Edisi 16-04-2019
Neraca Perdagangan Surplus USD540 Juta


JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia meng alami surplus sebesar USD540 juta pada Maret 2019. Hal ini disebabkan ekspor Indonesia pada Maret 2019 mencapai USD14,03 miliar, sedangkan impor sekitar USD13,49 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, kondisi surplus di topang nilai ekspor nonmigas sebesar USD988,6 juta. Se dangkan nilai ekspor migas berada pada kondisi defisit dengan nilai USD448,4 juta. “Jika melihat capaian ini tentu lebih baik dibanding Februari 2019 yang surplusnya sebesar USD330 juta. Namun, jika mem ban ding - kan nya dengan tahun lalu pada periode sama Maret 2018, nilai ekspor menurun sebesar 10,1%,” ujarnya di Jakarta, kemarin. Suhariyanto menjelaskan, neraca perdagangan mengalami surplus dipengaruhi me - ningkatnya ekspor nonmigas pada Maret 2019 dibandingkan Februari 2019.

Peningkatan eks por nonmigas terjadi pada ba han bakar mineral senilai USD401,3 juta (24,21%), sedang kan penurunan terbesar ter jadi pada ekspor barang-ba - rang perhiasan/permata de - ngan nilai USD31,8 juta (4,84%). “Selain ekspor yang me ning - kat, sejumlah komoditas me - mang mengalami kenaikan harga dari Februari ke Maret 2019. Misalnya, harga seng, har ga karet, harga nikel, dan har ga tembaga. Sebaliknya, har ga komoditas yang meng - alami penurunan yakni minyak sawit, cokelat, karet, dan batu bara,” tuturnya.

Namun begitu, secara ku mu latif neraca perdagangan pada kuartal I/2019 (Januari- Maret) mengalami defisit se be - sar USD193,4 juta dibanding pe riode sama tahun lalu. Tahun lalu, neraca perdagangan ku - mu latif tercatat mengalami sur - plus USD314,4 juta. Menurut Su hariyanto, penyebab defi sit - nya neraca perdagangan secara kumulatif pada kuartal per ta - ma tahun ini karena sektor mi - gas mengalami defisit sebanyak USD1,34 miliar. Sedangkan non migas hanya surplus sebe - sar USD1,15 miliar. Dia beralasan menilai de fi - sit nya neraca perdagangan pe - riode Januari-Maret 2019 lebih disebabkan situasi berlan jut - nya gejolak ekonomi global. Kon disi tersebut membuat ne - gara-negara tujuan ekspor RI mengalami perlambatan.

“Tapi, Alhamdulillah, Maret 2019 ini kita surplus USD540 juta. Kita berharap bulan-bulan ke depan me ngalami surplus, apalagi pe - me rintah sudah membuat ber - bagai kebijakan untuk memacu ekspor dan berupaya mengen - da likan impor,” kata dia. Sementara itu, ekspor non - migas Indonesia pada Maret 2019 ke China, Amerika Seri kat, dan Jepang masing-masing mencapai USD1.973,0 juta, USD1.380 juta, dan USD1.173,8 juta dengan pe ning katan total ketiganya men ca pai 35%. Peningkatan ekspor non migas Maret 2019 jika di bandingkan dengan Februari 2019 terjadi ke semua negara tu ju an utama, yaitu China USD437,2 juta (28,47%), Je pang USD139,8 juta, serta Tai wan dan Amerika Serikat se be sar USD118,9 juta (55,77%) dan USD107,7 juta.

China masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai USD5,236 miliar pada periode Januari-Maret 2019 (14,12%) diikuti Amerika Seri - kat dengan nilai USD4,164 mi - liar (11,23%) dan Jepang senilai USD3,404 miliar (9,18%). Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perhubungan Carmelita Hartoto mengatakan, kondisi surplus neraca perdagangan ter jadi karena masih banyaknya pe kerjaan yang harus dise le sai - kan sebelum menjelang masa pemilu dan bulan puasa. “Jadi pemesanan bisa saja sudah di percepat untuk ekspor se hingga lebih bisa meningkat di banding sebelumnya. Kalau un tuk yang lain-lain masih seperti biasa saja berjalan. Misalnya sek tor konstruksi dan seba gai nya,” ungkap dia kepada KO RAN SINDO di Jakarta, kema rin.

Sementara itu, ekonom dari Center of Reform on Economic (Core) Mohammad Faisal me - nga takan, meski neraca per da - gangan surplus antara Maret dan Februari, tapi secara ku mu - latif (Januari-Maret 2019) ma - sih defisit dibandingkan kuar - tal sebelumnya. “Tapi, surplus Maret ini masih lebih baik di ban ding dengan Februari, bu kan hanya karena secara kuan titas lebih baik karena nilai sur plus nya juga meningkat, tetapi secara kualitas lebih baik sebab didorong oleh peningkatan eks - por,” ujarnya. Sedangkan dari sisi impor, ungkapnya, lebih banyak di do - rong peningkatan impor barang produktif, seperti mesin, per - alat an listrik, dan mekanik.

“Se - dangkan dari sisi barang kon - sumtif, ini lebih banyak dido - rong karena efek menjelang Ramadan,” katanya. Dia menambahkan, untuk ekspor nonmigas dinilai tum - buh lebih baik namun pen do - rong pertumbuhannya lebih ba - nyak karena ekspor barang tam - bang mengalami kenaikan. “Eks por barang tambang ini lebih banyak disebabkan oleh peningkatan harga ba rang tambang, seperti batu bara dan golongan bi jih, kerak, serta abu lo gam. Sedangkan di sisi mi gas, harga minyak yang naik dan harga gas yang turun mampu mendorong defisit, tetapi terto - long oleh tingginya volume eks - por peng adaan gas yang tajam,” kata dia.

Ichsan amin