Edisi 16-04-2019
Astra Agro Bagikan Dividen Rp648 M


JAKARTA –PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) membagikan dividen sebesar Rp648 miliar. Dividen tersebut diambil dari 45% laba bersih 2018 sebesar Rp1,44 triliun.

Perolehan laba bersih ini turun 26,9% dibandingkan laba ber sih tahun sebelumnya seba - gai dampak turunnya harga mi - nyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar dunia se pan - jang tahun 2018. “Meskipun demikian, pada periode tersebut perseroan men catat kinerja operasional po sitif di mana produksi CPO naik 18,5% menjadi 1,94 juta ton,” ujar Presiden Direktur PT Astra Agro Lestari Tbk Santosa seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Senin (15/4). Menurut Santosa, kenaikan produksi minyak sawit per sero - an sepanjang 2018 itu ditopang oleh kenaikan produksi tandan buah segar (TBS) dari kebunkebun inti sebesar 4,42 juta ton atau meningkat sebesar 12,1% dibandingkan tahun 2017.

To - tal volume transaksi pembelian TBS, baik dari plasma/Kredit Ko perasi Primer Anggota (KKPA) maupun pihak ketiga me ningkat sebesar 29,5% men - jadi 5,15 juta ton pada 2018. Santosa menambahkan, pa - da segmen usaha penggemukan dan pembibitan sapi yang ter - integrasi dengan kebun kelapa sawit juga menunjukkan hasil po sitif. Sepanjang 2018, volu - me transaksi penjualan sapi per seroan adalah sebesar 10.230 ekor, tumbuh 268,6% di bandingkan tahun sebe lum - nya.Sedangkan jumlah anakan yang dihasilkan dari segmen pembibitan sapi perseroan se - besar 1.612 ekor, meningkat 130,9% dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, berdasarkan hasil RUPST perseroan, peme - gang saham menyetujui peng - guna an 45% laba bersih per - sero an sebagai dividen atau se - be sar Rp336 per saham dibagi - kan sebagai dividen tunai akan di perhitungkan dengan divi - den interim sebesar Rp112 per lem bar saham yang dibayarkan pada 19 Oktober 2018. “Sisa laba bersih dibukukan sebagai laba ditahan perseroan,” kata Santosa. Tahun ini perseroan meng - alo kasikan belanja modal (capi - tal expendeture /capex) sebesar Rp1,6 triliun hingga Rp1,7 tri - liun. Belanja modal tersebut tak jauh berbeda dengan tahun lalu. “Suka tidak suka, belanja modal Astra Agro tidak bisa menurun drastis,” kata Santosa. Informasi saja, pada tahun lalu total belanja modal per usa - haan perkebunan milik Grup Astra ini mencapai Rp1,6 trili - un.

Belanja modal AALI seba gi - an besar digunakan untuk me - melihara tanaman yang belum menghasilkan. Saat ini, kata San tosa, ada sekitar 17.000- 20.000 hektare (ha) tanaman yang belum menghasilkan. Perseroan tiap tahun juga melakukan penanaman kem - ba li (replanting ) terhadap ta - nam an kelapa sawit yang pro - duktivitasnya turun. Rata-rata, kata dia, tiap tahun perseroan me lakukan replanting lahan se - luas 4.000-6.000 ha. “Ada hitung-hitungannya replanting yang kami lakukan. Arealnya ha rus luas, sebab kalau terlalu kecil tidak efisien,” katanya. Menurut Santosa, belanja modal tersebut digunakan un - tuk membiayai replanting .

Be - lan ja modal juga akan diman - faat kan untuk perawatan infra - struktur, seperti jalan, jem bat - an, dan peralatan operasional di kebun. Sumber pendanaan be - lanja modal berasal dari kas in - ternal. “Tentu modal utama kami adalah internal cash flow ,” katanya. Jika kas tidak mencukupi, kata Santosa, AALI masih me - mi liki fasilitas pendanaan yang be lum digunakan. Dia menam - ba hkan, AALI memiliki kas in - ter nal lumayan besar, meski - pun tahun lalu laba AALI turun. Sementara itu, Wakil Pre si - den Direktur PT Astra Agro Les - tari Tbk Joko Supriyono me - nam bahkan, secara nasional hing ga tujuh tahun mendatang produksi CPO akan terus me - ning kat. Hal ini disebabkan ma - sih banyak tanaman belum ber - produksi optimum. Selain itu, ju ga karena banyak tanaman yang saat ini belum meng ha sil - kan.

“Oleh karena itu, diper lu - kan pasar ekspor baru. Selain itu, juga penyerapan CPO dalam negeri harus ditambah,” kata Joko Supriyono yang juga Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) ini. Diketahui, saat ini peme rin - tah telah menerapkan program bauran solar dengan biodiesel se besar 20% (B20%). Menurut Joko, kebijakan pemerintah ini su dah tepat karena dengan pro - gram ini bisa menambah pasar CPO.

Dampak lanjutannya, de - ngan program B20 ini bisa men - dorong kenaikan harga CPO dunia. Kendati demikian, Joko me minta agar pemerintah fo - kus terlebih dahulu pada pro - gram mandatori B20. “Jangan buru-buru B30, B50, atau B100. Sebaiknya kita fokus di B20 dulu sampai bisa berjalan sempurna,” katanya.

Sudarsono