Edisi 15-04-2019
Kashmir,Sekeping Surga di Bumi


RINTIK hujan menyambut kedatangan saya di Kashmir. Udara terasa dingin menggigit. Kashmir pada Maret memang masih dalam masa musi m dingin. Namun, saat inilah justru banyak wisatawan yang datang ke Kashmir.

Setelah menempuh penerbangan selama hampir dua jam dari New Delhi, pesawat yang saya tumpangi mendarat di Bandara Srinagar, ibu kota wilayah otonomi Jammu Kashmir, India. Suasana terminal kedatangan yang tidak begitu luas hari itu cukup ramai. Meski penerbangan ke Kashmir penerbangan domestik, warga negara asing tetap harus mengisi formulir imigrasi dengan isian data yang sangat detail. Nyaris tidak percaya rasanya bisa menjejakkan kaki di Kashmir. Sebab, beberapa hari sebelum berangkat, Bandara Srinagar dinyatakan ditutup untuk penerbangan sebagai dampak menegangnya militer India dan Pakistan ketika itu. Pesanan tiket pesawat ke Kashmir pun sempat dibatalkan. Tetapi, sehari sebelum berangkat, kabar baik pun datang, Bandara Srinagar sudah dibuka kembali.

Senang tentu saja, meski harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli tiket penerbangan yang baru. Tujuan pertama di Kashmir adalah Danau Dal, danau kedua terbesar di Kashmir yang berada di tengah Kota Srinagar, ibu kota Jammu Kashmir. Danau dengan rumah-rumah perahunya (house boats ) inilah yang menjadi ikon wisata di Kashmir. Dalam perjalanan, saya sempat melewati taman terkenal di Kota Srinagar, Mughal Garden. Karena musim dingin, tidak banyak yang bisa dinikmati di Mughal Garden. Hanya pohon-pohon dengan daun meranggas. Padahal, pada musim semi, taman ini akan dipenuhi bunga tulip beraneka warna. Mobil yang saya tumpangi menyusuri jalan raya yang bersisian dengan Danau Dal.

Danau Dal pada musim dingin tampak kelabu. Jajaran pegunungan yang mengelilinginya tidak terlihat karena tertutup kabut. Segerombolan burung berwarna hitam kadang terlihat beterbangan di tengah danau yang berair tenang itu. “Burungburung itu beremigrasi dari Siberia ke Kashmir pada musim dingin,” kata Javaid, orang Kashmir yang menemani perjalanan menuju Danau Dal, danau yang oleh masyarakat Kashmir disebut sebagai Permata Srinagar. Menjelang senja, saya tiba di sebuah dermaga kecil, di mana sudah menunggu perahu yang akan membawa saya ke House Boa, tempat menginap. Jangan membayangkan perahunya bermesin, karena hanya sampan yang didayung satu orang.

Perahu sampan yang saya tumpangi melaju pelan, melewati jajaran rumah perahu berbagai ukuran. Rumah perahu tempat saya menginap mirip hostel mengapung karena fasilitasnya yang cukup lengkap, mulai ruang tamu yang luas, dapur, kamar tidur dengan kamar mandi di dalamnya, dilengkapi bath tube dan fasilitas air panas. Fasilitas internet pun tersedia. Kalaupun ada yang kurang, itu adalah pemanas ruangan. Pemanas hanya ada di ruang tamu berupa tungku buatan sederhana dengan bahan bakar serutan kayu. Padahal, suhu saat musim dingin di Kashmir bisa mencapai 0 derajat Celsius. Untuk menghangatkan tubuh, hanya disediakan selimut elektrik di kamar tidur.

Kalau menginap di rumah perahu, sempatkanlah menyusuri Danau Dal pada pagi hari dan melihat pasar terapungnya. Pemandangan Danau Dal pagi itu, meski masih tertutup kabut, membuat saya teringat gambar-gambar pemandangan tepi danau di Eropa. “Mirip Halstatt di Austria,” kata teman saya.

MAGDALENA KRISNAWATI
Traveler