Edisi 15-04-2019
Kenali Faktor Risiko Preeklampsia


PREEKLAMPSIA pascapersalinan (postpartum preeclampsia ) atau tekanan darah tinggi setelah melahirkan dapat terjadi pada wanita yang memiliki tekanan darah tinggi dan kelebihan protein dalam urinenya setelah melahirkan.

Menangani preeklampsia setelah melahirkan diperlukan penanganan medis segera karena dapat membahayakan ibu, di mana ibu dapat mengalami komplikasi serius setelah melahirkan. Hal ini diterangkan dr Dian Burhansah SpOG MKes FMAS selaku Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Rumah Sakit Awal Bros Bekasi Timur. Dia menjelaskan bahwa postpartum preeclampsia merupakan hipertensi yang terjadi dalam waktu 48 jam dan bisa sampai enam minggu pascapersalinan disertai gangguan organ. Preeklampsia setelah melahirkan memiliki kriteria tensi =140/90 mmHg disertai minimal satu gejala seperti protenuria = +1, sakit kepala/penglihatan kabur, edema paru, peningkatan fungsi hati dan ginjal, trombositopenia, serta gangguan pertumbuhan janin.

Sayangnya, penyebab preeklampsia hingga kini masih belum diketahui secara pasti. “Pasien dengan preeklampsia mengalami gangguan pertumbuhan serta perkembangan plasenta yang menyebabkan kerusakan endotel pembuluh darah pada ibu sehingga menyebabkan timbulnya gejala hipertensi dan sebagainya,” ujar dr Dian. Adapun faktor risiko terjadi preeklampsia di antaranya memiliki riwayat atau masalah kesehatan seperti diabetes, penyakit ginjal, tekanan darah tinggi, penyakit autoimun (lupus), atau sindroma antifosfolipid.

Faktor risiko lainnya ialah memiliki riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya, hamil pada usia di atas 35 tahun atau kurang dari 18 tahun, hamil pertama kali, obesitas, kehamilan kembar, dan jarak kehamilan sangat jauh (10 tahun atau lebih) dari kehamilan sebelumnya. Selain itu, faktor genetik, diet makanan atau nutrisi, serta gangguan pembuluh darah.

Sri noviarni