Edisi 15-04-2019
Sang Ahli Strategi Hidup


NAMANYA terkenal seantero jagat raya sebagai penulis buku self-help.Dia menolong dan memotivasi pembaca agar bangkit dari segala kesusahan dan tetap percaya diri menghadapi masa depan.

Selain buku self-help, dia juga menulis buku tentang tips keuangan, menjadi konsultan kepemimpinan, hingga life-coach yang sering mengadakan seminar di berbagai negara. Dia adalah Anthony Jay Robbins atau lebih dikenal dengan nama Tony Robbins. Pada 2017, Robbins telah menulis lima buku, empat di antaranya buku terlaris, termasuk Unlimited Power dan Awaken the Giant Within. Saat krisis keuangan menghantam Amerika Serikat (AS) pada 2014, dia menulis Money: Master the Game yang menjadi buku terlaris nomor satu dalam daftar New York Times . Pada 2015 dan 2016, dia masuk daftar Worth Magazine Power 100.

Dia juga masuk daftar Top 50 Business Intellectuals dari Accenture , masuk daftar Harvard Business Press Top 200 Business Gurus dan Forbes Celebrity 100 . Selain itu, program buku, audio, dan videonya telah terjual di seluruh dunia dan telah didistribusikan di 100 negara. Selain menjadi penulis, namanya semakin menggema ketika memasuki ruang seminar yang dilakukan melalui perusahaannya Robbins Research International. Selama lebih dari empat dekade, lebih dari 50 juta orang telah menikmati kehangatan, humor, dan kekuatan transformasional dari acara pengembangan bisnis dan pribadinya. Dia adalah ahli strategi hidup dan bisnis nomor satu yang banyak dibicarakan dunia.

Dia telah memberdayakan lebih dari 50 juta orang dari 100 negara melalui program audio, video, dan pelatihan hidup. Dia menciptakan program pengembangan pribadi dan profesional nomor satu sepanjang masa, dan lebih dari 4 juta orang telah menghadiri seminar live -nya. Dikutip Daily Mail , kliennya tidak mainmain. Mantan Presiden AS Bill Clinton, mendiang Nelson Mandela, Putri Diana, Mother Teresa, hingga pembawa acara ternama Oprah rajin mendatangi seminarnya. Lalu, beberapa atlet di antaranya Serena Williams, Andre Agassi, dan Golden State Warriors. Kemudian, investor miliarder Paul Tudor Jones dan CEO Salesforce Marc Benioff dan lainnya. Belum lagi sederet artis ternama seperti Hugh Jackman, Leonardo DiCaprio, hingga Aerosmith, Green Day, Usher, dan Pitbull.

Penulis dan life-coach menjadi sebutan bagi Robbins. Lalu, dari mana semua ini berawal? Jawabannya adalah kemiskinan. Robbins mengatakan bahwa kehidupannya sejak kecil penuh dengan kemiskinan dan kekerasan. Melalui wawancara baru-baru ini dengan CNBC, Robbins menceritakan masa kecil dan remajanya yang tidak indah untuk diingat. Dia mengaku diusir dari rumah oleh sang ibu yang membawa pisau ketika berusia 17 tahun dan secara fisik dilecehkan olehnya sebagai seorang anak. Robbins dibesarkan di Hollywood Utara menjadi anak tertua dari tiga bersaudara. Ibunya kecanduan narkoba dan alkohol serta kerap berlaku kasar. Jadi, dia sejak kecil selalu melindungi kedua adiknya.

Sedangkan, ayah tirinya adalah mantan pemain baseball liga kecil yang bekerja sebagai sales dan keluarganya kerap tidak mampu merayakan Thanksgiving dan Natal. Alih-alih merasa kasihan pada dirinya sendiri, dia pun bertekad mengubah kehidupannya yang pedih menjadi batu loncatan untuk berkembang lebih baik. Pada usia 17 tahun, dia mulai bekerja sebagai petugas kebersihan sepulang sekolah dan membantu orang-orang yang pindah pada akhir pekan. Dari pekerjaannya ini, dia mendapat uang untuk membantu keluarganya. Hidupnya berubah setelah dia pergi ke seminar Jim Rohn. “Saya membuat keputusan besar menghabiskan gaji seminggu untuk pergi ke acara ini, dan saya duduk di sana dan terpesona. Itulah yang memulai permainan untuk saya,” ungkapnya, dikutip Business Insider.

Rohn adalah seorang marketing yang gemar berbicara di depan umum. Terinspirasi mantan bosnya, pengusaha John Earl Shoaff, Rohn mengembangkan filosofi kepemimpinan dan serangkaian pembicaraan di sekitarnya. Robbins pun memutuskan datang ke seminar Rohn saat dia sedang memberikan pidato pengembangan pribadi kepada para eksekutif dan karyawan di Standard Oil. Robbins menganggap pendekatan Rohn menawan dan dia mencoba mengaitkan isi seminar itu dengan kehidupan pribadinya. Dia juga sempat mendekati Rohn untuk mencari pekerjaan dan diterima. Sejak saat itu, dia mengembangkan energinya lebih tinggi, versi yang lebih personal dari apa yang dilakukan Rohn. Robbins mengasah pendekatannya di jalan melalui ratusan seminar di seluruh Amerika Utara.

Lalu, pada usia 26 tahun, dia menjadi jutawan dengan buku terlaris. Hingga saat ini, penulis dan life-coach berumur 59 tahun pada 29 Februari lalu ini tidak pernah melupakan jasa Rohn. “Dia memberi saya cara memandang kehidupan yang memungkinkan saya untuk tidak meminta hidup menjadi lebih mudah, tetapi meminta saya menjadi lebih baik. Dia membuat saya menyadari rahasia hidup adalah bekerja lebih keras pada diri saya daripada pekerjaan saya atau apa pun karena saya akan punya sesuatu untuk diberikan kepada orangorang. Dia benar-benar membentuk saya,” tuturnya dalam video penghormatan saat Rohn meninggal pada 2009.

Saat ini Robbins adalah pendiri atau mitra di lebih dari 12 bisnis, termasuk Resor Pulau Fiji bintang 5 dan perusahaan yang membuat anggota badan prostetik buatan 3D. Perusahaanperusahaan ini menghasilkan penjualan tahunan sebesar USD5 miliar. “Sejak awal, saya mengembangkan kepercayaan sederhana ini bahwa ada perbedaan antara sekolah dan pendidikan,” katanya. Robbins percaya, jika bekerja keras, dia bisa berhasil dalam hidup. “Saya percaya rahasia kehidupan seorang pengusaha adalah menambah nilai. Lakukan lebih banyak daripada yang dilakukan orang lain di pasar,” ujarnya.

Namun, dia juga pernah merasa takut dan gagal. “Jika saya pernah merasa takut dan tidak dapat melakukan ini, saya mengatakan pada diri saya bahwa saya harus segera bertindak. Kalau tidak, rasa takut akan menghentikanmu. Semakin Anda menghadapi ketakutan Anda, semakin kuat Anda menjadi,” ujarnya. Dia juga percaya bahwa kegagalan merupakan bagian penting dari kesuksesan. Setiap gagal, dia selalu bangkit kembali dan tidak menyerah. “Tidak ada orang sukses yang tidak gagal secara besar-besaran. Satu-satunya orang yang tidak gagal adalah orang-orang yang tidak melakukan apa-apa. Anda harus menyadari bahwa itu bukan kegagalan, tetapi pelajaran,” ungkapnya.

Susi susanti