Edisi 16-04-2019
IMF Kembangkan Kebijakan Baru Mitigasi Risiko


JAKARTA–International Mo netary Fund (IMF) me ngembangkan sebuah kerangka kerja kebijakan baru yang di namakan Integrated Policy Framework (IPF) guna memitigasi risiko, meningkatkan resiliency, dan mengimple men tasikan ke bijakan untuk mendorong pertumbuhan inklusif serta berkesinambungan.

Kerangka kerja kebijakan baru itu mempertimbangkan interaksi an ta ra kebijakan mo ne ter, nilai tu kar, ma kro pru den sial, dan capital flows ma na gement. Gubernur Bank Indonesia Per ry Warjiyo pun menyambut ren cana IMF menyusun ke rang - ka kerja kebijakan terinte gra si yang merupakan wujud respons IMF terhadap masukan dari ber bagai negara ber kem bang ter uta ma Indonesia. Hal ini me - nge muka dalam per te muan Mu sim Semi Dana Mo ne ter In - ter na sio nal dan Bank Du nia (IMF-World Bank) 2019 yang berlangsung di Wa shing ton DC, Amerika Se ri kat, pada 11-13 April 2019. Menurut Perry, Indonesia su dah lama menyuarakan me - nge nai pentingnya bauran ke - bijakan terutama bagi small open eco nomy dalam meng ha da pi vo - la tilitas perekonomian glo bal.

Masukan itu secara ko n sis ten dikemukakan Indonesia di te - ngah saran kebijakan IMF da lam menghadapi volatilitas glo bal yang cenderung me nge de pan - kan pendekatan meng gu na kan instrumen tra di sio nal, seperti suku bunga dan nilai tukar. “Langkah IMF menyusun ke rangka kerja kebijakan ter in - tegrasi tersebut adalah sebuah kemajuan yang merupakan per kembangan baik bagi In do - nesia dan negara small open eco - nomy lainnya,” ujar Perry di Wa - shing ton waktu setempat. BI juga mendorong IMF agar terus memperdalam studi me - ngenai spillover akibat pe nga - ruh ketegangan per da ga ngan, misalkan dampaknya ter hadap rantai nilai global atau global value chain. Pertemuan tersebut juga menyoroti perlambatan eko - no mi global dan upaya me ng - ata si nya. Pertumbuhan global di per ki rakan turun dari 3,6% pada 2018 menjadi 3,3% pada 2019, sebelum akhirnya kem - bali me lanjutkan momentum positif menjadi 3,6% pada 2020.

Per ekonomian global di - perkirakan tetap ekspansi, walau ekspansi ter sebut lebih le - mah diban ding kan perkiraan pada Ok to ber 2018. “Pertumbuhan dunia memang diperkirakan membaik pada 2020, namun berbagai risiko tetap mengancam antara lain berupa ketegangan per da - ga ngan, ketidakpastian kebi jakan, risiko geopolitik, pe ngetat an kondisi keuangan di te - ngah terbatasnya ruang ke bi ja - kan, tingginya tingkat utang, dan meningkatnya kerentanan di sektor keuangan,” kata dia.

Kunthi fahmar sandy