Edisi 15-04-2019
Kasus Bullying pada Remaja


Kasus bullying yang menimpa Audrey, siswi SMP di Pontianak belum lama ini menuai keprihatinan masyarakat akan maraknya kasus kekerasan yang dilakukan oleh remaja di Indonesia.

Mun cul nya tagar#JusticeforAudrey seakan mengentak kesadaran masya ra - kat bahwa tindakan bullying yang dilakukan oleh para remaja di Tanah Air sudah mengarah pada aksi yang membahayakan. Ka - sus bullying dengan aksi ke kerasan yang melibatkan para pe - lajar sekolah menengah sebe narnya sudah sering terjadi. Hal ini ter bukti dengan viralnya berba - gai video singkat yang merekam aksi tindakan pengeroyokan terhadap sesama siswa, seperti ka - sus penganiayaan seorang pe - lajar di Cirebon (3/4/2017), pengeroyokan siswa SMP di Karang Anyar (8/2/2019), hing - ga kasus penganiayaan sis wa SMP di kawasan Pantai Tak Berombak, Maros (12/2/2019).

Bullying pada Remaja

Perilaku bullying diartikan sebagai perilaku agresif atau tindakan merugikan yang se - ngaja dilakukan (sekali ataupun ber ulang kali) oleh teman sebaya baik secara aktual maupun inti - mi dasi secara tidak langsung. Tin dakan bullying aktual adalah ber bagai hal yang mencakup tin - dakan agresif fisik dan verbal se - cara langsung seperti memukul, mengancam atau mengin ti mi - dasi, mencuri atau memanggil nama dengan ejekan jahat, mau - pun membuat pernyataan sek - sual. Adapun intimidasi tidak lang sung adalah tindakan yang ditandai dengan pengucilan so - sial (misalnya, seorang remaja tidak bisa bermain dengan kelom pok tertentu, atau sengaja ti - dak diundang di acara tertentu) dan menyebarkan isu negatif.

Selain itu, tindakan bullying yang juga sering terjadi adalah cyber - bullying, yaitu melakukan inti mi - dasi dengan menggunakan sa - rana elektronik, yaitu gawai dan internet. Pada berbagai kasus bullying , remaja dapat terlibat sebagai ke - dua pihak, yaitu sebagai pelaku maupun sebagai korban. Pada umumnya korban penindasan adalah orang yang lebih lemah atau lebih rentan. Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja melaporkan diri pernah menjadi korban bullying (Wolke et al, 2014). Hasil survei yang dilakukan oleh WHO secara internasional pada 2010 menunjukkan 10-14% anak mengaku bahwa mereka meng - alami intimidasi kronis, yaitu tindakan bullying yang terjadi lebih dari 6 bulan.

Dampak Bullying

Dalam teori perkembangan manusia secara umum, perilaku bullying kerap dianggap sebagai masalah fase tumbuh kembang di usia remaja dan dianggap sebagai hal yang wajar karena bullying dapat terjadi di ma na - pun. Akan tetapi, berbagai hasil penelitian terbaru me nun juk - kan bahwa perilaku bullying yang terjadi pada remaja saat ini tidak dapat dianggap sebagai hal yang lumrah karena dapat menye bab - kan dampak negatif jangka pan - jang yang serius baik bagi korban maupun pelaku tindakan bullying (Fanti & Henrich, 2015; Fekkes et al, 2016; Wolke & Le - reya, 2015). Akibat tindakan bullying, korban dapat mengalami ke ce - mas an dan ketakutan berlebih.

Hal ini tentu tidak hanya me me - ngaruhi prestasi mereka di se ko - lah, akan tetapi tindakan bullying akan berdampak pada kese lu - ruh an kesehatan remaja, seperti risiko menderita agoraphobia, mudah stres, dan sakit kepala. Hasil penelitian longitudinal yang dilakukan di Inggris me - nun jukkan bahwa remaja pen de - rita bullying memiliki kecen de - rungan untuk menderita gang - gu an kesehatan seperti nyeri otot, sakit kepala dan kesulitan dalam memulihkan kesehatan saat mereka memasuki usia 50 tahun (Wolke & Releya, 2015). Pada kasus ekstrem, remaja korban tindakan bullying dengan kekerasan fisik dapat mengalami tekanan psikologi yang berat dan depresi, bahkan keinginan untuk bunuh diri.

Remaja yang meng alami trauma kronis me - mi liki risiko untuk berbalik men - jadi anarkis dengan cara mem - per senjatai diri dengan bendaben da tajam sebagai aksi me lin - dungi diri atau untuk membalas dendam. Selain itu, tindakan bullying juga dipercaya dapat menim bul - kan efek negatif bagi para pela ku - nya. Penelitian menunjukkan bah wa remaja pelaku bullying me miliki risiko yang besar untuk terlibat pada aksi kekerasan, ke - ja hatan, penggunaan obat-obat - an terlarang, dan berbagai aksi kriminal lain di usia dewasa me - reka (Copeland et al, 2013; Sou - ran der et al, 2013; Wolkeat al, 2013). Pelaku bullying juga memiliki kecenderungan untuk pu - tus sekolah sehingga mereka akan mengalami kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan, pengangguran, dan kesulitan eko nomi (Takizawa et al, 2014; Wolke et al, 2013).

Remaja pe la - ku bullying yang telah terbiasa me lakukan tindakan bullying yang disertai kekerasan akan mengalami pengikisan rasa empati terhadap sesama. Jika hal ini tidak segera ditangani, bu - kan tidak mungkin remaja pe - laku bullying akan tumbuh men - jadi dewasa yang agresif, mudah tersulut emosi, berpikiran pen - dek, memiliki sikap keji, hingga berpeluang menjadi pribadi yang psikopat.

Pengasuhan dan Perilaku Bullying

Banyak pendapat yang me - nya takan bahwa perilaku bul - lying pada remaja berkaitan d e - ngan rasa tidak percaya diri atau membenci diri sendiri. Pada kenyataannya, para remaja pe la - ku bullying cenderung memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang sangat tinggi. Akan tetapi, se ring kali rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi pada diri remaja ini tidak dibarengi du - kungan emosional yang cukup dari keluarga. Pada umumnya pelaku bullying memiliki ke ter - ba tasan kontrol dan dukungan sosial dari keluarga.

Akibatnya, mereka cenderung mencari ben - tuk ekspresi rasa percaya dirinya yang tinggi melalui tindakan yang agresif, sikap prokekerasan, impulsif, dan penindasan ke pa - da teman sebaya yang dianggap lemah. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan “pengakuan” dari kelompok teman sebayanya. Selain itu, pengalaman peng - asuhan juga memiliki risiko yang besar dalam memicu tindakan bullying oleh remaja. Gaya peng - asuhan orang tua yang me ne - kan kan pada metode disiplin de - ngan menggunakan perilaku intimidasi pada anak, dipercaya memiliki andil yang besar bagi re - maja untuk melakukan bullying . Tindakan bullying kepada teman sebayanya dianggap sebagai se - buah cara untuk melam pias kan pengalaman emosi tidak menyenangkan yang diterima dari pengasuhan di rumah kepada pihak lain yang dianggap lebih lemah.

Melihat keseriusan dampak perilaku bullying baik bagi kor - ban maupun pelaku dan ma rak - nya aksi bullying dengan ke keras - an yang terjadi di Tanah Air, pe - nerapan integrasi program antibullying pada sistem pendidikan di sekolah dapat dinilai sebagai sebuah terobosan yang strategis. Program yang terintegrasi me la - lui pendekatan yang berfokus pa - da kolaborasi pihak sekolah (kepala sekolah, guru, petugas administrasi, petugas keber sih - an, kafetaria, dan lainnya), orang tua, masyarakat melalui pe ru - bah an iklim pendidikan dan implementasi norma-norma me lawan bullying diharapkan da - pat menjadi vaksin yang ampuh dalam menghadapi tindakan bullying yang disertai dengan ke - kerasan oleh para remaja.

Memberikan dukungan ser - ta perlindungan bagi semua sis - wa juga perlu untuk dilakukan sehingga korban bullying me ra - sa tidak takut untuk melapor. Hal ini penting diper tim bang - kan karena beberapa negara maju seperti Finlandia, Hong Kong, Amerika, dan Australia telah membuktikan bahwa pen de kat an anti-bullying yang mem fo kus kan hanya pada mediasi pe nye le sai an masalah antara pelaku intimidasi dan korban me nun jukkan hasil yang tidak terlalu mem ba ha - gia kan. Harapan pada integrasi yang kuat dengan sistem yang komprehensif dan melibatkan berbagai pihak sebagai kontrol sosial ini kasus bullying dengan aksi kekerasan pada remaja dapat dimi ni mal kan hingga titik terendah.

YULINA EVA RIANY
Dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB, Tenaga Ahli Program Pendidikan Keluarga, Kemendikbud







Berita Lainnya...