Edisi 15-04-2019
Jelang Pemilu IHSG Diperkirakan Melemah


JAKARTA–Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diyakini akan mengalami tren penurunan pada pekan ini. Momen pemilihan umum (pemilu) ditambah hari libur Wafat Isa Al-Masih pada Jumat (19/4) diperkirakan semakin memberatkan investor untuk bertransaksi.

Meski begitu, investor diharapkan dapat melakukan pembelian saham yang tepat. Pada akhir pekan lalu, in - deks ditu tup di zona merah, yakni turun tipis 4,30 poin atau 0,07% ke level 6.405,87. Dalam sepekan kemarin, In - deks Harga Saham Gabungan turun 1,05% ke level 6.405,87 dari 6.474,02 pada penutupan pekan sebelumnya. In - vestor asing men cetak net sell Rp467,42 miliar di pasar reguler dan total net sell Rp970,02 mi liar di seluruh pasar. Associate Director Research and Investment Pilarmas Investindo Seku - ri tas Maximilianus Nico Demus me nga - ta kan, IHSG berpotensi melemah de - ngan rentang 6.393-6.420. Pekan ini me nurutnya adalah pekan penentuan.

De bat pamungkas kemarin mem beri - kan keyakinan kepada masyarakat akan pandangan mengenai visi dan tujuan ekonomi kedua belah pihak. “Dua hari libur akan membuat IHSG berpotensi melemah dan harga cenderung turun,” ujar Nico di Jakarta, kemarin. Dia juga mengatakan, pekan ini merupakan pekan yang tepat membeli karena harganya akan relatif cenderung turun dan hari transaksi sedikit karena banyaknya libur. Fokus berikutnya adalah memilih saham-saham pilihan yang tepat untuk bisa mengambil keuntungan ketika pemilu usai. Kepala Riset Narada Kapital Indo - nesia Kiswoyo Adi Joe menilai IHSG se - pekan ini akan bergerak di kisaran 6.350-6.500. Menurutnya, dampak li - bur saat hari pemilu dan Paskah mem - buat indeks akan bergerak sideway atau cenderung naik tipis.

“Harusnya tidak ada dampak signifikan dari pemilu. Di - perkirakan indeks bergerak naik tapi kecil,” ujarnya. Chief Economist & Investment Stra - tegist PT Manulife Aset Manajemen Indo nesia Katarina Setiawan mengata - kan, sepanjang satu kuartal ini, sesuai prediksinya pertumbuhan ekonomi glo bal yang melambat, terutama di ne - gara-negara maju. Bank Sentral Ame - rika Seri kat (The Fed) dan Bank Sentral Eropa sama-sama secara simultan meng hen tikan pengetatan moneter - nya dan juga menurunkan prediksi per - tumbuhan eko nomi tahun ini untuk ka - wasan masing-masing. Misalnya The Fed me nurunkan prediksi pertum buh - an ek o nomi dari 2,3% menjadi 2,1%, walaupun secara umum The Fed masih me lihat ekonomi Amerika Serikat (AS) masih kuat.

Sedangkan Bank Sentral Eropa menurunkan prediksi pertum - buhan ekonominya dari 1,7% menjadi 1,1%. Dalam perlambatan pertumbuhan eko nomi, dia juga melihat ada yield in - ver sion atau inversi imbal hasil. Misal - nya di AS, obligasi tenor pendek, seperti tiga bulan, dua tahun, tiga tahun, yield - nya naik tinggi. Bahkan satu saat lebih tinggi dari tenor 10 tahun. Seharusnya dalam kondisi normal, yield tenor pan - jang lebih tinggi dari yield tenor pendek sehingga terjadi inverse , hal ini sempat membuat pelaku pasar bingung. Me re - ka m engindikasikan suatu sinyal se - hingga resesi akan terjadi.

“Kami melihat kondisi yield inversion sebagai keyakinan pasar finansial ter h - adap ekonomi jangka pendek itu ren - dah. Tapi, terlalu dini menyatakan re - sesi pasti terjadi,” kata Katarina, be - berapa waktu lalu. Yield inversion ini bukan terjadi per - tama kali di AS. Sudah terjadi beberapa kali, pada tahun 1978, 1989, 1998, dan 2006. Jika mencermati apa yang terjadi di masa-masa itu, sejak inversi imbal hasil terjadi, indeks S&P 500 masih naik. Bahkan secara rata-rata ada ke - naikan 19% pada periode 12 bulan dari - pada waktu inversi itu terjadi. Dari domestik dia berkaca dari tiga pemilu sebelumnya pada 2004, 2009, dan 2014, yang menunjukkan indikator ekonomi dan kinerja pasar.

Me nu rut - nya, pada tahun pemilu nilai rupiah ter - tekan pada 2004 dan 2014, sedangkan tahun 2009 rupiah menguat. Kalau cer - mati lebih dalam, tahun 2004 dan 2005 harga minyak naik tinggi sehingga me - micu inflasi tinggi sampai 17% waktu itu. Apa yang terjadi tahun 2014, pada wak tu itu The Fed menghentikan quan - titative easing . Jadi dua faktor itu sangat menekan nilai tukar rupiah. “Tapi, sangat berbeda dengan saat ini. Kalau 2004 dan 2005 inflasi tinggi, se karang inflasi sangat rendah, di ba - wah 3% dan 2014 The Fed mengetatkan moneter, sekarang justru sangat ako - mo datif, malah menghentikan penge - tat an moneter.

Kondisinya sangat ber - beda,” ujarnya. Dia juga tidak melihat korelasi jelas antara arus dana investor asing dengan pemilu, baik pada 2004, 2009, maupun 2014. Kalau dilihat di tiga pemilu se be - lumnya, cenderung pasar saham malah naik pada tahun itu. Jika pemilu aman, pasar saham malah meningkat. Jadi se - betulnya dari pengalaman lalu, pemilu itu bukan suatu faktor yang ditakuti se - hingga jangan takut untuk terus berinvestasi. Apalagi kita melihat dengan berhentinya pengetatan moneter oleh The Fed, terbuka ruang bagi Bank Indo - nesia menurunkan suku bunga. “Jadi sebaiknya jangan takut, jangan kha watir, teruslah berinvestasi sesuai tujuan in vestasi dan profil risiko masing-ma - sing,” tuturnya.

Hafid fuad