Edisi 16-04-2019
Pertumbuhan Ekonomi Jangka Panjang Bisa Capai 6%


JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi jangka panjang di atas 6% bisa dicapai jika Indonesia mendorong investasi dan perbaikan neraca transaksi berjalan.

Kedua kebijakan ini terkait dengan kebijakan Bank Indonesia dalam stabilitas makro ekonomi, reformasi kebijakan fiskal, dan pendalaman sektor keuangan. Dosen Universitas Gadjah Ma da (UGM) Anggito Abi ma nyu da lam bukunya menga ta kan, apa bila ingin pertum buh an eko - nomi tinggi bersifat jang ka pan - jang, maka sumber uta ma yang jadi pemicu adalah inves tasi. Chi - na pernah men ca pai pertum buh - an ekonomi di atas 10% selama 10 tahun (2000-2010) yang ber sum - ber dari investasi dengan jumlah men capai 40% dari produk do - mestik bruto (PDB). Selain itu, China juga meng - alami surplus neraca transaksi berjalan.

Sementara ekonomi Indonesia mengalami penyakit struktural, yakni kenaikan investasi harus ditopang de - ngan impor barang modal se - hing ga menghambat ekspansi investasi. “Kalau mau investasi men datangkan akselerasi per - tum buhan ekonomi, maka ma - sa lah defisit transaksi berjalan ha rus dibenahi terlebih da hu - lu,” ujar Anggito dalam pe lun - cur an dan bedah buku “Me nyi - mak Turbulensi Ekonomi: Peng alaman Empiris Indo ne - sia” di kampus PPM Mana je - men, Jakarta, kemarin. Anggito mengungkapkan, saat ini Indonesia masih bisa tum buh sekitar 5% dari pe nge - luaran konsumsi rumah tang ga.

“Pertambahan pendu duk per tahun sebesar 2% secara oto ma - tis menambah tingkat kon sumsi rumah tangga,” kata dia. Investasi jangka panjang ter utama pada sektor infra - struk tur meningkatkan rasio inves tasi ke tingkat di atas 30% dari PDB Indonesia. Menurut dia, angka itu sebetulnya sudah mendekati rasio investasi di India, tetapi efisiensi investasi infrastruktur Indonesia cende - rung menurun. Anggito menuturkan, per - tum buhan ekonomi ting gi sa - ngat dibutuhkan untuk men - cip takan lapangan pe ker jaan dan sumber kepercayaan pela - ku ekonomi. Di sisi lain, APBN 2019 diperkirakan akan rawan pada perubahan meng ha dapi turbulensi ekonomi global dan domestik. Tur bu lensi itu saat ini sedang dan akan datang dari eksternal berupa faktor global serta dari internal berupa daya tahan ekonomi domestik.

“Tahun 2019 adalah tahun yang berat bagi perekonomian Indonesia. Setelah melalui ta - hun 2016 dan 2017 dengan re la - tif mulus, ekonomi Indonesia mulai mengalami ujian lagi di pertengahan tahun 2018 dan diperkirakan lebih berat pada tahun 2019,” ungkap Anggito. Mantan Gubernur Bank Indo nesia (BI) periode 2003- 2008 Burhanuddin Abdullah menuturkan, pemerintah dan DPR perlu mengubah keten tu - an defisit APBN yang saat ini di - batasi maksimal sebesar 3% setiap tahun fiskal berjalan. Pe - ngelolaan defisit APBN seha - rus nya lebih fleksibel dengan memperhatikan kebutuhan eks pansi belanja pemerintah. Menurut dia, defisit mak si - mal APBN sebaiknya dihitung se cara rata-rata dalam satu ta - hun pemerintahan, bukan se - tiap tahun fiskal berjalan.

“Jadi tidak dibikin dalam tahunan. Kalau tahun ini misalkan me - mer lukan, jadi stimulusnya di - hidupkan. Misal tahun ini lagi lesu nih, jadi 5% tahun depan kita kurangi jadi 4% tahun de - pan lagi jadi 4%. Jadi secara ke - seluruhan 3%,” ungkap dia. Burhan pun memandang lang kah seperti ini dirasa aman untuk investor global berin ves - tasi di Indonesia. Selain itu, pe - long garan ini juga dibutuhkan agarpemerintah leluasa mem be - rikan stimulus ke pereko no mi an. “Ini aman, tapi asumsinya pe me - rin tah Indonesia bisa hati-hati dan tetap disiplin fiskal,” tutur nya.

Kunthi fahmar sandy