Edisi 16-04-2019
Menang dari Ujian Demokrasi


Mestinya hari yang paling membahagia kan dan sakral untuk dirayakan oleh rakyat Indonesia jatuh pada Rabu, 17 April 2019. Karena pada momen itulah klimaks dari upaya rakyat mempertontonkan kedaulatan politiknya sebagai yang empunya elektoral.

Rakyat akan memberikan mandat ke pa da para politisi di bilik suara un tuk memformulasi dan m e nen tu kan kebijakankebi jakan pe me rintah yang menyangkut har kat k ehi dup - an rakyat pada lima tahun men - datang (Ken neth Ra sin sky & Tom Tyler, Pol tiical Be haviur Annual, 1986: 10). Itu sebabnya kegiatan pol i - tik (pemilu) bukanlah semata w a dah tindakan strategis untuk memperoleh/memperebutkan dan menjalankan kekuasaan atau pemaksaan kehendak oleh penguasa terhadap objek ke - kua saannya dengan cara apa pun. Pemahaman politik se per - ti ini terlalu naif karena mudah disalahgunakan untuk peme - nuh an kepentingan individual, ke lompok bahkan untuk ke pen - tingan oligarkis.

Namun politik, dalam hal ini pe milu, sejatinya tindakan ko - mu nikasi, dialog dan partisipasi warga negara di ruang publik sebagaimana yang dikatakan Han nah Arendt (1906-1975), filsuf perempuan berdarah Ya - hudi (dalam Shafwan, Filsafat Politik Hannah Arendt, 2003). Dialog yang dimaksudkan ada - lah interaksi dan pertukaran ga - gasan hingga penentuan ke - putusan politik secara jujur di bilik suara.

Keistimewaan politik

Karenanya, menyia-nyia kan hari pemungutan suara de ng an bersikap apatis termasuk me - milih bersikap golput seja ti nya bukanlah bagian dari prak sis politik kewarganegaraan (po litics of citizenship) yang cer das dan dewasa. Golput me mang bagian dari partisipasi po litik, namun pembangunan demokrasi yang konsolidatif juga memerlukan dukungan dan par tisipasi politik yang tinggi. Ha nya dengan par - tisipasi po litik yang tinggi ar ti - kulasi kepentingan rakyat mampu di ak tualisasikan secara prose du ral dan maksimal, sehingga kemu dian akan melahirkan pemerin tahan yang legitimatif dan ber komitmen penuh untuk melayani pemenuhan kebutuhan pu blik.

Dari sudut pan - dang eva lua tif, Pe milu 2019 me miliki “keis ti mewaan po l i t i k ” ter sen diri ka rena se - la ma masa kam panye kita di - haru biru oleh at mos - fer ri va litas yang ke - ras dan ta jam hing ga mun cul pola risasi yang mem buat elemen so - sial-ke bang sa an ter be - nam da lam prasangka dan stig ma ti sa si. Prak tis selama masa kampanye, “ba ju kese ha ri an” ki ta seolah-olah ha - nya memiliki “dua war na” se - cara politis, di te ngah realitas ke beragaman (Bhi ne ka Tung - gal Ika) yang kita miliki.

Maka dalam gawedemokrasi kali ini, baik di masa tenang, hari- H pencoblosan maupun pas ca pemilu, saatnya kita mem pertontonkan dan membuktikan kemenangan dari ujian de mokrasi dengan bersepakat me reinkarnasi sikap politik yang nirdemokratis tadi menjadi sikap politik yang rasional, sejuk, op ti - mis dengan memanfaatkan hak politik sebaik-baiknya. Di ujung dari tahapan pascapemilu itu akan terbaca apakah demokrasi kita mampu mentransformasi - kan nilai-nilai politik praktis yang banalitas dan “keras” itu menjadi nilai-nilai politik ke pu - blikan yang berimplikasi pada kesejahteraan dan kelestarian eksistensi NKRI.

Selanjutnya juga akan ter - baca sejauhmana nasionalisme kita dipertahankan secara sub s - tantifdankonstruktif. Ber da sarkan tipologi Max Weber (1958) tentang subjective mea ning dari tindakan sosial di du nia, ma syarakat terbagi paling sedikit tiga golongan. Di antara nya ada golong an rasionalis yang me nyandar kan kebang sa an nya pada urusan untung-ru gi, yang ha - nya mengutamakan kepenting an pribadi dan ber si kap opor tunis. Ada pula go lo - ng an emosional yang mem prak tik kan hidup ke bangsaanya se cara situasional, ber ubah-ubah, di sesuaikan motif, selera dan kepen tingan. Ini bisa di kon teks tua li sasikan da lam ga ya ber - politik yang ke rap cair, tidak ideo logis, le - bih meng iku ti tren ke pentingan.

Dan, ada pula go - longan masyarakati dea lis yang mendasarkan ke war ga an nya pa da nilai-nilai nasionalisme, kerukunan, patriotisme. Jika kita mampu meng ak hi - ri kontestasi politik dengan ani - mo partisipasi politik yang ting - gi, berkualitas dan damai, maka kita akan menjadi bagian dari masyarakat yang idealis yang mampu membuka jalan bagi proses transformasi politik dan demokrasi ke arah peng genapan c ita-cita ideal sebagaimana yang dimandatkan oleh kons ti - tu si. Kita akan semakin mudah untuk melembagakan prinsipprinsip politik yang inklusif dan menghargai kebebasan ber ekspresi secara egaliter di dalam perangkat institusi politik kita untuk kemudian memproduksi budaya politik dan demokrasi yang sehat, kuat dan memiliki daya lenting yang tinggi dalam bersaing baik secara nasional maupun global. Hal tersebut berpeluang be - sar kita ciptakan mengingat kita juga sudah terbukti sukses me - laksanakan gelaran Pilkada Se - rentak tahun 2015, 2017 dan 2018. Itu berarti kita memiliki benih militansi untuk merubah wajah demokrasi kita secara bertahap menjadi lebih baik dan meyakinkan.

Dua Terobosan

Yang tidak kalah pentingnya Pemilu Serentak 2019 nantinya ada lah fasilitas politik demo - kra tik untuk memilih pemim - pin yang bisa melakukan dua te - ro bosan sekaligus, meng hadirkan in tegrasi sosial karena ke sa - maan cita-cita sebagaimana imagined community-nya Benn An - derson, sekaligus mendistribusikan kue keadilan dan kese jahtera an kepada seluruh masyarakat. Hal ini pen ting karena menurut Kurian(dalamWirutomo, 2012), negara Indonesia saat ini bisa di - bilang sedang ada dalam go longan usia yang “kritis” (usia 70-an tahun) di ma na pada masa se - perti ini pola in t egrasi koersif (pola-pola indok trinasi, kebi jakan penyeragaman) untuk mengintegrasikan bangsa harus dimini malkan dan justru yang lebih diperbanyak adalah integrasi yang bersifat fungsional (ke adilan, pemerataan dan kese jah te raan sosial) sebagai kon se kuen si dari karakter masyarakat yang semakin rasional dan kritis da - lam membaca situasi.

Dengan demikian pemilu tak ubahnya proses peng hakiman politik rakyat terhadap calon pe - mimpin dan wakil rak yat nya. Vox populi vox deihanya mung kin ber - makna secara po sitif jika pilihan politik rakyat le bih didasarkan pada pertimbangan yang rasional dan futuristik (mementingkan kelanjutan nasib bangsa). Memilih ber dasarkan bisikan nu rani dan kata hati ketimbang bisi kan uang atau karena kehen - dak primor dial-pragmatisme. Ujian de mo krasi pada 17 April ha rus kita menangkan dan ra ya - kan bersama-sama dengan kualitas pilihan politik yang ideal, pe - nuh martabat dan beradab. Se - lamat memilih!

UMBU TW PARIANGU
Dosen FISIP Universitas Nusa Cendana, Kupang













Berita Lainnya...