Edisi 15-04-2019
Peduli Legislatif


Pemilu 2019 merupakan momentum bersejarah ba gi bangsa Indonesia. Rakyat Indonesia akan memilih presiden-wakil presiden, anggota DPD, DPR, DPRD provinsi dan kabupaten/kota secara bersamaan.

Sistem pemilu tersebut merupakan yang pertama di Indonesia, bahkan satu-satunya di dunia. Pemilu serentak bertujuan agar pro ses politik lebih efisien, meng hapus kan politik uang, dan meng - hilangkan election fatigue. Akan tetapi, antusiasme ma syarakat untuk memilih pre siden-wakil presiden jauh lebih tinggi dibandingkan de - ngan memilih anggota le gislatif. Hal tersebut terlihat dari perdebatan publik di media massa dan media sosial serta kam panye terbuka. Masya rakat begitu fanatik mendukung calon presiden-wakil presiden. Mereka rela menyumbang da - na dan tenaga untuk ke menang an calon idamannya. Terhadap calon legislatif, ma syarakat tampak ademayem, bahkan cenderung pasif. Geliat sedikit terlihat untuk calon anggota DPD, terutama yang diusung oleh organisasi sosial dan keagamaan.

Citra Legislatif

Rendahnya dukungan masya rakat terhadap calon le gislatif disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, adanya pemaham an bahwa anggota legis la tif kurang berperan dalam pe - nyelenggaraan negara. Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan dipan - dang lebih strategis dan oto ri tatif dalam menentukan jalan nya pemerintahan. Posisi pre si den sebagai pemimpin ekse ku tif dinilai lebih tinggi dari legislatif. Kedua, citra buruk lembaga legislatif, khususnya DPR dan DPRD, di mata sebagian besar masyarakat. Survei menyebut lembaga legislatif sebagai salah satu institusi negara yang pa - ling korup. Penilaian publik se - makin buruk dengan gaya hi - dup sebagian anggota legislatif yang glamor, he donis, dan jauh dari moralitas utama.

Ketiga, faktor psikologis ka - rena kedekatan personal. Da - lam pemilihan presiden hanya ada dua pasangan calon. Hal ini ber dampak pada kuatnya ikat - an emosional, sentimen pri ba - di, bahkan polarisasi pilihan. Se mentara untuk legislatif ter - da pat banyak calon yang ber - dampak pada distribusi pi lih - an dan lemahnya ikatan. Faktor lainnya adalah mis - kin nya strategi kampanye para calon anggota legislatif. Se per - ti tidak ada cara lain kecuali me ma sang foto diri di tempat umum. Cara kuno yang tidak simpatik dan menimbulkan sampah.

Memilih Legislatif

Sesuai Undang-Undang Dasar 1945, Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hu kum (rechstaat ), bukan atas kekuasaan belaka (machtstaat) dan kekuasaan yang tidak ter - batas (absolutisme). Indo ne - sia tidak menganut pemisahan kekuasaan eksekutif, legis la - tif, dan yudikatif. Sebagai lembaga legislatif, kedudukan DPR sangat kuat karena setiap undang-undang harus mendapat persetujuan DPR (Pasal 20 UUD 1945). Undang-undang mengikat war ga negara dan penye lenggara ne - gara. Jalannya suatu peme ri n - tahan sangat dipengaruhi oleh undang-undang. Masa depan negara ditentukan oleh kua li - tas anggota legislatif.

Dengan demikian, sangat di sa yangkan jika masyarakat tidak peduli dengan anggota le - gislatif. Memang benar ba nyak anggota legislatif yang ter kena masalah hukum. Te tapi, tidak sedikit anggota le gis latif yang bersih, mumpuni, ber dedikasi, dan berintegritas tinggi. Demi masa depan bangsa, diperlukan kepedulian yang tinggi terhadap kualitas ang - go ta legislatif. Kepedulian ter - se but diwujudkan melalui be - bera pa langkah. Pertama, ber - par tisipasi aktif dalam proses politik dengan menggunakan hak memilih. Partisipasi poli - tik merupakan bukti warga ne - gara yang bertanggung jawab dan indikator kualitas demo - krasi (Diamond, 2008). Kedua, memilih calon ang go - ta legislatif yang kompeten, ber - sih, aspiratif, dan bermoral luhur dengan pertimbangan rasional dan objektif.

Tidak se ha rusnya masyarakat memilih ca leg mus - ta’mal: cacat moral dan ber ma - salah hukum (Mu’ti, 2019). Ketiga, menghindari segala bentuk jual beli suara (vote buying) untuk menjaga mar - wah pribadi dan membangun lembaga legislatif yang bersih dan berwibawa. Di tengah apa - tis me masyarakat sebagian calon anggota legislatif meng - gu nakan kekuatan material untuk mendulang suara. Da - lam bukunya What Money Can’t Buy (2009), Michael San del men sinyalir kecen de rung an peng gunaan uang sebagai sen - jata ampuh merebut ke kua sa - an, jabatan, dan ke du duk an.

Pemilu legislatif merupakan penentu dan pemandu masa depan bangsa. Memilih adalah wujud nasionalisme dan herois me politik untuk Indo ne sia yang lebih baik. Memilih anggota legislatif tidak kalah pentingnya dengan memilih presiden. Mari peduli legislatif.

ABDUL MU’TI
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Berita Lainnya...