak rakyat yang me le kat pada setiap individu sesuai prinsipprinsip hak asasi manusia (HAM) mendapatkan peng aku an dan peng - hor mat an setinggi-tingginya dari ne gara.

Bebas ber bi car a dan ber eks pre si, bebas ber se rikat, hing ga ke be basan mene - tap kan pilihan. Apakah ke - kuatan atau ko mu nitas yang me nolak Pancasila dan UUD 1945 akan mau meng hor mati prin sip-prin sip HAM yang universal itu, ketika mereka ber - hasil tam pil se ba gai penguasa yang me ngendalikan dinamika ke hi dupan di bumi Nusantara ini? Tumbuh-kembang de mo - kra si harus berke si nam bung an, dan karena itu ja ngan biar kan ke kuatan apa pun, dan atas nama apa pun, yang coba menarik mundur demokrasi Indonesia. Sejak dulu hingga kini, selalu saja ada kekuatan yang menghendaki Indonesia pe cah untuk berbagai alasan atau tujuan.

Kekuatan asing meng in car ke ka - ya an alam negara ini. Setelah Indonesia ter pe cah, lalu men jadi negara gagal karena ri va litas antargolong an atau ke lompok. Dan, di an tara anak bangsa, ada ke ingin an meng ubah bentuk negara kesatuan dan me nolak prinsip Bineka Tung gal Ika. Kekuatan dari da lam berkembang men jadi ko mu nitas yang mampu mem beri te kan an keras ke pa da pe me rin tah karena du - kung an dari ke kuatan luar pula. De ngan be gitu, tantangan eksternal tak hanya dalam wu jud perlambatan pertum buh an ekonomi global, me lainkan juga da - lam wujud perang proxy. Selain ber tujuan me me cah per sa tu an dan ke sa tu an anak bang sa, pe - rang proxy juga me nyasar gene rasi milenial Indo ne sia da lam bentuk ser buan narkotika dan obat-obat an ter larang (nar ko ba). Se ba gian ge ne rasi mi le nial, sudah menjadi korban pe rang proxy melalui penye lun dup an narko ba yang masif.

Responsif

Pada saat yang sama, Indo - nesia harus beradaptasi de ngan perubahan zaman. Pro ses adap - tasi menjadi keha rus an agar generasi terkini dan berikutnya berkemampuan menjadi putraputri bangsa yang kompetitif dan punya kompetensi untuk melakoni dan merespons setiap peru bah an. Cara pikir dan cara pan dang harus berubah sejalan dengan perubahan itu sendiri. Bukankah cara atau mekanis me kerja dalam proses produk si pun sudah berubah. Banyak pe - kerjaan tidak lagi butuh te naga manusia karena dig i ta lisasi. Maka, seperti semua ne ga ra lainnya, Indonesia pun ha rus responsif dalam era Indus tri 4.0 sekarang ini.

Untuk itulah, ragam infrastruktur harus dibangun oleh negara demi kesiapan dan pening kat an kom - petensi anak bangsa. Orientasi bersama untuk merespons tantangan terkini dan tan tangan masa depan itu harus terus terjaga dan ter pe li hara agar derajat kesiapan anak bangsa untuk ber kom pe tisi dengan bangsa lain sema kin baik dari waktu ke waktu. Walaupun masih terdapat kekurangan di sana-sini, ko - munitas internasional telah mengakui bahwa Indonesia sudah berada di jalur yang benar untuk merespons tan - tangan terkini dan tantangan di masa depan. Pekerjaan be sar yang masih harus dilakoni adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Dan, negara sudah mene tapkan program perbaikan kua - litas SDM sebagai prioritas pada tahun mendatang dan seterusnya. Itulah beberapa faktor atau tantangan yang akan meme - nga ruhi masa depan bangsa. Ada tantangan terhadap eksis - tensi Pancasila, UUD 1945, serta keutuhan NKRI; ada po - tensi tantangan terhadap ke - berlanjutan demokrasi jika ben tuk dan dasar negara di - ubah; serta tantangan riil di bi - dang ekonomi sebagai konsekuensi menapaki era Industri 4.0. Semua tantangan itu jelas punya relevansi dengan penggu naan hak pilih yang melekat pada setiap warga negara da lam pemilihan umum seren tak pada 17 April 2019.

Setelah dua kandidat memaparkan rangkaian program selama masa kampanye dan lima kali debat, pandangan dan peni lai an kini sepenuhnya dikem ba li kan ke - pada masyarakat. Per ta nyaan - nya sederhana saja; sia pa yang paling siap dan paling realistis dalam menghadapi atau me - respons semua tan tangan riil itu? Agar tidak salah pilih, disarankan agar setiap individu bijaksana dan cerdas meng gunakan hak pilih. Bagaimanapun Pemilu Serentak 2019 ini patut dilihat atau dipahami sebagai momen tum bagi semua warga negara memperkuat kesepa - kat an da lam merawat dan mening katkan kualitas demo krasi Indonesia seturut nilai-nilai luhur Pancasila.

Pemilu 2019 juga menjadi momentum bagi warga negara untuk mene tap - kan arah dan orientasi pem ba - ngunan nasional. Itu sebabnya, partisipasi warga negara dengan menggunakan hak pilih masing-masing sangat diharapkan.

BAMBANG SOESATYO
Ketua DPR RI/Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia/Dewan Pakar Majelis Nasional KAHMI/Kepala Badan Bela Negara FKPPI/Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila






Berita Lainnya...