Edisi 16-04-2019
Utang Luar Negeri Indonesia Naik 8,8%


JAKARTA –Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir Februari 2019 se be sar USD388,7 miliar atau setara Rp5.441,8 triliun (Rp14.000 per dolar Amerika Serikat).

Utang luar negeri ini terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar USD193,8 miliar serta utang swasta termasuk BUMN se besar USD194,9 miliar. Secara tahunan, ULN Indonesia tum - buh 8,8% dibandingkan tahun lalu (year on year/YoY) pada Februari 2019 meningkat di ban - dingkandengan7,2%(YoY) pada bulan sebelumnya. Direktur Eksekutif Depar - temen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengatakan, pe - ningkatan pertumbuhan ULN tersebut terutama bersumber dari pertumbuhan ULN peme - rintah.

Tercatat ULN peme rin - tah meningkat pada Februari 2019 untuk membiayai sektorsektor produktif. “Posisi ULN pemerintah pada Februari2019sebesarUSD190,8 miliar atau tumbuh 7,3% (YoY), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnyasebesar3,9%(YoY),” kata Onny di Jakarta, kemarin. Pertumbuhan ULN peme rin - tah tersebut terutama dipe - ngaruhi arus masuk dana inves - tor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) do mes tik selama Februari 2019, yang menun juk - kan peningkatan kepercayaan investor asing terhadap per - ekonomianIndonesia.

Selainitu, pada Februari 2019, peme rintah juga menerbitkan Global Sukuk untuk mendukung pem biayaan fiskal dalam kerangka Green Bond dan Green Sukuk. Menurut dia, masuknya alir - an dana ULN pada peme rin tah memberikan kesempatan lebih besar bagi pembiayaan belanja negara dan investasi peme rintah. Sektor-sektor prioritas di biayai melalui ULN pemerin tah me - rupa kan sektor produk tif yang mendukung pertumbuhan ekonomi serta peningkatan ke - sejahteraan masyarakat, antara lain sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial, sektor kon - struksi, sektor jasa pendidikan, sektor administrasi pemerintah, perta han an, dan jaminan sosial wajib, serta sektor jasa keuangan dan asuransi.

Sementara ULN swasta pada Februari 2019 se - besarUSD1,3miliaratautum buh sebesar 10,8% (YoY), relatif stabil dibandingkan dengan pertum - buh an pada bulan se belumnya. “ULN swasta sebagian be sar dimiliki sektor jasa ke uang an dan asuransi, sektor indus tri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas (LGA), serta sektor pertambangan dan penggalian,” ungkapnya. Pangsa ULN di empat sek tor ter sebutterhadaptotalULNswasta mencapai 74,2%. Dia me nutur - kan, struktur ULN Indonesia te - tap sehat. Kondisi itu tercermin antara lain dari rasio ULN Indo - nesia terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat 36,9% pada akhir Februari 2019, relatif tidak banyak berubah dari bulan sebelumnya dan masih berada di kisaran rata-rata negara peers.

Ke depan, Bank Indonesia dan pemerintah terus berkoor dinasi memantau perkembangan ULN dan mengoptimalkan perannya dalam mendukung pembiayaan pembangunan dengan meminimal isasi risiko yang dapat memengaruhistabili tas perekonomian. Ekonom BNI Ryan Kir yanto memandang, hal itu tidak jadi soal jika berlaku syarat di anta r anya pertama, suku bunga rendah dan dalamjangkapan jang. Kedua, me - mungkinkan bagi RI selaku de - bitor untuk melakukan reprofiling ULN atau merestrukturi sasi ULN dalam kondisi tertentu. Ke tiga, ULN untuk pembiayaan produk - tif atau pembangunan termasuk pendanaan infra struktur.

Kunthi fahmar sandy