Edisi 15-04-2019
AMMDes Dorong Perekonomian Masyarakat di Perdesaan


BOGOR - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong penggunaan teknologi Alat Mekanik Multifungsi Pedesaan (AMMDes) di berbagai desa di Indonesia.

Ketangguhan mesin AMMDes dan luasnya daya jelajah yang dimilikinya diyakini bisa membantu aktivitas masyarakat desa. ”Salah satunya juga bisa digunakan sebagai ambulance feeder di wilayah-wilayah yang bermedan berat dan minim infrastruktur jalan,” ujar Direktur Industri Maritim Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Direktorat Jenderal Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika Kemenperin Putu Juli Ardika saat Workshop & Family Gathering Forum Wartawan Industri (Forwin) di Puncak, Jumat (12/4).

Menurut Putu, fleksibilitas desain dan ketangguhan yang dimiliki AMMDes bisa dimanfaatkan oleh perangkat desa dan masyarakat untuk difungsikan sebagai ambulans. Dengan begitu, kendaraan ini di - harapkan mampu mengurangi tingginya angka kematian ibu melahirkan di perdesaan. ”Teknologi yang ada di AMMDes sama dengan teknologi yang ada di kendaraan 4 WD (wheels drive). Karena itu, memiliki kekuatan sangat cocok untuk menembus medan berat dan menjemput/mengantar ibu hamil ke rumah sakit terdekat. Jadi kita bisa bersamasama mengurangi angka kema - tian ibu hamil,” katanya.

AMMDes juga diharapkan bisa meningkatkan produkti - vitas petani di desa. Sifatnya mult iguna membuat AMMDes memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki jenis mobil perdesaan lainnya. Putu menambahkan, melalui AMMDes, petani dapat menikmati hasil tanamnya dengan lebih baik. Mengacu pada data riset Kemenperin di Sukabumi dan Cianjur, Jawa Barat, rata-rata ongkos angkut hasil bumi ke kota menghabiskan biaya sekitar Rp1,7 juta per bulan. Hal itu disebabkan kecilnya ruang pengangkutan, maklum selama ini para petani menjual hasil taninya ke kota menggunakan sepeda motor. Namun, dengan menggunakan AMMDes, ongkos kirim menyusut menjadi Rp900.000-an.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Kreasi Mandiri Wintor Indonesia (KMWI) Reza Treistanto menuturkan, melalui AMMDes produktivitas petani dan industri kecil menengah (IKM) bisa semakin terdorong. Pasalnya, terdapat 63 perusahaan lokal yang terkait dalam proses pembuatan AMMDes, ditambah efek dominonya juga bisa dirasakan masyarakat luas. ”AMMDes dijual juga beserta aplikasinya. Nah, aplikasinya ini dibuat anak bangsa mulai dari mesin pengolahan beras, pengolahan jagung, pengolahan kopi, dan masih banyak lagi. Jadi multiplier effect -nya dapat dirasakan oleh semua,” katanya. KMWI selaku produsen AMMDes berencana menggenjot penjualannya di berbagai wilayah.

Tingginya potensi penjualan dan banyaknya efek positif yang bisa dihasilkan dari hadirnya AMMDes di perdesaan menjadi salah satu alasan perusahaan memaksimalkan ragam jalur pemasaran yang dimiliki. Saat ini KMWI memiliki kapasitas produksi 3.000 unit per tahun. Rencananya perusahaan akan meningkatkan kapasitas terpasangnya menjadi 12.000 unit per tahun pada 2020. Per seroan membagi segmen pemasarannya menjadi dua bagian. Pertama melalui pemerintah dan kedua menjualnya secara perorang an kepada masyarakat di desa. Untuk target penjualan di segmen pemerintah, bulan ini KMWI berencana mendaftarkan produk AMMDes dalam katalog elektronik atau e-cata - logue sehingga kementerian atau lembaga pemerintah lainnya yang ingin membeli bisa mengaksesnya melalui Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah (LKPP).

Sedangkan untuk penjualan langsung kepada masyarakat, KMWI melalui salah satu entitas usahanya, PT Kiat Mahesa Wintor Distributor (KMWD). Reza menambahkan, di Indonesia terdapat 74.000 desa, jika setiap desa melakukan pemesanan 2 unit, tentu jumlahnya akan sangat signifikan. ”AMMDes merupakan solusi untuk mengurangi kesenjangan dari desa,” katanya.

Sudarsono