Edisi 16-04-2019
Masa Tunggu Calhaj Tercepat 9-10 Tahun


JAKARTA - Calon jamaah haji (calhaj) yang sudah mendaftarkan diri harus bersabar menunggu keberangkatan ke Tanah Suci. Setiap daerah memiliki masa tunggu yang berbeda-beda, tergantung kuota dan jumlah pendaftar.

Berdasarkan data Kemen - ter ian Agama (Kemenag), ada dua daerah yang memiliki masa tunggu keberangkatan calhaj paling cepat, yakni Gorontalo dan Bengkulu dengan masa tunggu 9-10 tahun. “Selain Bengkulu dan Go - rontalo, masa tunggu haji di atas 10 tahun. Masa tunggu ke - berangkatan haji sejak men - daftar di masing-masing daerah berbeda-beda. Sebab kuota ini terkait dengan kuota yang diberikan kepada jamaah haji Indonesia kemudian dibagi ke kuota masing-masing provi n - si,” kata Dirjen Penyeleng gara - an Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Nizar Ali di kantor Kemenag, Jakarta, kemarin.

Sedangkan masa tunggu keberangkatan calhaj paling lama berada di Kabupaten Si - denreng Rappang (Sidrap), Su - lawesi Selatan yang waktunya mencapai 41 tahun. Nizar menjelaskan, In do - nesia mendapat kuota haji se - besar 221.000 jamaah. Jumlah ini terdiri dari 204.000 jamaah haji reguler, dan 17.000 jamaah haji khusus. Kuota jamaah haji reguler terbagi menjadi dua, yaitu 202.488 orang untuk ja - maah haji dan 1.512 untuk Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD). Hal tersebut sesuai Keputusan Menteri Agama (KMA) No 29 Tahun 2019 tentang Penetapan Kuota Haji Tahun 2019.

“Kuota inilah yang kemu dian didistribusikan ke 34 pro vinsi di Indonesia. Lamanya an trean tergantung pada perban dingan antara kuota dan jumlah jamaah haji yang mendaftar. Jadi kalau ada yang meng ingin kan masa tunggu haji itu satu tahun, ya tidak mungkin,” urainya. Seiring lamanya masa an - trean, Kementerian Agama te - rus melakukan sosialisasi gera - kan berhaji selagi muda. Ditjen PHU Kemenag juga membuat film pendek yang berisi im - bauan berhaji bagi kalangan muda dengan judul Berhaji di Masa Muda.

Menurut Nizar, upaya ini un tuk memberikan penge ta - huan bahwa memang berhaji itu sangat memerlukan fisik yang luar bisa dan sebaiknya dila ku - kan di usia muda. Pada tahun ini jamaah haji yang berusia di atas 50 tahun mencapai 24% dari total kuota jamaah haji In do - nesia, usia di atas 60 tahun se ki - tar 18%. “Alhamdulillah UU PHU sudah disetujui oleh DPR, artinya problem jamaah haji lanjut usia menjadi prioritas bagi pemerintah,” tandasnya.

Pelunasan BPIH

Tahap pelunasan Biaya Pe - nyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) bagi jamaah haji reguler tahap I ditutup kemarin sore. Berdasarkan data terakhir, ma - sih ada 19.815 kuota haji yang belum terlunasi. Jumlah itu terdiri dari 18.316 kuota ja ma - ah haji reguler dan 1.499 TPHD. “Jamaah haji Indonesia yang sudah melunasi BPIH pada pelunasan tahap I berjumlah 184.195 atau 90.29%,” terang Muhajirin di Jakarta kemarin. Maluku menjadi provinsi dengan persentase pelunasan terendah, yaitu 84,10%. Dari 1.082 kuota, sudah terlunasi 910 orang sehingga masih ter - sisa 172 orang.

Sementara per - sen tase pelunasan tertinggi ada lah Bangka Belitung yang mencapai 97,36%. Dari 1.061 kuota, sudah terlunasi 1.033 orang sehingga hanya tersisa 28 orang. Provinsi dengan jumlah ja - maah haji terbanyak yang sudah melakukan pelunasan adalah Jawa Barat. Dari 38.567 kuota, sudah terlunasi 35.347 orang. Urutan berikutnya adalah Jawa Timur dengan 30.737 orang dari kuota 35.034 jamaah. Jawa Tengah di urutan ketiga, deng - an jumlah jamaah melunasi 28.337 orang dari 30.225 kuota. “Karena masih ada sisa kuo ta, Ditjen PHU akan mem - buka pelunasan BPIH Reguler tahap II pada 30 April - 10 Mei men datang,” tambahnya.

Kasubdit Pendaftaran Haji Reguler Hanif menjelaskan, pe - lunasan tahap II diperuntukkan bagi jamaah haji yang masuk dalam enam kelompok. Per ta - ma, jamaah haji yang berhak melunasi pada tahap I namun pada saat proses pelunasan mengalami kegagalan pem ba - yaran. Kedua, jamaah haji yang nomor porsinya telah masuk alokasi kuota tahun 2019 yang sudah berstatus haji. Ketiga, jamaah haji yang akan menjadi pendamping bagi jamaah haji lanjut usia (minimal 75 tahun) yang telah melunasi pad a tahap I. Syaratnya, pen - dam ping harus terdaftar se be - lum tanggal 1 Januari 2017 dan terdaftar di provinsi yang sama. Keempat, jamaah haji peng ga - bungan suami/istri dan anak kandung/orang tua yang ter pi - sah.

Syaratnya, jamaah yang akan digabungkan juga harus terdaftar sebelum tanggal 1 Januari 2017 dan terdaftar di provinsi yang sama. Kelima, jamaah haji lanjut usia minimal 75 tahun per tanggal 7 Juli 2019 yang telah memiliki nomor porsi dan terdaftar haji reguler sebelum tanggal 1 Januari 2017. Ke - enam, jamaah haji yang masuk no mor porsi berikutnya ber da - sarkan database SISKOHAT sebanyak 5% dari jumlah kuota provinsi dan/atau kabu pa ten/ - kota yang berstatus belum haji dan telah berusia 18 tahun atau sudah menikah (cadangan).

Sunu hastoro