Edisi 16-04-2019
Berharap pada Imunoterapi


DALAM tiga tahun terakhir ini euforia terhadap imunoterapi memang besar sekali. Terutama ketika mantan presiden Amerika Serikat sembuh dari melanoma setelah mendapat PD-1 inhibitor. Sejak itu, obat ini mulai dicobakan ke berbagai jenis kanker.

“Tubuh memiliki sel T yang merupakan bagian dari darah putih. Darah putih ini tugasnya melawan musuh, inilah tentara dalam tubuh, tentara yang kita miliki,” ujar dr Jeffry B. Tenggara, SpPD, KHOM, konsultan Hematologi dan Onkologi Medik dari MRCCC Siloam Hospitals. Sel darah putih punya banyak komponen, seperti limfosit, basofil, fagosit, dan lainnya. Komponen yang berperan dalam melawan kanker adalah sel limfosit T dan NK cell. Tetapi, terkadang kekebalan kita tidak cukup kuat melawan kanker. Kanker tumbuh perlahan dan pada awalnya kekebalan tubuh manusia bisa membasmi sel kanker sebelum berkembang lebih lanjut. Seiring waktu, sel kanker bertumbuh semakin cepat hingga kekebalan tubuh tidak bisa lagi mengimbangi pertumbuhan kanker.

Beberapa jenis kanker juga memiliki mekanisme untuk menghancurkan sel limfosit T. “Jadi, prinsip imunoterapi ini memanfaatkan mekanisme kekebalan sel-sel tubuh kita sendiri untuk melawan kankernya,” kata dr Jeffry. Ada beberapa macam metode imunoterapi, yaitu checkpoint inhibitors, cytokine induced killer cell (CIK), dan vaksin. Saat ini immunoterapi yang sudah banyak dipakai adalah check point inhibitor yang salah satunya anti PD-1. Mekanisme kerja dari anti- PD1 ini adalah mencegah kematian sel limfosit T akibat proses perusakan kanker. PD-1 merupakan bagian dari sel T limfosit yang bertugas menginduksi program pematian sel, dalam hal ini sel kanker.

Secara alamiah, tubuh memiliki mekanisme meredakan PD-1 karena bila aktivitasnya berlebihan, justru bisa menimbulkan dampak buruk bagi tubuh. Itu sebabnya, beberapa sel tubuh dirancang memiliki PD-L1 dan PD-L2. Bila PD-1 berikatan dengan ligan PD-L1 atau PDL2, sel T menjadi tidak aktif sehingga tidak muncul reaksi berlebihan yang tidak diperlukan. Sayangnya, mekanisme ini berhasil ditiru oleh sel kanker tertentu. Beberapa jenis kanker juga mengembangkan ligan PD-L1 dan/atau PD-L2 pada permukaannya sehingga mampu meredam aktivitas sel T. Sel kanker memang sangat pintar. Ini adalah salah satu caranya menyembunyikan diri dari kejaran sistem imun. Tidak semua kanker memiliki PD-L1. Karenanya, tidak semua kanker bisa diterapi dengan anti PD-1.

Kanker paru-paru jenis karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK) atau non-small cell lung cancer (NSCLC), kanker kulit jenis melanoma maligna, dan kanker ginjal termasuk yang memilikinya sehingga bisa diterapi dengan anti PD-1. Hadirnya anti PD-1 memberikan pilihan terapi lebih banyak bagi pasien kanker paru-paru dengan efikasi yang baik.

Sri noviarni