Edisi 16-04-2019
Orkestrasi IoT ala Ericsson


SEBAGAI Senior Vice President & Group CTO Ericsson, Erik Ekudden bertanggung jawab menentukan arah kepemimpinan teknologi Ericsson Group.

Pada 2017, dia pindah ke Kista, Swedia, setelah hampir tujuh tahun bekerja di Kantor Ericsson di Santa Clara, California. Sekarang Erik memaparkan rencana-rencana besar Ericsson di bidang artificial intelligence (AI) dan internet of things (IoT). Berikut wawancaranya:

Apa yang Anda lakukan di Indonesia?

Saya bertemu konsumen, berbicara tentang Ericsson sebagai pemimpin 5G secara global. Kami memastikan bahwa stakeholder di Indonesia mengerti potensi 5G.

Hasilnya?

Mereka sangat tertarik untuk berdiskusi tentang masa depan IoT, termasuk as smart cities, smart manufacturing, smart transportation. Tentu saja ada juga kesempatan bisnis serta infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Kami memang masih belum berdiskusi soal strategi harga, tetapi saya yakin 5G nanti tetap akan terjangkau.

Apa yang berubah dengan adanya 5G?

4G adalah fondasi 5G. Karena itu, penting bagi 4G untuk memiliki platform yang baik sehingga bisa berjalan selaras dengan 5G. Baik konsumen maupun perusahaan akan merasakan langsung dampak kecepatan 5G, misalnya mengunduh video jadi lebih cepat dan stabil. Tren 5G di sini akan berkembang dalam 3- 10 tahun ke depan. Ke depannya 5G juga kental hubungannya dengan AI, dengan apa yang kami sebut otomatisasi penuh tanpa sentuhan. Anda tidak perlu tahu apa yang salah karena semua telah berjalan secara otomatis. AI akan memberikan layanan terbaik mengikuti kebutuhan konsumen. Tren inilah yang akan kami dorong. Bagaimana Anda menggunakan AI dalam lima tahun mendatang bersama IoT.

Di laporan Ericsson, perusahaan menargetkan bisa menyentuh 40% populasi dunia pada 2024, apakah Indonesia satu di antaranya?

Saya rasa demikian.

Seberapa besar investasi Ericsson?

Sejak 2015, kami memiliki 3 juta perangkat radio yang siap 5G. Kami juga berambisi mendapatkan market share besar di pasar 5G.

China, Eropa, dan Jepang berkompetisi sengit di 5G. Bagaimana persaingannya, terutama dengan perusahaan dari Tiongkok?

Teknologi adalah fenomena dan skala global. Karena itu, penting bagi Ericsson untuk mendapat kepastian. Kami hadir di setiap bagian dunia. Khususnya 5G, kesempatan Ericsson di dunia masih besar. Ericsson memiliki kemampuan melayani konsumen di seluruh dunia.

Apa keunggulan Ericsson dibanding kompetitor?

Migrasi 4G ke 5G kami lebih unggul karena memiliki 3 juta perangkat radio yang siap diubah. Kami juga siap dengan spectrum sharing , bahkan teknologi cloud . Pada 2017, kami sudah memamerkan 5G di Indonesia. Teknologi Ericsson juga sangat maju, terutama untuk perusahaan, smart cities, smart manufacturing, smart transportation, dan smart logistics . Kesemuanya itu akan menjadi bagian besar dari Indonesia. Kami juga berupaya membuat IoT lebih fungsional. Tidak hanya menghubungkan sensor, tetapi juga menghubungkan antarsistem IoT. Contohnya, kami dapat menghubungkan pabrik, transportasi, bandara, pelabuhan, dalam satu sistem. Semua bersatu dan saling melengkapi seperti orkestrasi IoT.

Bagaimana dampak IoT bagi konsumen?

Banyak sekali, misalnya bagaimana kami bisa menggunakan IoT agar manusia bisa mendapatkan kemampuan baru, seperti remote teaching atau distant learning . Jadi, jika universitas bagus di Sumatera, misalnya, dan Anda ingin berinteraksi dengan dosen terbaik di sana, mereka bisa dengan mudah menggunakan alatnya. Bukan hanya untuk video conferencing , melainkan juga pengajaran yang memiliki feedback langsung, seperti mengajar sepak bola atau piano.

Apalagi setelah 5G nantinya?

Teknologi nirkabel selalu berevolusi. Setelah 5G, mungkin dalam lima tahun ke depan ada teknologi lain yang lebih cepat, lebih rendah latensinya, juga lebih baik dalam mengutilisasi spektrum. Pada masa depan, teknologi nirkabel akan menjadi fondasi dan kami menjadi pemimpin di situ.

Danang arradian