Edisi 16-04-2019
Max Havelaar, Sejarah, dan Pilpres


Beberapa minggu lalu, saya menjadi salah seorang pembicara dalam pemutaran dan diskusi film Max Have laar yang digagas kawan-ka wan di Uni versitas Airlangga (Unair).

Film ini mendapat peng hargaan dibeberapafes ti valfilmdunia, seperti Festival Film Teheran (1976), Festival Film Napels (1976), Festival Film Bodil Eropa (1981), dan film terbaik dalam Festival Film Denmark. Dengan prakarsa kawan-kawan Ma tahari So ciety, filmyangpernahdi la rang diIndonesiasampai1987inidi ta - yangkan kembali untuk per tama kalinya dalam Festival Seni Su ra - ba ya (FSS) pada 10 Juni 2008. Pemutaran film ini menjadi sangat signifikan mengingat ta - hun ini bangsa kita sedang me - lang sungkan sebuah ha jat an penting, yakni pemilihan DPR, DPD, DPRD, dan presiden.

Beberapa hari setelah pemilu, kita juga memperingati Hari Kartini. Film ini mengajarkan ba nyak hal mulai dari huma nis - me yang tidak mengenal ras, pe - nindasan di bawah bangsa sen - diri, dan kedahsyatan sebuah bu ku. Tulisan ini melihat secara sing kat konteks sejarahnya dan pelajaran apa yang bisa dipetik da ri nya, terutama dalam me - nyong song pemilihan presiden yang tinggal hitungan hari.

Max Havelaar dan Bupati Lebak

Film yang diadaptasi dari buku Max Havelaar ini paling tidak hendak menceritakan dua hal. Pertama, pertentangan an - ta ra Asisten Residen Max Ha ve - laar dengan Bupati Lebak Ra - den Adipati Karta Natanegara (seorang kepala wilayah Sunda yang terhormat dan ber pe nga - ruh karena keturunannya ting - gi). Sebagai asisten residen yang ba ru, sesaat setelah tiba di Rang kasbitung, Max Havelaar me lihat Lebak hidup dalam ke - sengsaraan dan kemiskinan ka - rena diperas oleh bupati dan ke - luarganya, terutama menantunya yang menjabat sebagai De - mang Parangkujang.

Dia me ni lai bupati telah melakukan pe me - rasan terhadap rakyat (kneve larijn). Cerita tentang Saijah dan Adin da, baik dalam buku mau - pun film, mewakili kesengsaraan rakyat di bawah Pe me rintah Belanda yang hidup da lam ke - miskinan dan kesengsara an. Kedua, Max Havelaar juga me nentang “Indische Baten”, sua tu keuntungan yang di nik - mati Belanda dari Sistem Ta - nam Paksa (Cultuurstelsel). Sis - tem yang diperkenalkan oleh van den Bosch tahun 1830 ini me wajibkan penduduk me - nye diakan sejumlah hasil bumi un tuk ekspor yang nilainya sama dengan pa - jak tanah. Menurut pra - kiraan, pen duduk harus me nye rahkan 2/5 dari hasil panen uta manya atau sebagai peng gan - tinya 1/5 dari waktu ker ja - nya dalam satu tahun.

Tulang punggung sistem ini adalah kaum bangsawan feodal sehingga posisinya yang lama ha rus dikembalikan agar pe nga - ruh mereka bisa dipergu nakan un tuk menggerakkan rak yat, mem perbesar produksi, dan men jalankan pekerjaan yang di - minta pemerintah. Ta hun 1860 keuntungan tanam pak sa 34% atau lebih dari se per tiga seluruh pendapatan negeri Belanda. Ke - untungan ini di pa kai untuk membangun sistem perkere taapian, terusan laut uta ra, dan mem bayar utang nasional. “Bangsa kita membangun jaringan kereta api dengan uang curian,” kata Havelaar. Selain itu, van den Bosch men dorong para pegawai (ter - ma suk para bupati) untuk me - nyuk seskan perkebunan-per - ke bunan dengan merangsang mereka lewat sistem persentase.

Sistem ini memang efisien, tetapi menjadi sumber korupsi dan penyelewengan. Sistem ini dianggap sebagai legalisasi pe - me rintah kolonial terhadap se - gala macam pemerasan. Posisi Bupati Lebak yang am bigu sangat berkaitan de - ngan sistem pemerintahan kolonial Be landa yang me ne - rapkan sis tem pemerintahan tidak lang sung. Dalam diri bupati terjadi konflik peranan dalam person yang sama, yaitu sebagai pe ga wai Belanda dan sebagai kepala rakyat serta kepala keluarga. Sebagai pegawai Belanda, dia mem - peroleh gaji sebesar f700/ bu lan (tidak cukup sama sekali). Akan tetapi, se ba - gai pemimpin lokal, dia ha - rus menghidupi ±200 ang - gota keluarga, harus me ra ya - kan 4 hari raya Islam, karena pada saat peringatan ter sebut harus menyediakan berbagai macam hadiah, harus me nye - dia kan penginapan bagi per - wi ra Belanda yang me lak sa na - kan perjalanan dinas ke dae - rahnya.

Dalam jangka panjang, buku Max Havelaar memiliki pengaruh sangat kuat atas pendapat umum di negeri Belanda. Pro fe - sor Fasseur (Leiden University) misalnya, mengatakan seluruh negeri menggigil ketika mem - baca tentang penindasan yang berlangsung di Jawa ditulis da - lam buku itu. Salah satu paling terkenal di Indonesia adalah C.Th. van Deventer (perumus politik etis dan ahli hukum). Setelah membaca buku Max Ha - ve laar, dia memutuskan pergi ke Hindia Belanda ketika ber - usia 15 tahun. Pada 1899, van Deventer menerbitkan artikel dalam majalah De Gids “Een Ee - reschuld” (suatu utang ke hor - ma tan): “Negeri Belanda ber hu - tang pada bangsa Indonesia ter - hadap semua kekayaan yang te - lah diperas dari negara mereka”.

Pelajaran Berharga

Lalu, apa signifikansinya de - ngan pemilihan presiden yang sebentar lagi digelar? Pertama, film ini mengandung banyak pe la jaran, terutama contoh bu - ruk dari seorang pemimpin yang melakukan eksploitasi ter - hadap rakyatnya. Film diangkat dari realitas Indonesia pada abad ke-19 ini menjadi cermin be tapa rakyat setiap hari mem - banting tulang mencari peng hi - dupan yang layak harus jatuh mis kin dan melarat akibat pemim pin yang menjadikannya sapi perahan. Kedua, seorang pe mimpin seperti Max Ha ve laar tidak menjadikan ja ba tannya sebagai jalan untuk me nge ruk keuntung an sebesar-be sar nya dari rakyat yang dipimpinnya.

Sebaliknya, dia rela malam-malamnya diganggu oleh ma syarakat yang hendak me la por kan pe - nin dasan yang terjadi. Ketiga, film ini menyadarkan kita be ta - pa banyak calon pe mim pin yang berlindung di balik keluguan rakyat. Alih-alih memper juangkan kese jah te ra an rakyat, ba - nyak pemimpin justru me man - faat kan rakyat yang dipimpinnya untuk mengeruk kekayaan sebesar-besarnya. Keempat, film ini juga mem - perlihatkan se jumlah pesta dan jamuan kepada pejabat yang da - tang ke daerah menjadi salah satu pintu masuk terjadinya banyak prak tik korupsi. Sebuah kenyataan yang sangat mudah ditemui saat ini. Semoga Pemilu 17 April 2019 melahirkan pe - mim pin yang amanah dan ber - pihak pa da rakyat.

SARKAWI B HUSAIN
Penikmat Film dan Pengajar di Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga







Berita Lainnya...